Bulan Mei selalu terasa sebagai bulan yang terburu-buru, membawa serta suara yang sangat unik. Suara jangkrik yang menandai datangnya musim panas, gemerisik kertas ujian, dan desahan cemas para orang tua. Mei membuka pintu menuju musim ujian yang sibuk, tetapi juga menabur kekhawatiran yang tak terhitung jumlahnya di hati orang tua saat musim panas mendekat.
Bagi para siswa, bulan Mei adalah tonggak penting yang sakral sekaligus menegangkan. Di belakang mereka terbentang bulan-bulan belajar dengan tekun, dan di depan terbentang pintu menuju babak baru dalam hidup mereka. Di seluruh sekolah, suasana persiapan ujian lebih intens dari sebelumnya. Tumpukan tebal kertas ujian, rumus-rumus dalam Matematika, Fisika, dan Kimia, serta esai-esai panjang memenuhi pikiran para siswa berusia delapan belas tahun, dua puluh tahun, dan bahkan mereka yang berada di tahun terakhir sekolah menengah pertama.
Namun dalam perlombaan itu, anak-anak tidak pernah sendirian. Di balik lampu belajar larut malam, selalu ada kehadiran diam orang tua mereka. Para ibu khawatir, mengawasi makanan, tidur, dan tekanan musim ujian anak-anak mereka. Kekhawatiran mereka bukan hanya tentang nilai, tetapi yang lebih penting, tentang kesehatan dan kesejahteraan mental anak-anak mereka.








Komentar (0)