Selama bertahun-tahun, Kota Ho Chi Minh telah menjadi mesin ekonomi negara, memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan dan anggaran nasional. Namun, tanda-tanda stagnasi dalam model pembangunan tradisional – yang sangat bergantung pada modal, tenaga kerja, dan perluasan wilayah – menciptakan kebutuhan mendesak untuk menemukan kekuatan pendorong baru. Dalam konteks ini, sains, teknologi, inovasi, dan transformasi digital diidentifikasi sebagai pilar untuk fase pembangunan kota selanjutnya.
Pada seminar baru-baru ini yang berjudul "Transformasi Model Pembangunan Kota Ho Chi Minh ke Model Berbasis Sains , Teknologi, Inovasi, dan Transformasi Digital," yang diselenggarakan oleh Departemen Sains dan Teknologi Kota Ho Chi Minh, banyak pendapat yang menyatakan bahwa kota tersebut tidak dapat terus berkembang dengan cara lama jika ingin mempertahankan peran terdepannya dan bergerak menuju pembangunan berkelanjutan. Sebaliknya, dibutuhkan model baru, di mana pengetahuan, teknologi, dan data menjadi sumber daya utama.
Dalam seminar tersebut, Bapak Lam Dinh Thang, Direktur Dinas Sains dan Teknologi Kota Ho Chi Minh, menekankan bahwa sains, teknologi, dan inovasi harus dipandang sebagai fondasi inti pembangunan, bukan hanya bidang pendukung. Menurut Bapak Thang, kota ini perlu beralih secara signifikan ke model pertumbuhan yang berbasis pada produktivitas, kualitas, dan kandungan pengetahuan, dengan menghubungkan sains dan teknologi dengan sektor-sektor kunci dalam lanskap sosial-ekonomi.
Para ahli juga menunjukkan bahwa Kota Ho Chi Minh memiliki keunggulan besar dalam ekosistem ilmu pengetahuan dan teknologinya , sumber daya manusia berkualitas tinggi, dan kemampuan untuk mengakses tren teknologi baru dengan cepat. Namun, keunggulan tersebut hanya dapat sepenuhnya terwujud jika kota tersebut memiliki mekanisme yang tepat untuk memastikan bahwa ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi benar-benar terintegrasi ke dalam manajemen, produksi, dan penyediaan layanan publik.
Di luar diskusi strategis, Kota Ho Chi Minh secara bertahap mengkonkretkan orientasinya untuk "menjadikan sains sebagai landasan" melalui tindakan nyata. Salah satu langkah penting adalah rencana untuk memberikan lisensi asisten virtual kecerdasan buatan (AI) kepada sektor publik mulai tahun 2026, yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi manajemen, mereformasi administrasi, dan mendorong pengembangan pemerintahan digital.
Sesuai dengan rencana Departemen Sains dan Teknologi Kota Ho Chi Minh, pemberian lisensi asisten virtual AI menandai transisi dari fase pengujian dan pengenalan ke penerapan AI secara resmi dan terkontrol dalam operasional lembaga negara. Pada fase awal, alat asisten virtual AI akan digunakan untuk mendukung penyusunan dokumen, agregasi informasi, analisis dokumen, dan pencarian konten profesional.
Alat-alat ini tidak hanya ditujukan untuk melayani instansi pemerintah internal, tetapi juga diharapkan dapat membantu warga negara mengakses informasi tentang prosedur administrasi dan dokumen hukum dengan lebih mudah dan nyaman. Melalui hal ini, ilmu pengetahuan dan teknologi tidak hanya akan meningkatkan produktivitas pejabat dan pegawai negeri, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kualitas pelayanan publik.
Pada fase selanjutnya, berdasarkan penilaian efektivitas implementasi, Kota Ho Chi Minh berencana untuk memperluas cakupan aplikasi AI dalam berbagai aspek kegiatan administrasi, mulai dari pembuatan laporan dan analisis konten bisnis hingga komunikasi dan penyebaran kebijakan. Penggunaan AI disertai dengan persyaratan untuk mengembangkan peraturan manajemen yang ketat, memastikan keamanan dan kerahasiaan informasi, serta menegaskan tanggung jawab manusia dalam proses kerja.
Menurut perwakilan dari Departemen Sains dan Teknologi Kota Ho Chi Minh, penerapan asisten virtual AI tidak dimaksudkan untuk menggantikan manusia, melainkan sebagai alat untuk mendukung pengurangan tugas berulang, meningkatkan efisiensi manajemen, dan meningkatkan kualitas operasional. Hal ini dianggap sebagai salah satu langkah konkret untuk mewujudkan tujuan membangun pemerintahan digital, dengan warga dan bisnis sebagai pusat pelayanan.
Jelas terlihat bahwa Kota Ho Chi Minh secara bertahap menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai landasan model pembangunan barunya. Gagasan "menjadikan ilmu pengetahuan sebagai landasan" bukan hanya slogan, tetapi secara bertahap dibuktikan melalui kebijakan, perangkat, dan metode pengelolaan, menciptakan fondasi bagi pembangunan berkelanjutan kota ini di masa mendatang.
Sumber: https://daidoanket.vn/tp-ho-chi-minh-lay-khoa-hoc-lam-tru-cot.html






Komentar (0)