| Tuan Ly Van Vu memainkan seruling Hmong. |
Kecintaan pada seruling Hmong dan kehidupan yang penuh tantangan.
Meskipun buta sejak usia muda, Tuan Vu menolak untuk menyerah pada takdir. Terlahir dari keluarga miskin dan kehilangan kedua orang tuanya sejak dini, ia tinggal bersama kerabat. Hidupnya penuh dengan kesulitan, tetapi mimpinya selalu menyala terang: untuk melihat warna-warna dunia di sekitarnya dan bermain dengan teman-temannya.
Suatu hari, saat sedang duduk di rumah, ia terkejut mendengar suara seruling Hmong bergema dari kejauhan. Suara-suara itu membuatnya gelisah. "Bagaimana seseorang bisa memainkan seruling seperti itu? Bagaimana seseorang bisa membuat seruling yang menghasilkan suara seindah itu?" Pertanyaan itu terus bergema di benaknya.
Pada usia 18 tahun, ia diajari cara membuat dan memainkan khene (sejenis seruling bambu) oleh para pembuat seruling di desanya. Meskipun buta, Bapak Vu gigih belajar, dimulai dengan seruling pertamanya dan membuat banyak kesalahan hingga suara pertama terdengar sempurna. "Saya tidak pernah menyerah, meskipun banyak seruling yang rusak pada awalnya," ujarnya.
| Pak Vu membuat seruling Hmong. |
Suara seruling Hmong menghubungkan sepasang kekasih.
Pada usia 26 tahun, Bapak Vu masih belum menikah, yang membuatnya merasa minder di masyarakat. Namun, suara seruling bambulah yang mengubah takdirnya. Saat memainkan seruling di distrik Bao Lam, ia bertemu dengan Ibu Ma Thi Nhua, calon istrinya. "Seruling itu membantu saya menemukan pasangan hidup," cerita Bapak Vu.
Kehidupan keluarga tidaklah mudah, dengan empat anak kecil dan perjuangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, Bapak Vu menggunakan keahliannya membuat khene (sejenis seruling bambu) untuk menghidupi keluarganya. Setiap bulan, ia bisa membuat 4 hingga 5 khene, menjualnya dengan harga sekitar 1,5 juta dong per buah. Meskipun buta, ia tetap membuat khene dengan tangan dan membawanya ke pasar untuk dijual.
Pembuatan harmonika Hmong merupakan proses yang teliti. Bapak Vu menjelaskan: "Pertama, saya memilih bambu, tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda, lalu saya mengeringkannya. Selanjutnya, saya mengukir lubang untuk lidah kuningan – langkah terpenting, karena lidah menentukan suara harmonika." Setelah setiap harmonika selesai, ia dengan hati-hati menguji suaranya dan menyesuaikan lidah hingga sempurna.
Meskipun buta, tangan Bapak Vu sangat terampil, seolah-olah ada koordinasi sempurna dalam setiap gerakannya. Setiap khaen adalah sebuah karya seni, yang dijiwai dengan cinta dan dedikasinya terhadap budaya nasional.
| Meskipun buta, Tuan Vu tetap membuat seruling sendiri dan membawanya ke pasar untuk dijual. |
Seruling Hmong - Jiwa dari bangsa Hmong.
Bagi Bapak Vu, khèn (sejenis seruling bambu) bukan hanya alat musik. Ia adalah sahabat dekat, selalu berada di sisinya di saat suka maupun duka. Saat Tết (Tahun Baru Vietnam), festival, atau bahkan saat menikah, khèn selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan tersebut.
Ia berbagi: "Seruling Hmong adalah suara hati, jembatan antara dunia spiritual dan kemanusiaan. Suara seruling juga merupakan kegembiraan saat menyambut Tahun Baru, suara menyambut pengantin wanita ke rumah suaminya, dan sebuah pernyataan cinta."
Meskipun rambutnya mulai beruban, Bapak Vu masih ingin mewariskan kecintaannya pada seruling Hmong kepada generasi muda, agar budaya ini tidak lenyap. "Saya ingin seruling Hmong terbang lebih tinggi dan lebih jauh, sehingga generasi mendatang dapat melestarikan dan mempromosikannya," ungkapnya.
Mengucapkan selamat tinggal kepada Bapak Ly Van Vu, yang telah melestarikan "jiwa" kelompok etnis Mong di puncak Nghe Luong selama hampir 50 tahun, kami percaya bahwa suara serulingnya akan selamanya bergema, berkontribusi pada pemeliharaan dan pengembangan budaya Mong di dataran tinggi Cao Minh. Seruling itu tidak hanya mengundang wisatawan ke komune-komune utara provinsi Thai Nguyen tetapi juga menghubungkan orang-orang dengan alam, masa lalu, dan masa kini.
Sumber: https://baothainguyen.vn/van-hoa/202507/tieng-khen-mong-tren-dinh-nghe-luong-c1b18c9/






Komentar (0)