
Akhir Juni dan awal Juli adalah waktu ketika sektor pendidikan dan pelatihan bersiap untuk musim pendaftaran kelas satu. Ini juga merupakan periode ketika "perlombaan" yang tenang menjadi semakin intensif. Ini adalah "perlombaan" untuk masuk ke sekolah-sekolah bergengsi dan kelas-kelas pilihan – di mana banyak orang tua berharap dapat memberikan anak-anak mereka titik awal yang lebih baik dalam perjalanan pendidikan mereka.
Saat ini, dalam percakapan kelompok orang tua, informasi tentang kuota pendaftaran untuk sekolah A, sekolah B, dan guru mana yang akan mengajar di kelas tersebut semakin memanas setiap hari. Di balik panggilan telepon yang meminta bantuan dan koneksi yang dimobilisasi, terdapat keyakinan yang hampir mengakar di antara banyak orang tua: jika anak mereka masuk ke sekolah yang bagus dan kelas yang bagus, mereka akan memiliki masa depan yang cerah!
Yang patut direnungkan adalah bahwa dalam perlombaan ini, yang paling tertekan adalah anak-anak. Mereka tidak menciptakan perlombaan ini, dan mereka juga tidak menentukan garis finisnya.
Namun, justru anak-anak itu sendiri yang memikul harapan orang tua mereka. Banyak siswa ditempatkan di lingkungan belajar yang melebihi kemampuan mereka. Di kelas yang sesuai, mereka bisa menjadi siswa yang baik, percaya diri, dan proaktif.
Ketika memasuki lingkungan yang dikelilingi oleh teman-teman sebaya yang berprestasi tinggi, kesenjangan kemampuan dapat dengan mudah menyebabkan perasaan rendah diri dan kurang percaya diri. Terus-menerus harus mengejar prestasi dan nilai teman-teman dapat menciptakan tekanan psikologis yang berkepanjangan, mengurangi motivasi belajar, dan bahkan memengaruhi kesehatan mental.
Banyak pakar pendidikan percaya bahwa keberhasilan seorang anak tidak sepenuhnya bergantung pada sekolah mana yang mereka hadiri, tetapi lebih pada kesesuaian antara kemampuan individu mereka, metode pengajaran sekolah, dan dukungan keluarga mereka. Ketika harapan melebihi kemampuan atau kebutuhan aktual seorang anak, tekanan dapat menjadi beban, memengaruhi psikologi dan kenikmatan mereka dalam belajar.
Pengalaman menunjukkan bahwa banyak siswa yang sukses dan berprestasi berasal dari lingkungan pendidikan biasa tetapi memiliki semangat belajar mandiri, ketekunan, dan dukungan keluarga yang memadai. Sebaliknya, banyak siswa, bahkan mereka yang mendapatkan pendidikan terbaik, kehilangan motivasi ketika dibebani oleh ekspektasi.
Musim pendaftaran sekolah menandai awal dari perjalanan pendidikan yang baru. Seharusnya ini menjadi waktu persiapan aktif dan kegembiraan untuk pengalaman baru, bukan perlombaan yang penuh tekanan sejak awal. Orang tua perlu memilih bukan hanya sekolah bergengsi, tetapi juga lingkungan yang paling sesuai di mana setiap anak dapat berkembang sesuai dengan kemampuan, minat, dan potensi mereka.
Sangat wajar jika orang tua menginginkan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Namun, kasih sayang seharusnya tidak diukur dari tempat anak bersekolah, peringkat kelas mereka, atau apakah mereka menjadi "sumber kebanggaan" menurut standar orang dewasa.
Setiap anak memiliki perjalanan uniknya masing-masing. Yang mereka butuhkan bukanlah beban ekspektasi yang berlebihan, melainkan lingkungan belajar yang sesuai di mana mereka dapat tumbuh, mendapatkan dorongan ketika mereka maju, dan menerima pengertian ketika mereka tersandung.
Pada akhirnya, tujuan tertinggi pendidikan bukanlah untuk menghasilkan siswa berprestasi terbaik, tetapi untuk membina individu yang tahu cara belajar, memaksimalkan potensi mereka, dan secara aktif berkontribusi kepada masyarakat.
BUI HANHSumber: https://baohaiphong.vn/truong-diem-khong-phai-la-tat-ca-546173.html






