Kami berangkat dari pusat kota yang diselimuti awan, bersemangat untuk menjelajahi destinasi yang masih penuh dengan permata tersembunyi. Setelah menempuh perjalanan lebih dari 17 km, mobil berbelok ke jalan kecil beraspal, di mana sekilas rumah-rumah panggung yang bersih dan rapi muncul, menandakan pemandangan damai di hadapan kami.

Jalan menuju desa Kon Tu Ma sungguh indah dan menawan.
Kon Tu Ma menyambutku dengan langit biru cerah dan udara sejuk yang segar. Di sepanjang tepi jalan, alang-alang bergoyang dan bunga-bunga liar bermekaran. Seolah-olah musim semi masih tersisa di suatu tempat di lereng bukit yang jauh.
Kesan pertama adalah warna ungu cerah bunga rhododendron yang menutupi lanskap, menjulang ke arah matahari, menciptakan keindahan pedesaan namun memikat. Semak-semak sederhana namun memesona ini membuat para pelancong memperlambat langkah mereka, memungkinkan mereka untuk dengan tenang mengapresiasi pemandangan. Di sepanjang jalan setapak kecil, kami berjalan santai, seolah terlepas dari hiruk pikuk kota. Sebuah gambaran damai terbentang, lembut namun mendalam.
Saat kita memasuki desa lebih dalam, medannya semakin curam, namun udaranya tetap sejuk dan menyenangkan. Lanskap alam di sini terbentang seperti lukisan pedesaan yang tenang, yang terhubung erat dengan kehidupan panjang penduduk dataran tinggi. Bukit-bukit yang bergelombang dan hamparan hijau yang tak berujung menciptakan pemandangan yang menakjubkan. Ketika sinar matahari menembus dedaunan, garis-garis cahaya yang berkilauan berayun tertiup angin, menciptakan suasana yang sangat puitis.

Lumbung-lumbung padi berdiri megah seperti karya seni di tengah desa Kon Tu Ma.
Di sepanjang kedua sisi jalan terdapat deretan tanaman kopi yang tumbuh di lereng, membentang dari atas ke bawah, pemandangan yang unik dan melimpah. Ini juga merupakan tanaman utama, yang berkontribusi untuk meningkatkan kehidupan masyarakat setempat. Di kejauhan, tampak sawah hijau subur, dihiasi dengan gambar para pekerja keras, melukiskan gambaran pedesaan yang damai. Selain itu, penduduk setempat juga membudidayakan banyak tanaman obat berharga seperti ginseng, Angelica sinensis, dan ginseng bubuk, yang membawa nilai ekonomi yang signifikan.
Pohon pinus ada di mana-mana. Setiap langkah meninggalkan jejak di bawah kanopi hijaunya yang sejuk. Suara angin gunung dan kicauan burung berpadu dengan gemerisik pohon pinus, seperti simfoni hutan, membisikkan kisah tentang bumi dan langit.
Dalam beberapa tahun terakhir, Kon Tu Ma secara bertahap menjadi lebih terkenal, dan penduduk setempat mulai mengembangkan pariwisata dengan cara yang lebih terorganisir. Saya singgah di sebuah penginapan lokal yang terletak di samping hutan pinus, tempat yang masih mempertahankan pesona pedesaan dan keakrabannya. Suasananya membuat kita mudah melupakan semua kekhawatiran, hanya menemukan ketenangan di tengah alam.
Menurut Ibu Ngo Thi Van (perwakilan dari Perusahaan Pariwisata Mang Den Discovery) - operator pariwisata lokal, perjalanan menjelajahi Kon Tu Ma semakin beragam dengan banyak aktivitas seperti trekking melalui hutan pinus, mengunjungi sawah, sawah bertingkat, jembatan gantung, memancing di sungai, menjelajahi air terjun, dan menaklukkan gunung di tengah hutan purba. Wisatawan juga dapat berkemah, menikmati kuliner lokal, membuat api unggun, bermalam di desa, dan mengejar awan di pagi hari.

Jalan menuju desa Kon Tu Ma sungguh indah dan menawan.
Daya tarik Kon Tu Ma tidak hanya terletak pada pemandangannya yang indah, tetapi juga pada kekayaan warisan budayanya. Menurut Bapak A Hung, Sekretaris Partai dan Kepala Desa Kon Tu Ma, desa ini memiliki 52 rumah tangga, yang sebagian besar terdiri dari kelompok etnis Mơ Nâm (cabang dari suku Xê Đăng) – yang masih melestarikan banyak adat istiadat, praktik, festival, dan kerajinan tradisional seperti tenun dan pembuatan anggur beras tradisional. Nilai-nilai ini menciptakan identitas yang unik, menjadikan setiap kunjungan bukan hanya perjalanan wisata tetapi juga pengalaman budaya yang bermakna.
Ciri khas desa ini adalah gugusan lumbung kayu yang dibangun di lereng bukit, menyerupai rumah panggung mini. Selain fungsinya sebagai tempat penyimpanan makanan, lumbung-lumbung ini melambangkan kelimpahan dan penghargaan atas kerja keras penduduk desa.
Sangat dekat dengan alam, masyarakat Kon Tu Ma masih mempertahankan Festival Panen Padi Baru sekitar bulan Juli setiap tahunnya - sebuah ritual penting untuk berterima kasih kepada para dewa dan menghormati butir padi, simbol kehidupan.
Saat matahari siang mulai meredup, kami menyusuri jalan setapak di hutan menuju aliran sungai jernih yang berkelok-kelok di antara celah-celah berbatu. Di sini, pengunjung dapat berendam di air yang sejuk, mencoba memancing, mengunjungi sawah, dan sepenuhnya menghargai keindahan alam yang masih murni serta keharmonisan antara manusia dan alam.

Aliran sungai di ujung desa Kon Tu Ma sangat jernih dan menyegarkan.
Kon Tu Ma memikat pengunjung bukan hanya dengan pemandangannya, tetapi juga dengan ketulusan dan keramahan penduduknya. Jika alam adalah alasan untuk berkunjung, maka budaya dan masyarakatnyalah yang membuat orang ingin tinggal lebih lama.
Waktu yang ideal untuk berkunjung adalah selama musim bunga sakura, ketika pemandangan menjadi lebih mempesona, berpadu dengan udara sejuk dan suara lembut aliran sungai yang mengalir melalui dataran tinggi hijau yang subur.
Ada tempat-tempat yang hanya dengan satu kunjungan saja sudah cukup untuk meninggalkan kesan mendalam. Kon Tu Ma adalah salah satu tempat tersebut.
Menurut surat kabar Gia Lai
Sumber: https://baoangiang.com.vn/van-vuong-kon-tu-ma--a484562.html







