
Sistem rudal Crotale adalah salah satu sistem Pertahanan Udara Jarak Pendek (SHORAD) canggih Prancis, yang dikembangkan oleh Thomson-Houston (sekarang Thales Group).

Dirancang untuk menangkal ancaman seperti rudal jelajah, rudal anti-kapal, helikopter, UAV, dan jet tempur yang terbang rendah, rudal Crotale telah menjadi salah satu sistem pertahanan udara utama bagi banyak negara.

Berdasarkan informasi dari Army Technology, Missilery.info, Topwar.ru, dan Pvo.guns.ru, aspek teknologi utama dari sistem rudal Crotale meliputi desain, kinerja, kemampuan manuver, dan versi yang telah ditingkatkan.

Sistem rudal Crotale dikembangkan mulai tahun 1964 atas permintaan angkatan bersenjata Afrika Selatan, dengan tujuan menciptakan sistem pertahanan udara bergerak dan segala cuaca yang mampu menghancurkan target terbang rendah.

Proyek ini dikerjakan oleh Thomson-Houston (sekarang Thales Group), dengan 85% dari biaya pengembangan didanai oleh Afrika Selatan. Setelah selesai, sistem ini mulai digunakan di Afrika Selatan dengan nama 'Cactus' pada tahun 1971. Namun, kinerja rudal Crotale yang mengesankan meyakinkan angkatan bersenjata Prancis, sehingga Prancis mengadopsi sistem tersebut untuk angkatan udara dan angkatan lautnya.

Tujuan desain utama rudal Crotale adalah untuk menyediakan sistem pertahanan udara jarak pendek yang fleksibel dan mampu melindungi unit militer atau infrastruktur penting dari ancaman udara, khususnya target yang terbang rendah dan sangat lincah.

Sistem rudal Crotale terdiri dari dua komponen utama: unit akuisisi dan unit penembakan, yang ditempatkan pada platform bergerak atau tetap. Crotale menggunakan radar Doppler pulsa pita S dengan kemampuan penanggulangan elektronik (ECCM), yang memungkinkan deteksi dan pelacakan target udara secara akurat.

Radar ini memungkinkan deteksi target yang cepat dalam waktu 6 detik sejak deteksi hingga peluncuran rudal, menunjukkan kemampuan respons yang sangat cepat. Sistem IFF (Friend or Foe Identification) terintegrasi membantu membedakan antara target musuh dan target kawan, mengurangi risiko tembakan salah sasaran.

Pusat kendali Crotale mampu mengkoordinasikan beberapa unit peluncuran, biasanya termasuk unit akuisisi target dan dua atau tiga unit peluncuran. Sistem pengendalian tembakannya sangat otomatis, memungkinkan penargetan simultan terhadap beberapa sasaran.

Rudal Crotale EDIR (Ecartométrie Différentielle InfraRouge) menggunakan sistem panduan inframerah dan radar, sehingga mampu menghancurkan target terbang rendah seperti rudal anti-kapal dan pesawat terbang. Versi Crotale NG (Next Generation) yang telah ditingkatkan menggunakan rudal VT-1, dengan jangkauan 11 km (beberapa versi menggunakan rudal Mk3, memperluas jangkauan hingga 16 km).

Rudal ini memiliki kecepatan supersonik dan kemampuan manuver yang tinggi, menciptakan zona tanpa jalan keluar hingga 15 km untuk target yang sangat mobile. Rudal VT-1 dirancang untuk melawan berbagai macam target, mulai dari rudal taktis, helikopter, dan UAV hingga pesawat yang menggunakan senjata serang jarak jauh.

Crotale dipasang pada kendaraan beroda 4x4 (seperti P4R buatan Hotchkiss et Cie) atau platform beroda rantai untuk meningkatkan mobilitas pasukan darat. Mobilitas ini memungkinkan sistem untuk dikerahkan dan dipindahkan dengan cepat antar lokasi.

Crotale Naval (versi angkatan laut) dirancang untuk melindungi kapal perang dengan bobot lebih dari 2.000 ton, dengan kemampuan untuk menghancurkan pesawat terbang rendah dan rudal anti-kapal. Sistem ini telah diintegrasikan ke dalam banyak jenis kapal perang Prancis dan negara-negara lain.

Sistem Crotale telah banyak digunakan di angkatan bersenjata banyak negara, termasuk Prancis, Afrika Selatan, Arab Saudi, dan baru-baru ini dalam konflik Ukraina. Contoh yang menonjol adalah pada akhir tahun 2022, Ukraina menerima dua peluncur Crotale NG dari Prancis, dan sistem tersebut mencatat keberhasilan intersepsi rudal Rusia pertamanya pada tahun 2023. Hal ini menunjukkan kemampuan adaptasi Crotale dalam skenario pertempuran modern.



Sumber: https://khoahocdoisong.vn/suc-manh-ten-lua-ban-ha-moi-uav-phap-vien-tro-cho-ukraine-post2149043691.html








Komentar (0)