
Anak-anak mengagumi dan memilih dari berbagai macam patung tanah liat yang lucu. Foto: DANH THÀNH
Di Festival Tao Dan Chieu Anh Cac di distrik Ha Tien, sosok pengrajin tekun yang bekerja dengan adonan berwarna-warni menarik banyak penonton. Dengan tangan terampil dan beberapa alat sederhana, gumpalan adonan yang tak bernyawa secara bertahap diubah menjadi karakter dongeng, hewan-hewan unik, atau tokoh-tokoh familiar dari kehidupan sehari-hari. Nguyen Gia Han, seorang siswa kelas 4 SD Dong Ho di distrik Ha Tien, yang menyaksikan para pengrajin melakukan tugas mereka dengan saksama, tak dapat menyembunyikan kegembiraannya. Di tangannya ada kelinci yang baru saja dipahat dengan warna-warna cerah. “Saya suka patung-patung tanah liat karena terlihat sangat indah. Yang mengejutkan saya adalah Anda dapat memahat begitu banyak bentuk berbeda hanya dari segumpal adonan,” kata Han.
Banyak orang tua juga memanfaatkan kesempatan untuk mengajak anak-anak mereka mengalaminya. Mereka tidak hanya ingin anak-anak mereka memiliki mainan lain, tetapi juga berharap anak-anak mereka dapat mengenal keindahan budaya tradisional. Sambil menyaksikan anak-anak asyik dengan patung-patung tanah liat berwarna-warni, Ibu Le Thi Lan (62 tahun) - seorang turis dari Kota Can Tho - tersenyum saat kenangan masa kecilnya kembali terlintas. Menurut Ibu Lan, di masa lalu, patung-patung tanah liat adalah mainan yang umum di pasar dan pekan raya pedesaan. Anak-anak pada waktu itu dengan antusias berdiri di sekitar pembuat patung, menunggu untuk mendapatkan ayam, ikan, bunga, atau karakter favorit mereka. Seiring waktu, munculnya mainan teknologi menyebabkan patung-patung tanah liat secara bertahap menghilang. Banyak orang pernah khawatir bahwa kerajinan pembuatan patung tanah liat akan lenyap. "Dulu, mainan tidak sebanyak sekarang. Setiap kali ada pasar atau pekan raya tempat orang-orang menjual patung-patung tanah liat, anak-anak sangat gembira. Hanya mendapatkan ayam atau burung kecil dari orang tua mereka sudah cukup untuk mereka hargai sepanjang hari. Patung-patung tanah liat bukan hanya mainan; itu juga kenangan bagi banyak generasi," kenang Ibu Lan.
Duduk di tengah lingkaran anak-anak, pengrajin tò he (mainan tradisional Vietnam) Tiên Triệu hampir tidak memiliki waktu istirahat. Melalui gerakan terampilnya, segenggam adonan berwarna-warni dengan cepat berubah menjadi bentuk-bentuk yang hidup. Untuk membuat adonan yang lentur, lembut, dan lengket, pembuat tò he harus melalui banyak langkah yang teliti. Beras ketan dicampur dengan beras biasa dalam proporsi yang tepat, direndam dalam air, lalu digiling atau ditumbuk menjadi bubuk halus. Setelah diuleni secara menyeluruh hingga adonan lentur dan tidak lagi lengket, adonan direbus dan dibagi menjadi beberapa bagian untuk diwarnai dengan berbagai pewarna makanan.
Menciptakan produk jadi membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan latihan bertahun-tahun. Saat memahat tò he (patung-patung tradisional Vietnam yang terbuat dari adonan beras), koordinasi warna yang harmonis, bentuk yang seimbang, dan yang terpenting, menanamkan "jiwa" pada setiap karya sangatlah penting. Beberapa desain tò he sederhana hanya membutuhkan beberapa menit untuk diselesaikan, sementara karya yang lebih rumit membutuhkan lebih banyak waktu dan konsentrasi yang intens. "Setiap kali anak-anak mengamati dengan saksama dan bertanya bagaimana saya bisa memahatnya seperti itu, saya merasa sangat bahagia. Itu menunjukkan bahwa mereka peduli dengan budaya tradisional. Selama masih ada orang yang menyukainya, kerajinan ini masih memiliki kesempatan untuk bertahan. Namun, untuk melestarikan kerajinan ini, saya juga harus berinovasi, mempertahankan teknik tradisional tetapi tetap fleksibel dalam pembentukan," ungkap pengrajin tò he, Tien Trieu.
Saat ini, tò he (patung-patung tradisional Vietnam yang terbuat dari tepung beras) tidak hanya ditemukan di pasar-pasar pedesaan tetapi juga di festival dan daerah wisata. Perubahan ini telah memberi banyak orang, terutama anak-anak, kesempatan untuk lebih dekat dengan bentuk seni rakyat yang dulunya dianggap telah terlupakan. Menurut kepala Dinas Kebudayaan dan Urusan Sosial Kelurahan Ha Tien, selama bertahun-tahun, daerah tersebut secara konsisten mengundang para pengrajin tò he untuk berpartisipasi dalam festival dan acara budaya serta pariwisata. Ini adalah salah satu kegiatan yang bertujuan untuk memperkaya ruang festival, sekaligus menciptakan peluang bagi masyarakat, wisatawan, terutama generasi muda, untuk mengakses dan mengalami bentuk seni rakyat tradisional ini, yang berkontribusi pada pelestarian identitas budaya nasional.
Saat senja menyelimuti area festival, patung-patung tanah liat berwarna-warni masih tersusun rapi di atas nampan pengrajin. Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, mereka bagaikan fragmen kecil kenangan masa kecil, diam-diam menunggu untuk dihargai di tangan anak-anak. Karena ada nilai-nilai rakyat yang, meskipun tampak sederhana, tidak pernah lekang oleh waktu.
KOTA TERKENAL
Sumber: https://baoangiang.com.vn/to-he-van-doi-tre-tho-a489929.html









