Robot humanoid membutuhkan baterai; mimpi AI masih tetap menjadi kenyataan yang jauh.
Robot humanoid berkembang pesat berkat AI, tetapi masa pakai baterai yang lemah, biaya operasional yang tinggi, dan keterbatasan fisik dapat menghambat perkembangan industri ini selama satu dekade lagi.
Báo Khoa học và Đời sống•24/05/2026
Robot humanoid digadang-gadang sebagai "bagian terakhir" untuk membawa kecerdasan buatan ke dunia nyata, tetapi di balik video demo yang mengesankan dari Tesla atau Boston Dynamics terdapat masalah yang jauh lebih serius: baterai menjadi hambatan terbesar yang mencegah industri bernilai triliunan dolar ini bergerak menuju komersialisasi skala besar. Sementara dunia teknologi terus-menerus membicarakan tentang mobilitas, ketangkasan, dan kecerdasan buatan (AGI) secara umum, masa pakai baterai robot humanoid hampir sepenuhnya diabaikan, padahal ini adalah faktor penentu apakah sebuah mesin dapat bekerja seperti manusia di lingkungan dunia nyata. Robot canggih seperti Optimus atau Figure F.03 hanya dapat membawa baterai sekitar 2,3 kWh karena peningkatan berat baterai akan menyebabkan tubuh robot menjadi tidak seimbang, mengonsumsi lebih banyak energi, dan menyulitkan robot untuk mempertahankan gerakan yang stabil dalam jangka waktu yang lama.
Tidak seperti manusia, yang telah berevolusi selama ratusan juta tahun untuk mengoptimalkan gerakan biologis, robot bipedal harus menggunakan motor secara terus menerus untuk menjaga keseimbangan, melawan gravitasi, dan mempertahankan setiap langkah, sehingga mengakibatkan konsumsi daya yang jauh lebih tinggi daripada yang dibayangkan kebanyakan orang. Di lingkungan pergudangan atau jalur perakitan industri, robot tidak hanya berjalan tetapi juga harus mengangkat benda berat, berbelok, menangani tabrakan, dan bereaksi secara real-time, menghasilkan puncak beban daya hingga 2.500-3.000W—tingkat yang sangat menuntut bagi baterai lithium yang tersedia secara komersial saat ini. Hal yang mengkhawatirkan adalah angka masa pakai baterai yang dipublikasikan seringkali hanya ideal untuk operasi beban ringan, sementara pada kenyataannya banyak robot harus kembali ke stasiun pengisian daya setelah hanya sekitar 30 menit hingga beberapa jam beroperasi untuk mempertahankan tingkat baterai yang aman, yang menyebabkan peningkatan biaya operasional dan waktu henti. Selain masa pakai baterai, masa pakai siklus pengisian daya juga menjadi "mimpi buruk" baru bagi industri robotika. Sebuah mesin yang bekerja dua shift sehari dapat menghabiskan ratusan siklus baterai hanya dalam satu tahun, memaksa bisnis untuk terus-menerus mengganti baterai, melakukan kalibrasi, dan menerima ribuan jam waktu henti produksi setiap tahunnya. Meskipun banyak perusahaan sedang bereksperimen dengan robot yang dapat mengganti baterai sendiri, mengintegrasikan baterai ke dalam kerangka tubuhnya, atau menunggu terobosan dari baterai solid-state dari Toyota atau BYD, para ahli masih percaya bahwa agar robot humanoid benar-benar dapat bekerja selama 8 jam penuh seperti manusia, industri ini mungkin membutuhkan hampir satu dekade lagi untuk mengatasi keterbatasan fisik teknologi baterai saat ini.
Komentar (0)