Tim nasional Korea Selatan sangat membutuhkan Hua Tuo.
Tim nasional Korea Selatan sedang berlatih di Salt Lake City, AS, sebagai persiapan untuk Piala Dunia 2026. Namun, yang patut diperhatikan bukanlah latihan taktiknya, melainkan metode pemulihan fisik mereka yang agak tidak biasa. Mungkin hanya dokter legendaris Hua Tuo yang mampu merancang pendekatan ala Timur seperti ini.
Segera setelah setiap sesi latihan, para pemain Korea Selatan diharuskan untuk berendam dalam bak berisi air dengan suhu sekitar 40 derajat Celcius, bukan bak berisi air es seperti yang biasa digunakan dalam sepak bola tingkat atas.
Biasanya, tim nasional Korea Selatan memprioritaskan terapi dingin untuk mengurangi nyeri otot dan membantu pemulihan setelah latihan intensitas tinggi. Namun, staf pelatih tim Korea Selatan mengambil pendekatan yang berbeda.

Menurut para ahli, Salt Lake City memiliki suhu yang jauh lebih rendah dibandingkan banyak tempat penyelenggaraan Piala Dunia 2026 lainnya. Oleh karena itu, berendam dalam air panas dianggap sebagai cara untuk membantu tubuh para pemain beradaptasi secara bertahap dengan lingkungan yang lebih panas, sehingga mengurangi risiko serangan panas saat memasuki turnamen.
Selain itu, tim nasional Korea Selatan menerapkan sistem pemantauan kesehatan yang sangat detail untuk para pemainnya. Setiap hari, para pemain menjalani hingga empat pemeriksaan fisik, termasuk detak jantung, kadar oksigen dalam darah, berat badan, pola tidur, dan tingkat dehidrasi. Jika ditemukan kelainan, rencana latihan dan pemulihan akan disesuaikan secara individual.
Selain cuaca, tim asuhan Pelatih Hong Myung-bo juga harus mengatasi masalah ketinggian. Menurut jadwal, tim nasional Korea Selatan akan memainkan dua pertandingan pertama babak penyisihan grup di Guadalajara, Meksiko, yang terletak di ketinggian sekitar 1.571 meter di atas permukaan laut. Kondisi udara tipis di sana dapat berdampak signifikan pada kondisi fisik para pemain, memaksa tim medis untuk mengembangkan program adaptasi nutrisi dan latihan khusus. Mungkin mereka perlu berkonsultasi dengan teks-teks kuno Hua Tuo untuk merancang penanggulangan.
Tiga negara Amerika Utara membentuk aliansi ala Red Cliffs untuk memerangi Ebola.
Selain mempersiapkan infrastruktur dan keamanan, negara-negara tuan rumah bersama Piala Dunia 2026 juga sangat waspada terhadap risiko wabah penyakit. Pada 28 Mei, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko secara bersamaan mengumumkan mekanisme kesehatan terkoordinasi terkait perjalanan individu dari wilayah Afrika yang berisiko tinggi terkena wabah Ebola.
Hal ini perlu dilakukan secara serentak untuk memerangi penyakit akibat miasma. Jika hanya satu atau dua negara yang melakukannya, akan sangat sulit untuk berhasil, jadi ketiga negara perlu bekerja sama, seperti Cao Cao membangun kapal pada Pertempuran Tebing Merah untuk melatih angkatan lautnya agar terhindar dari mabuk laut.
Pernyataan bersama tersebut menekankan bahwa prioritas utama adalah melindungi keselamatan warga, atlet, wisatawan, dan jutaan penggemar yang akan membanjiri Amerika Utara selama Piala Dunia.
Meskipun rincian lengkap dari langkah-langkah tersebut belum diumumkan, langkah ini diambil setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo sebagai keadaan darurat kesehatan global dan memperingatkan risiko penyebarannya ke negara-negara tetangga.
AS bahkan telah menerapkan pembatasan masuk yang lebih ketat bagi mereka yang pernah mengunjungi Republik Demokratik Kongo, Uganda, atau Sudan Selatan dalam 21 hari terakhir.
Para pejabat kesehatan juga sedang mengembangkan rencana respons cepat untuk meminimalkan risiko wabah penyakit yang memengaruhi acara olahraga terbesar di dunia ini.
Oleh karena itu, Piala Dunia 2026 bukan hanya kompetisi sepak bola tingkat atas, tetapi juga ujian besar bagi layanan kesehatan, teknologi, dan organisasi di dunia yang masih menghadapi banyak ketidakpastian.
Neymar mengalami sakit kepala seperti Yuan Shao.
Sembari berpacu dengan waktu untuk pulih dari cedera betis, Neymar menghadapi "pertempuran" rumit lainnya di luar lapangan. Menurut media Brasil, bintang kelahiran 1992 itu berada dalam situasi sulit yang melibatkan keluarganya, karena ia ingin semua anaknya berada di AS untuk mendukungnya di Piala Dunia 2026.
Ini kemungkinan besar akan menjadi Piala Dunia terakhir Neymar, jadi striker asal Brasil ini berharap dapat dikelilingi oleh keluarganya selama momen spesial ini.
Neymar saat ini memiliki anak dari tiga wanita berbeda. Selain putranya, Davi Lucca, dengan Carol Dantas, ia memiliki dua putri, Mavie dan Mel, dengan kekasihnya saat ini, Bruna Biancardi. Ia juga memiliki seorang putri, Helena, dengan Amanda Kimberlly.
Situasi Neymar tidak jauh berbeda dengan Yuan Shao, yang harus berurusan dengan masalah Yuan Dan, Yuan Xi, dan Yuan Shang. Mereka semua adalah anak-anaknya, jadi dia tidak bisa memihak salah satu di antara mereka, dan kemudian ada komplikasi tambahan berupa campur tangan harem kekaisaran dalam pemerintahan, yang membuat semuanya semakin kacau.
Kehadiran Helena membuat situasi menjadi sensitif. Karena usianya masih sangat muda, Amanda Kimberlly hampir pasti harus menemani Helena jika ia pergi ke AS. Namun, sebuah sumber terdekat mengungkapkan bahwa Bruna Biancardi merasa tidak nyaman dengan kemungkinan ini dan tidak ingin Amanda ikut dalam perjalanan bersama keluarga Neymar.
Yang membuat Neymar khawatir adalah jika Helena tidak hadir bersama saudara-saudaranya di Piala Dunia, ia bisa terus menghadapi kritik dari publik Brasil.
Sumber: https://danviet.vn/world-cup-2026-con-11-ngay-dt-han-quoc-tim-gap-hoa-da-d1430901.html








Komentar (0)