Menurut draf tersebut, lembaga pengelola dan administrator grup bertanggung jawab atas konten yang diposting, memiliki kewajiban untuk mengontrol anggota, segera menghapus konten yang melanggar hukum, dan bekerja sama dengan pihak berwenang bila diperlukan verifikasi. Anggota grup harus mematuhi peraturan hukum; mereka tidak boleh memposting, membagikan, atau mengomentari konten yang melanggar kehormatan, martabat, atau reputasi individu atau organisasi.
Identifikasi dan otentikasi elektronik pengguna media sosial dianggap sebagai solusi penting untuk mengekang proliferasi akun anonim dan palsu, yang telah dan terus menjadi sumber informasi yang salah, distorsi, dan penghinaan terhadap orang lain.
Praktik terkini menunjukkan bahwa banyak halaman dan grup di media sosial memposting artikel anonim, menyebarkan informasi yang tidak terverifikasi, cerita palsu, spekulasi, atau komentar yang secara keliru menuduh individu atau organisasi melakukan kesalahan. Dalam banyak kasus, beberapa postingan secara beruntun menargetkan individu atau peristiwa tertentu, menciptakan kecurigaan publik sebelum kesimpulan resmi diambil oleh pihak berwenang yang berwenang; sehingga merusak reputasi dan kehormatan orang lain.
Baru-baru ini, terkait penerimaan mahasiswa doktoral di sebuah universitas, beberapa unggahan di media sosial mengklaim ada "tanda-tanda kecurangan dalam proses penerimaan." Sementara itu, menanggapi media resmi, perwakilan universitas menegaskan bahwa mereka telah meninjau seluruh proses; menetapkan bahwa penerimaan dilakukan sesuai dengan peraturan; bahwa peraturan penerimaan pascasarjana tersedia untuk umum; dan bahwa proses penerimaan mematuhi peraturan hukum. Meskipun universitas telah mengeluarkan tanggapan resmi, reputasi universitas dan beberapa individu yang diserang telah sedikit terpengaruh oleh tuduhan yang tidak terverifikasi di media sosial ini.
Media sosial telah menjadi bagian integral dari kehidupan sosial, dan risiko masalah yang semakin kompleks dan tidak terduga yang muncul akibat kurangnya mekanisme kontrol yang tepat semakin meningkat. Penggunaan akun palsu atau tidak terverifikasi untuk pencemaran nama baik, hasutan, dan manipulasi menciptakan lingkungan informasi yang tidak sehat, mencemari ruang daring, mendistorsi persepsi pengguna, menyebabkan kerugian serius bagi individu dan organisasi, dan berdampak negatif pada kepercayaan sosial. Dalam konteks transformasi digital yang cepat, pengelolaan dunia maya bukan hanya tentang mengadvokasi kepatuhan budaya. Peningkatan kerangka hukum, penguatan langkah-langkah teknis, peningkatan tanggung jawab pengguna, dan implementasi mekanisme identifikasi dan otentikasi pengguna sangat diperlukan dan harus segera diimplementasikan untuk membangun lingkungan daring yang berbudaya dan beradab.
Sumber: https://baophapluat.vn/siet-ky-cuong-khong-gian-mang.html






Komentar (0)