"Setiap pagi saya membeli sayuran dari petani, tahu dari sebuah keluarga di desa, dan di banyak hari saya membeli ikan yang baru saja mereka tangkap dari sungai dan dibawa untuk dijual. Mereka semua adalah produsen skala kecil, menjual langsung kepada saya. Tidak ada faktur yang perlu dikeluarkan," ceritanya.

Menurut pemiliknya, ia sepenuhnya mendukung praktik bisnis yang transparan dan siap memenuhi semua kewajiban pajak kepada Negara. Namun, pada kenyataannya, banyak bahan makanan di restoran tersebut dibeli dari petani dan produsen skala kecil.

"Jika penjual tidak memiliki faktur, dari mana saya harus mendapatkannya untuk dilaporkan?" tanyanya. Namun, pemiliknya mengatakan bahwa, karena takut melanggar hukum, ia telah memecat empat dari lima karyawannya. Kedai bir tersebut kini hanya beroperasi pada tingkat minimal.

Pertanyaan yang diajukan oleh pemilik toko bir ternyata merupakan pertanyaan yang dihadapi oleh jutaan pemilik bisnis. Banyak yang bergumul dengan masalah ini: mereka membutuhkan faktur untuk mengajukan SPT pajak, tetapi faktur masukan tersebut sama sekali tidak ada.

Survei terbaru oleh VCCI (Kamar Dagang dan Industri Vietnam) menunjukkan bahwa sekitar 71% rumah tangga bisnis menghadapi kesulitan dalam mengumpulkan informasi untuk menerbitkan faktur; hampir 68% mengalami kesulitan dalam pencatatan pengeluaran; lebih dari 63% mengalami kesulitan memahami peraturan pajak; dan sekitar 62% bingung saat mengajukan SPT pajak.

Kekhawatiran mereka tidak hanya terbatas pada kewajiban pajak, tetapi juga mencakup waktu yang dibutuhkan untuk mempelajari peraturan baru, biaya mempekerjakan akuntan, investasi dalam perangkat lunak dan peralatan, serta risiko denda karena deklarasi yang salah.

Di balik statistik yang kering itu tersembunyi sebuah realitas: yang menghambat banyak bisnis bukanlah kewajiban pajak, melainkan kewajiban untuk mematuhi peraturan.