Pada tahun 1947, para penjual buku dari lima negara—Denmark, Prancis, Inggris Raya, Belanda, dan Swedia—berkumpul di Amsterdam “dengan tujuan menciptakan harapan baru untuk perdamaian internasional melalui pasar terbuka, mempromosikan persahabatan dan pengertian, serta melawan permusuhan dan kecurigaan yang disebabkan oleh Perang Dunia II.” Setahun kemudian, pada pertemuan kedua di Kopenhagen, Liga Internasional Penjual Buku Langka (ILAB) secara resmi didirikan.
Kemudian, pada tahun 1949, sekelompok 50 penjual buku Amerika bertemu dan sepakat untuk membentuk asosiasi buku antik mereka sendiri. Dari sinilah American Association of Antique Booksellers (ABAA) lahir, dan pameran buku antik pertama di Amerika berlangsung beberapa tahun kemudian pada bulan April 1960.
Hingga saat ini, pameran buku ini diadakan setiap tahun dan terus menarik pengunjung. Tahun ini, pengunjung masih berbaris panjang, melewati stan dari 174 peserta pameran dari seluruh dunia, mengagumi buku-buku langka, manuskrip, peta, dan artefak yang mencakup berabad-abad.
Jumlah total pengunjung mencapai 15.400 selama empat hari, dengan 2.400 orang hadir pada malam pembukaan saja. Jumlah pengunjung telah meningkat sebesar 62% dari tahun 2022 hingga 2026.
Daya tarik buku langka
Secara global, laporan menunjukkan bahwa pasar buku langka bernilai lebih dari 7 miliar dolar AS , dengan tingkat pertumbuhan yang diharapkan lebih dari 6% per tahun.
Pertumbuhan ini sebagian besar disebabkan oleh kontribusi kaum muda, terutama mereka yang berusia di bawah 35 tahun. Baik pembeli maupun penjual menunjuk pada alasan yang sama: kedewasaan di era digital telah memicu keinginan untuk memiliki barang-barang yang terhubung dengan masa lalu. Ada sesuatu yang istimewa tentang menyentuh sejarah dengan tangan sendiri.
Buku bukan hanya wadah informasi; buku memiliki kekuatan tersendiri. Memegang peta tahun 1482 yang memandu pelayaran Columbus, sepasang sepatu balet yang ditandatangani oleh penari dan koreografer Soviet brilian Rudolf Nureyev, atau buklet kecil dari gerakan Dada radikal Perang Dunia I membangkitkan kedekatan dengan sejarah yang tidak dapat diciptakan kembali secara digital.
Ben Houston, seorang perwakilan dari toko buku antik Peter Harrington Rare Books, menggambarkan mengoleksi buku langka sebagai "hal terdekat yang dapat kita lakukan dengan perjalanan waktu."
Saat ini, para kolektor juga mendiversifikasi tren koleksi mereka, menggabungkan buku dengan karya seni, dokumen arsip, bahan kertas, dan barang-barang lainnya. Sebelumnya, bahan kertas seperti tiket pesawat, kartu pos, selebaran, dan lain-lain, tidak dihargai. Namun saat ini, peran mereka telah diakui dan dianggap penting dalam memahami sejarah sosial dan politik pada masa itu.
Daylon Orr, pendiri Fugitive Materials, sebuah lembaga pengumpul koleksi yang khusus menangani sejarah LGBTQ+, feminisme, dan aktivisme sosial, mengatakan bahwa industri buku langka semakin fokus pada nilai historis. Fugitive Materials secara rutin menyediakan materi kepada universitas dan museum, membantu melestarikan sejarah dan berpotensi berfungsi sebagai sumber penelitian bagi para sarjana di masa depan.
![]() |
Pameran Buku Antik Internasional di New York. Foto: nyantiquarianbookfair. |
Membawa buku-buku langka kepada masyarakat umum.
Bisnis buku langka, yang secara tradisional didominasi oleh laki-laki, telah melakukan upaya yang signifikan untuk mendiversifikasi kliennya, terutama dalam beberapa dekade terakhir.
Sebagai contoh, salah satu duta perempuan dari New York Antique Book Fair adalah Meredith Graves, mantan vokalis utama band punk Perfect Pussy. Graves tidak hanya mempelajari dan mempraktikkan tradisi okultisme, tetapi juga telah menghabiskan bertahun-tahun mengumpulkan buku-buku tentang sihir, cerita rakyat, dan ilmu gaib.
Dia juga mengoleksi buku panduan tekstil, pola jahitan, dan instruksi merajut dari seluruh dunia. Dia menjelaskan, “Saya mengoleksi barang-barang yang bisa saya gunakan. Buku-buku saya harus hidup. Buku-buku itu bekas… Buku-buku itu adalah benda-benda yang hidup.”
Buku langka tidak hanya menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, tetapi juga tersebar luas berkat internet, di mana orang dapat dengan mudah mencari dan meneliti materi tentang buku langka.
Sementara itu, media sosial memperkenalkan audiens yang lebih muda kepada buku, arsip, dan objek yang mungkin belum pernah mereka ketahui sebelumnya.
Sebagai contoh, Jesse Paris Smith, putri dari musisi Patti Smith dan juga seorang musisi berbakat, adalah duta pertama dari American Antique Book Society. Koleksinya beragam: karya-karya penyair dan penulis, sejarah maritim, sejarah negara bagian Michigan, dan terutama dokumen-dokumen yang berkaitan dengan ibunya.
Dia menjelaskan, "Hal terpenting yang perlu diingat adalah karya-karya ini bukan milik Anda. Karya-karya ini dimaksudkan untuk dilestarikan. Anda memiliki tanggung jawab terhadapnya, untuk merawatnya, sama seperti banyak orang sebelum Anda dan semoga juga orang-orang setelah Anda."
Sumber: https://znews.vn/thi-truong-7-ty-usd-cua-sach-hiem-post1660365.html









