
Konflik militer di Timur Tengah telah menyebabkan guncangan energi yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan dampak global yang luas, tetapi juga telah mendorong negara-negara untuk membangun pertahanan energi berkelanjutan bagi perekonomian mereka. Tantangan swasembada energi kini menjadi prioritas utama bagi banyak negara, sebagai faktor kunci dalam memastikan stabilitas ekonomi dan keamanan nasional.
Setelah bertahun-tahun terhenti sejak kecelakaan pembangkit nuklir Fukushima pada tahun 2011, pengembangan tenaga nuklir baru-baru ini kembali menjadi pusat kebijakan energi Jepang. Negara tersebut baru saja mengumumkan rencana untuk membangun puluhan reaktor nuklir lagi, secara bertahap meningkatkan pangsa tenaga nuklir dalam produksi listriknya hingga sekitar 20% pada tahun 2040, dua kali lipat dari tingkat saat ini.
Setelah meninggalkan energi nuklir pada November 1987 menyusul referendum setelah bencana Chernobyl pada tahun 1986, Italia baru-baru ini membalikkan kebijakannya. Majelis rendah parlemen baru saja mengesahkan rancangan undang-undang kerangka kerja tentang pengembangan energi nuklir berkelanjutan, yang bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada sumber eksternal.
Bersama dengan Jepang dan Italia, banyak negara di seluruh dunia telah memutuskan untuk menghidupkan kembali tenaga nuklir dan mempercepat pengembangan energi terbarukan. Langkah-langkah ini tidak hanya menandai kembalinya tenaga nuklir secara spektakuler setelah absen selama bertahun-tahun dan menegaskan posisi energi terbarukan yang semakin penting, tetapi juga menunjukkan tekad negara-negara ini untuk mencapai swasembada energi.
Bukan suatu kebetulan bahwa sejumlah negara, dari Asia hingga Eropa, Amerika, Afrika, dan Timur Tengah, sedang mendesak untuk menyesuaikan strategi keamanan energi mereka. Konflik di Timur Tengah telah mengungkap kelemahan mendasar dalam sistem energi global secara umum dan di banyak negara secara khusus.
Ketergantungan yang berlebihan pada bahan bakar impor telah menempatkan perekonomian dalam posisi yang genting dan membuatnya rentan terhadap konflik geopolitik. Tanpa swasembada pasokan, fluktuasi apa pun dapat dengan cepat menyebabkan kekurangan, mengganggu rantai produksi, dan menciptakan kerentanan serius. Oleh karena itu, kelangsungan hidup suatu perekonomian ditentukan oleh variabel-variabel yang tidak dapat diprediksi dari lingkungan internasional, yang sulit dikendalikan.
Begitu operasi di Selat Hormuz, jalur vital untuk mengangkut sejumlah besar minyak dan gas alam cair (LNG), terganggu, harga minyak dunia langsung meroket, rantai pasokan gas terputus, dan negara-negara yang bergantung pada impor berada dalam posisi rentan. Menghadapi situasi yang tak terduga ini, banyak negara dengan cepat menerapkan serangkaian tindakan penanggulangan seperti pembatasan harga bahan bakar, penggunaan dana stabilisasi, dan bahkan pengurangan konsumsi. Namun, ini hanyalah solusi sementara.
Para analis percaya bahwa, dalam konteks saat ini, keamanan energi bukan hanya tentang mempertahankan pasokan listrik yang cukup dengan harga terjangkau, tetapi juga tentang swasembada pasokan dan kemampuan untuk menahan fluktuasi geopolitik dan guncangan tak terduga di pasar global.
Oleh karena itu, membangun lini pertahanan energi sangat penting bagi perekonomian. Signifikansi lini pertahanan ini tidak hanya terletak pada respons langsungnya terhadap krisis, tetapi juga dalam membantu perekonomian tetap stabil dan mempertahankan fungsinya bahkan ketika pasar global bergejolak.
Selain krisis pasokan yang disebabkan oleh konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah, tidak dapat dikesampingkan bahwa dunia mungkin akan mengalami guncangan energi lainnya.
Sementara itu, permintaan listrik untuk mendorong pembangunan ekonomi meningkat pesat, terutama dengan pertumbuhan pesat teknologi informasi, kecerdasan buatan (AI), dan transportasi "hijau". Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan bahwa permintaan listrik global akan meningkat rata-rata lebih dari 3,5% per tahun antara tahun 2026 dan 2030.
Untuk mengembangkan AI – sebuah prioritas strategis utama – negara-negara perlu mengamankan pasokan listrik yang besar untuk mengoperasikan pusat data dan sistem komputasi berkinerja tinggi. Oleh karena itu, energi merupakan "urat nadi" yang vital, salah satu faktor kunci yang menentukan tingkat pertumbuhan dan daya saing ekonomi di tahun-tahun mendatang.
Krisis saat ini menghadirkan tantangan sekaligus pendorong bagi negara-negara untuk mempercepat transisi energi mereka, dengan tujuan mencapai swasembada energi. Di dunia yang penuh gejolak, ini merupakan garis pertahanan yang kokoh untuk melindungi perekonomian.
Sumber: https://nhandan.vn/tuyen-phong-thu-cho-nen-kinh-te-post967939.html








