Meskipun tidak menghadapi risiko menipisnya air laut, yang meliputi 70% permukaan Bumi, umat manusia masih menghadapi kekurangan air tawar.
Kekeringan melanda Sungai Rhine di dekat Cologne, Jerman. Foto: alfotokunst/Shutterstock
Dalam beberapa dekade mendatang, kelangkaan air dapat menjadi salah satu masalah terbesar yang dihadapi dunia . Para ahli memperkirakan bahwa kekurangan air tawar akan meningkat karena penggunaan yang tidak berkelanjutan, polusi, pertumbuhan penduduk, dan perubahan iklim. Meskipun Bumi tidak akan sampai pada titik kehabisan air sepenuhnya, satu masalah menjadi semakin jelas: Air tawar tidak selalu tersedia ketika dan di mana orang membutuhkannya, seperti yang dilaporkan IFL Science pada 14 September.
Manusia tidak akan menghadapi risiko kehabisan air asin, yang meliputi 70% permukaan Bumi. Masalahnya terletak pada jumlah air tawar yang digunakan manusia untuk minum, mandi, dan pertanian . Air tawar yang dapat digunakan ini hanya berjumlah 3% dari air dunia, dan bahkan sebagian besar terperangkap dalam es atau gletser.
Perubahan iklim meningkatkan frekuensi dan intensitas kekeringan, salah satu faktor utama penyebab krisis kelangkaan air global.
Aktivitas pertanian juga mengonsumsi air dalam jumlah yang sangat besar, mencapai hampir 70% dari total air tawar yang diekstraksi secara global, menurut Bank Dunia. Para ahli memperkirakan bahwa populasi dunia akan meningkat dalam beberapa dekade mendatang, yang menyebabkan peningkatan permintaan akan pangan dan air.
Bagi banyak orang, krisis air sudah berlangsung. Menurut perkiraan PBB tahun 2023, 2 miliar orang di seluruh dunia, atau seperempat populasi Bumi, tidak memiliki akses terhadap air minum yang aman.
Cape Town memberikan contoh nyata risiko yang dapat menimpa banyak kota di masa depan. Pada tahun 2018, setelah bertahun-tahun penggunaan air yang tidak berkelanjutan, pengelolaan yang buruk, dan perubahan iklim, kota di Afrika Selatan ini diprediksi akan kehabisan air dalam beberapa bulan. Selain peringatan tentang kehabisan keran air, warga didesak untuk mengurangi konsumsi air, mandi lebih singkat, tidak mencuci mobil, dan menyiram toilet sesedikit mungkin.
Untungnya, Cape Town nyaris terhindar dari "Hari Nol"—hari yang diprediksi sebagai hari di mana kota itu akan kehabisan air. Namun, perjuangan kota ini bisa menjadi pertanda tentang apa yang mungkin terjadi di bagian lain dunia.
Dalam analisis BBC tahun 2018, beberapa kota besar diidentifikasi sebagai "titik rawan" potensial untuk kelangkaan air, termasuk London, Tokyo, Miami, dan Moskow. Komunitas miskin dan daerah yang kurang berkembang akan terkena dampak yang lebih parah.
Seiring dengan semakin langkanya air, dunia akan mengalami perubahan sosial dan geopolitik yang mendalam. Para peneliti berpendapat bahwa perubahan iklim dan kelangkaan air dapat meningkatkan risiko konflik, dengan negara-negara dan organisasi bersaing untuk mendapatkan akses ke sumber daya air. Diperkirakan 700 juta orang dapat mengungsi akibat kelangkaan air yang parah pada akhir dekade ini, yang menyebabkan pergeseran besar dalam pola migrasi global.
Thu Thao (Menurut IFL Science )
Tautan sumber






Komentar (0)