Tekanan teknologi digital dan perubahan budaya membaca
Pada seminar dan acara jejaring penerbitan yang baru-baru ini diadakan di Kota Ho Chi Minh , banyak pakar, penerbit, penerjemah, dan perwakilan organisasi budaya internasional dari Vietnam, Jerman, Prancis, dan Tiongkok berbagi wawasan mereka tentang tantangan yang dihadapi sastra terjemahan dan industri penerbitan di lingkungan digital.

Menurut Claudia Kaiser, Wakil Presiden Pameran Buku Frankfurt (Jerman), industri penerbitan global menghadapi perubahan mendalam tidak hanya dalam teknologi tetapi juga dalam perilaku konsumsi konten pembaca, terutama kaum muda.
Salah satu tren paling menonjol saat ini adalah pergeseran cara pendekatan terhadap pembaca muda di Eropa, terutama di Jerman. Banyak seri buku untuk remaja berinvestasi besar-besaran dalam desain, visual, dan pengalaman membaca untuk mendorong kaum muda kembali membaca. Menurut Claudia Kaiser, dalam konteks meningkatnya dominasi media sosial dan platform video pendek, format buku telah menjadi faktor penting dalam menarik pembaca muda.

Seiring dengan itu, perkembangan teknologi seperti realitas virtual (VR), realitas tertambah (AR), dan kecerdasan buatan (AI) juga menciptakan banyak perubahan bagi industri penerbitan. AI kini terlibat dalam banyak tahapan seperti penulisan konten, penerjemahan buku, peringkasan teks, dan produksi sulih suara otomatis untuk buku audio.
Namun, menurut Claudia Kaiser, di samping peluang, AI juga menghadirkan banyak tantangan terkait hak kekayaan intelektual, hak cipta, dan penggunaan teknologi secara etis. “Penting tidak hanya untuk mempelajari cara menggunakan AI tetapi juga untuk memahami cara menggunakan AI secara bertanggung jawab,” tegas Claudia Kaiser, menambahkan bahwa pendidikan AI perlu dimulai sejak dini untuk anak-anak dan generasi muda di lingkungan digital.

Sementara itu, Dr. Nguyen Manh Hung, Ketua Dewan Direksi Thaihabooks, meyakini bahwa buku audio dan buku lisan menjadi tren yang kuat dalam industri penerbitan global. Namun, tantangan saat ini terletak pada membangun kebiasaan membayar untuk konten berkualitas dalam konteks di mana pengguna terbiasa mengaksesnya secara gratis di internet. Menurut Dr. Nguyen Manh Hung, ini bukan hanya masalah teknologi tetapi juga berkaitan dengan kesadaran akan hak cipta dan nilai pengetahuan di lingkungan digital.
Di luar faktor teknologi, banyak ahli juga percaya bahwa "penerbitan hijau" akan menjadi tren utama dalam industri buku di masa depan. Mulai dari bahan cetak dan proses produksi hingga strategi distribusi, industri penerbitan menghadapi kebutuhan untuk bertransformasi ke arah yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Selain itu, kombinasi buku dan film juga dianggap sebagai arah yang menjanjikan. Menurut para ahli, di masa depan, buku dan film tidak lagi menjadi dua bidang yang terpisah tetapi dapat saling mendukung untuk memperluas jangkauan konten, sekaligus menciptakan lebih banyak peluang untuk membawa karya sastra Vietnam kepada khalayak yang lebih muda.
Lingkungan digital tidak hanya berdampak pada penerbitan tradisional, tetapi juga memaksa industri buku untuk mengubah pendekatannya terhadap pembaca muda. Pada Festival Buku Komik Francophone pertama yang diadakan di Kota Ho Chi Minh, Bapak Etienne Ranaivoson, Konsul Jenderal Prancis di Kota Ho Chi Minh, menyatakan bahwa kaum muda saat ini semakin terbiasa menerima konten dengan cepat, visual, dan kaya di platform digital. Hal ini memaksa industri penerbitan untuk mencari bentuk-bentuk penceritaan baru, menggabungkan sastra, seni, dan teknologi untuk mempertahankan pembaca.

