| Elektrolisis air laut dapat menjadi metode bebas karbon untuk memproduksi semen dan bahan bangunan lainnya. (Sumber: Universitas Northwestern) |
Menurut laporan tersebut, industri semen saat ini menyumbang sekitar 8% emisi CO₂ global, menjadikannya sumber emisi terbesar keempat di dunia , terutama karena pengambilan bahan baku dari pegunungan, sungai, dan dasar laut.
Menghadapi situasi ini, para peneliti di Northwestern University (AS), bekerja sama dengan departemen inovasi Cemex Cement Group di Swiss, mengembangkan jenis semen yang lebih ramah lingkungan. Mereka menggunakan elektrolisis air laut (metode pemisahan molekul air menggunakan listrik) untuk menghasilkan hidrogen, klorin, oksigen, dan terutama kalsium karbonat (CaCO₃), bahan utama untuk semen.
Dalam percobaan tersebut, tim merendam elektroda dalam air laut, menyesuaikan tegangan, dan menyuntikkan CO₂ dengan kecepatan dan volume yang berbeda untuk mengontrol pH. Penyesuaian yang tepat ini memungkinkan pengendalian volume, komposisi kimia, dan struktur kristal CaCO₃, sehingga menghasilkan mineral dengan porositas atau kepadatan yang bervariasi. Namun, laju elektrolisis saat ini masih terlalu lambat untuk memenuhi permintaan industri. Oleh karena itu, tim peneliti terus menyelidiki mekanisme pembentukan mineral selama elektrolisis dan bagaimana meningkatkan produksinya.
Penemuan ini membuka prospek untuk menyesuaikan proses elektrolisis guna menghasilkan berbagai mineral dan agregat untuk industri konstruksi. Jika dilakukan menggunakan listrik dari sumber energi terbarukan, proses ini tidak hanya akan membantu menetralkan karbon tetapi juga berkontribusi mengurangi jumlah CO₂ di atmosfer.
Sumber: https://baoquocte.vn/san-xuat-xi-mang-xanh-311511.html






Komentar (0)