Kerinduan itu tidak keras, bukan tangisan, hanya seperti hembusan angin lembut, tetapi cukup untuk membuat hati terasa sakit. Aku ingat sore-sore itu ketika matahari masih menyinari jalan setapak bata yang lebar, tempat anak-anak berlarian, tempat orang tua berjalan santai, dan tempat pasangan muda duduk bersama, diam namun hangat. Pada saat itu, Lapangan 16 April bukan hanya ruang publik, tetapi seperti ritme jalanan yang dibagi bersama – lambat, damai, tanpa terburu-buru.
![]() |
| Para wisatawan mengunjungi Museum Provinsi Khanh Hoa di kelurahan Phan Rang. Foto: VAN NY |
Ciri khas Lapangan 16 April adalah kompleks bangunan yang dulunya merupakan Museum Ninh Thuan , dengan menara berbentuk teratai yang unik, serta Monumen Kemenangan 16 April yang megah dan heroik – sebuah tempat yang memperingati momen bersejarah kemerdekaan dan pembebasan tanah air oleh tentara dan rakyat Ninh Thuan. Balok-balok batu dan patung-patung di sana bukan sekadar bentuk arsitektur, tetapi perwujudan kenangan, menceritakan kisah tanpa kata tentang masa perang dan kebanggaan.
Suasana di Lapangan 16 April berubah seiring berjalannya waktu, seperti ritme kehidupan di jalanan. Di pagi hari, tempat ini luas, sejuk, dan lapang, tempat untuk menarik napas dalam-dalam, jogging, dan olahraga ringan untuk memulai hari baru. Angin bertiup melintasi lapangan, membawa aroma sinar matahari, tumbuhan, dan rasa damai yang sulit digambarkan. Di siang hari, lapangan berubah menjadi tempat kencan yang tenang. Di samping patung-patung, orang-orang berjalan bergandengan tangan, mengobrol sambil berjalan. Di sana, mereka saling mencintai dengan lembut, seolah takut mengganggu ritme hari yang cerah.
Ada kalanya alun-alun itu tampak sakral dan khidmat selama upacara pengibaran bendera, pada saat Malam Tahun Baru ketika semua orang menoleh ke arah bendera merah dengan bintang kuning, mendengarkan berjalannya waktu. Pada saat itu, setiap langkah melambat, setiap tatapan menjadi lebih dalam, seolah-olah semua orang berdiri di hadapan sesuatu yang sangat penting, ratusan hati berdetak serempak.
Dan pada hari-hari biasa itu, alun-alun hanyalah tempat berkumpul bagi kelompok tari tradisional, pertunjukan musik dadakan, dan kios-kios kecil berwarna-warni yang menarik perhatian orang yang lewat. Tawa, musik, dan percakapan bercampur menjadi satu, menciptakan lanskap suara yang unik – suara kehidupan.
![]() |
| Lapangan 16 April. Foto: VAN NY |
Mungkin itulah mengapa aku mengingatnya. Bukan sebuah bangunan, tetapi momen-momen yang kualami di sana. Aku ingat perasaan berdiri di alun-alun yang luas, membiarkan angin menerpa rambutku, membiarkan detak jantungku melambat. Aku ingat sore hari setelah bekerja, ketika matahari Phan Rang tidak lagi terik, angin yang bertiup dari laut membawa sedikit rasa asin, sedikit rasa kering dari pasir, dan aroma unik yang tidak ada duanya. Aku ingat tawa anak-anak, langkah kaki orang-orang yang berolahraga, bahkan pandangan sekilas yang cepat menghilang. Di sana, kau tidak perlu akrab dengan seseorang untuk merasa dekat. Hanya menghirup udara yang sama, berjalan di alun-alun yang sama, sudah cukup untuk merasa seperti bagian dari kota. Aku tidak tahu kapan, tetapi Alun-Alun 16 April telah menjadi tempat di mana aku menemukan perlindungan bagi emosiku – dengan tenang, gigih, tanpa menuntut apa pun.
Sekarang, di bagian kota yang berbeda, di tengah jalan-jalan baru dan wajah-wajah baru, saya tiba-tiba mengerti bahwa ada tempat-tempat yang tidak perlu disebut "rumah," namun tempat-tempat itu membangkitkan kenangan seolah-olah merupakan bagian dari hidup seseorang. Lapangan 16 April seperti itu bagi saya. Bukan peringatan besar, hanya hari-hari biasa, tetapi justru hari-hari biasa inilah, ketika Anda berada jauh, Anda menyadari betapa berharganya hari-hari itu.
KEMAMPUAN
Sumber: https://baokhanhhoa.vn/van-hoa/nhung-goc-pho-nhung-con-duong/202601/trong-noi-nhophan-rang-a1b3dee/








Komentar (0)