Menurut Etienne Ranaivoson, komik bukan lagi sekadar genre sastra, tetapi secara bertahap menjadi industri kreatif yang penting di era digital. “Kita di sini bukan hanya untuk merayakan genre sastra, tetapi juga untuk mendukung industri kreatif dengan potensi besar,” tegas Etienne Ranaivoson. Oleh karena itu, Prancis dan Belgia mempromosikan berbagai kegiatan pelatihan, pertukaran, dan kolaborasi penerbitan untuk membantu talenta muda beradaptasi dengan lingkungan penerbitan yang baru.
Masalah hak cipta dan sumber daya manusia dalam penerjemahan sastra.
Menurut Ibu Trinh Bich Ngan, Presiden Asosiasi Penulis Kota Ho Chi Minh, dalam hampir 60 tahun terakhir, hanya sekitar 150 karya sastra Vietnam yang telah diterjemahkan dan diterbitkan di Tiongkok, termasuk beberapa karya representatif seperti *Truyen Kieu*, *So Do*, dan *Chi Pheo*.

Namun, sebagian besar buku-buku ini tidak lagi tersedia secara luas di pasar buku Tiongkok. Ibu Ngan percaya bahwa kesenjangan terbesar saat ini terletak pada kurangnya penerjemah sastra profesional. Padahal, Vietnam belum melakukan investasi sistematis di bidang penerjemahan sastra, mulai dari pelatihan sumber daya manusia hingga strategi pengembangan jangka panjang.
"Meskipun banyak negara telah membangun tenaga penerjemah sastra profesional sejak beberapa dekade lalu, Vietnam masih kekurangan sumber daya manusia dan arah pengembangan jangka panjang untuk bidang ini," ujar Ibu Trinh Bich Ngan.
Dari perspektif seorang penerbit, penerjemah Nguyen Le Chi, Direktur Chi Culture Joint Stock Company (Chibooks), percaya bahwa membawa buku-buku Vietnam ke luar negeri bukan hanya kegiatan komersial yang berkaitan dengan hak cipta, tetapi juga sebuah perjalanan untuk menyampaikan budaya, gaya hidup, dan identitas Vietnam kepada pembaca internasional.

Menurut Ibu Le Chi, tantangan terbesar dalam penerjemahan sastra tidak hanya terletak pada terjemahan itu sendiri, tetapi juga dalam menyampaikan semangat budaya dan kedalaman karya tersebut. “Hal yang paling sulit adalah bagaimana menyampaikan esensi budaya dan makna mendalam di dalam kata-kata. Kita harus berkonsultasi dengan para ahli bahasa Vietnam untuk memeriksa apakah terjemahan tersebut sepenuhnya mencerminkan isi sastra,” ujar Ibu Le Chi.
Terkait masalah ini, Bapak Ha Khai Tuan, Wakil Kepala Departemen Hak Cipta di Penerbitan Sains dan Teknologi Guangxi (China), menyatakan bahwa selain kualitas terjemahan, perlindungan hak cipta di lingkungan digital juga menjadi tantangan utama bagi industri penerbitan. Menurut Bapak Ha Khai Tuan, memerangi pelanggaran hak cipta tidak dapat hanya bergantung pada lembaga pengatur tetapi membutuhkan kerja sama dari banyak pihak, mulai dari penerbit dan operator platform hingga kesadaran para pembaca itu sendiri.
Sementara itu, Ibu Nguyen Le Chi menyatakan bahwa pelanggaran hak cipta di Vietnam masih cukup umum, padahal banyak orang belum sepenuhnya menyadari bahwa mengunduh buku bajakan atau membagikan karya tanpa izin di internet juga merupakan pelanggaran hak cipta.
Menurut Ibu Chi, menerbitkan buku membutuhkan investasi waktu, usaha, dan biaya yang signifikan. Jika pelanggaran hak cipta terus berlanjut, bukan hanya penerbit yang akan terpengaruh, tetapi penulis sendiri juga dapat kehilangan motivasi untuk berkarya. "Kerugiannya bersifat jangka panjang. Jika penerbit tidak lagi ingin menerbitkan buku, dan penulis menjadi patah semangat dan tidak ingin melanjutkan menulis, maka kreativitas akan layu," ujar Ibu Nguyen Le Chi.

Dari kisah-kisah tentang AI, hak cipta digital, dan pertukaran hak cipta internasional, jelas bahwa sastra terjemahan menghadapi perubahan signifikan di era teknologi. Ketika konten dapat diterjemahkan dan disebarluaskan hanya dengan sekali klik, peran penerjemah, editor, dan penerbit menjadi semakin penting dalam melestarikan kedalaman budaya karya tersebut. Tantangan bagi sastra terjemahan saat ini bukan sekadar penerjemahan; tetapi tentang memastikan karya-karya Vietnam menjangkau khalayak yang lebih luas sambil tetap mempertahankan identitas budaya uniknya.
Sumber: https://bvhttdl.gov.vn/van-hoc-dich-truoc-thach-thuc-moi-truong-so.htm







Komentar (0)