Pengingat janji temu dengan ketepatan waktu yang akurat, hingga menitnya.
Setelah menjalani perawatan diabetes selama 8 tahun terakhir di Rumah Sakit Umum Duc Giang, Bapak Nguyen Tru (65 tahun, Long Bien, Hanoi ) mengatakan: "Kondisi kesehatan saya mengharuskan saya untuk melakukan pemeriksaan rutin."
"Saya tiba tepat waktu, memasukkan kartu identitas berchip dan kartu asuransi kesehatan saya ke mesin pendaftaran, dan dalam waktu kurang dari 30 detik saya siap untuk pemeriksaan. Setelah tes darah, hasilnya dikirim ke ponsel saya melalui pesan teks, dan dokter memanggil saya untuk membacakan hasilnya dan meresepkan obat."
Dokter membacakan hasil rontgen di komputer untuk pasien.
Saat pergi, Tuan Tru hanya membawa resep di tangannya, bukan berkas pasien yang biasa ia bawa.
Menurut Dr. Nguyen Van Thuong, Direktur Rumah Sakit Umum Duc Giang, dalam beberapa tahun terakhir, penerapan transformasi digital telah menciptakan terobosan dalam manajemen dan sekaligus meningkatkan kualitas pemeriksaan dan pengobatan medis di rumah sakit tersebut.
Sejak tahun 2020, rumah sakit ini telah menggunakan PACS (Picture Archiving and Communication System) untuk pencitraan sinar-X. Setelah sinar-X diambil dan hasilnya tersedia, sistem akan mengirimkannya ke klinik dan departemen perawatan, sehingga memfasilitasi diagnosis dan intervensi dini.
PACS juga membantu meningkatkan kualitas pemeriksaan dan pengobatan medis, karena memberikan gambar yang lebih jelas, memungkinkan visualisasi lesi yang lebih jelas, pengukuran ukuran lesi yang lebih akurat, dan penentuan kepadatan lesi.
Hasilnya disimpan dalam sistem dengan kualitas gambar yang lebih baik, sehingga bahkan setelah beberapa tahun, rumah sakit masih dapat menggunakannya untuk konsultasi.
Rumah sakit ini juga memiliki aplikasi kunjungan bangsal bagi dokter dan perawat untuk memantau pasien rawat inap. Selain itu, penjadwalan janji temu daring membantu mengurangi beban kerja dan mengelola alur pasien, dan opsi pembayaran tanpa uang tunai telah diterapkan di rumah sakit ini selama bertahun-tahun.
Saat ini, 40% dari pasien harian rumah sakit menerima janji temu dan pengingat janji temu yang akurat hingga menitnya.
Di Rumah Sakit Bach Mai, meskipun merupakan sistem yang baru diterapkan, menurut Profesor Madya Dr. Vu Van Giap, Wakil Direktur rumah sakit, pada tahun 2024, rumah sakit akan berupaya dengan banyak proyek efektif, terutama dalam transformasi digital dan penerapan kecerdasan buatan (AI) dalam pemeriksaan dan pengobatan.
Menurut Bapak Giap, saat ini, dokter bangsal hanya membutuhkan tablet yang berisi semua data, mulai dari hasil pemeriksaan dan pencitraan hingga rekam medis pasien dan obat-obatan yang digunakan.
Secara khusus, penerapan tanda tangan digital di seluruh sistem telah berkontribusi pada kemudahan dalam pencatatan rekam medis pasien, sehingga menghemat waktu yang dihabiskan untuk prosedur administratif selama pemeriksaan dan perawatan medis.
Aplikasi AI untuk deteksi dini kanker.
Bapak Giap lebih lanjut menyampaikan bahwa, selain menerapkan transformasi digital di semua proses bisnis, penerapan AI dalam pemeriksaan dan pengobatan telah terbukti efektif, karena banyak tanda patologis yang tidak dapat dideteksi melalui prosedur pemeriksaan konvensional.
Pak Giap memberikan contoh: baru-baru ini, seorang pasien pria berusia 49 tahun datang ke Rumah Sakit Bach Mai untuk pemeriksaan menyeluruh terkait kondisi hipertensi dan infark miokardium, dan menjalani pemasangan tiga stent.
Pasien tidak menunjukkan gejala apa pun, dan hasil rontgen hanya memperlihatkan area keruh di paru-paru. Bahkan dengan pemeriksaan paraklinis tambahan seperti bronkoskopi dan endoskopi tenggorokan, tidak ditemukan hal yang signifikan.
Namun, ketika indikator pasien dimasukkan ke dalam perangkat lunak dan dianalisis oleh AI, ditentukan bahwa pasien tersebut memiliki lesi di lobus paru kanan dan berisiko terkena kanker ganas.
Hasil CT scan dada mengkonfirmasi bahwa pasien menunjukkan tanda-tanda awal kanker paru-paru.
Berkat deteksi dini, pasien ini menjalani operasi untuk mengangkat seluruh tumor paru-paru, diikuti dengan pemeriksaan histopatologi, dan melewatkan biopsi paru-paru (biopsi invasif yang dapat menyebabkan pendarahan dan pneumotoraks).
Menurut Profesor Madya Dr. Dao Viet Hang, dari Pusat Endoskopi, Rumah Sakit Universitas Kedokteran Hanoi, dan Kepala Jaringan Global Intelektual Muda Vietnam, kecerdasan buatan semakin banyak diterapkan dalam perawatan kesehatan, sehingga memudahkan skrining penyakit.
Selain citra sinar-X, banyak rumah sakit kini memiliki perangkat lunak yang terintegrasi dengan algoritma kecerdasan buatan untuk membantu mendeteksi dan mendiagnosis kanker hati menggunakan CT scan atau MRI (mirip dengan penentuan stadium kanker kolorektal). Di bidang endoskopi dan patologi, juga terdapat banyak produk yang membantu meningkatkan diagnosis dan meminimalkan kesalahan dalam mendeteksi lesi.
Saat ini, terdapat beberapa aplikasi yang tersedia untuk pasien dengan diabetes, hipertensi, hepatitis B, dan lain sebagainya.
Atau di bidang gastroenterologi, AI telah membantu mengingatkan pasien untuk minum obat, membuat kuesioner untuk mengklasifikasikan risiko pasien, dan mengidentifikasi tanda-tanda peringatan ketika pasien berisiko mengalami komplikasi.
Hal ini menciptakan saluran bagi pasien untuk menjangkau fasilitas medis atau dokter lebih cepat.
Sumber: https://www.baogiaothong.vn/ung-dung-ai-phat-hien-som-ung-thu-192241217142354958.htm







Komentar (0)