
Dari dalam rumah dan di halaman hingga gerbang masuk, semuanya dihiasi dengan pecahan keramik yang berasal dari dinasti Han, Tang, Song, Ly, dan Tran.
"Si Bodoh" tanpa lelah mencari jiwa masa lalu.
Di rumah kecil yang tenang di desa Nha, komune Vinh An, Ibu Ho Thi Nga (istri Bapak Truong) masih mempertahankan kebiasaan membersihkan setiap piring dan mangkuk yang menempel di dinding. Matanya menatap penuh kerinduan pada dinding keramik, yang kini tertutup lapisan patina waktu. Kisah-kisah tentang mendiang suaminya, pria yang pernah disebut "si dungu" oleh tetangganya, kembali terlintas di benaknya seolah-olah baru terjadi kemarin.
Awalnya, Bapak Truong hanyalah seorang tukang kayu biasa. Kecintaannya pada barang antik dimulai ketika ia mengecat furnitur untuk seorang pedagang barang antik terkenal di bekas distrik Vinh Tuong. Barang-barang berusia berabad-abad dengan pola yang indah itu memikat hati tukang kayu muda tersebut. Sejak tahun 1986, di usia 24 tahun, ia memulai perjalanan mengoleksinya. Sepeda reyotnya membawanya melintasi jalan-jalan yang tak terhitung jumlahnya dari Cao Bang , Lang Son, dan Tuyen Quang hingga ke provinsi-provinsi yang jauh untuk mencari pecahan tembikar dan piring antik dari abad ke-17 dan ke-18.


Interior rumah tersebut terlihat sangat tidak biasa dan unik.
Ibu Nga mengenang tahun-tahun yang penuh kesulitan dan gosip itu: "Gairahnya begitu kuat hingga hampir ekstrem. Ada kalanya dia berburu barang antik sampai kehabisan uang, mobilnya kehabisan bensin, dan dia harus berjalan kaki hampir 20 kilometer untuk pulang. Bahkan ketika keluarganya sedang kesulitan keuangan, dia rela menggadaikan surat tanah untuk membeli barang-barang yang disukainya. Tetangga mengatakan dia gila, mengabaikan keuangan dan anak-anaknya daripada terlibat dengan pecahan tembikar."
Namun, mengatasi kemiskinan dan gosip, Tuan Truong diam-diam membawa pulang puluhan ribu barang antik. Baginya, setiap piring, setiap koin bukan hanya benda mati, tetapi kelanjutan sejarah. Ia khawatir keahlian leluhurnya akan hilang, dan barang-barang antik itu akan dijual ke luar negeri. Oleh karena itu, "memajangnya di dinding" menjadi cara unik untuk melindungi asetnya. Seperti yang diceritakan putranya, Nguyen Xuan: "Ayah saya biasa mengatakan bahwa memajangnya di dinding adalah cara terbaik untuk menjaganya tetap aman; pencuri tidak dapat mencurinya, dan orang luar tidak dapat mencoba menjualnya."
Sebuah warisan berharga di jantung kota Vinh An.
Rumah Bapak Truong saat ini diibaratkan sebagai "museum hidup," dengan lebih dari 10.000 mangkuk, piring, dan barang antik yang ditata dengan teliti di setiap dinding. Di ruang seluas lebih dari 100 meter persegi, dari gerbang masuk dan tangga hingga ruang tamu dan kamar tidur, semuanya dilapisi warna-warna antik keramik dari berbagai dinasti—Han, Tang, Song, Ly, Tran, Le, dan Nguyen—... Potongan-potongan porselen yang tampak tak bernyawa ini disusun menjadi sebuah karya seni yang unik, yang secara visual memukau dan kaya akan kedalaman budaya.

Bagi para pengunjung, datang ke rumah ini seperti melangkah ke dalam aliran sejarah.
Nguyen Xuan bercerita dengan penuh emosi: “Baru sekarang saya dan saudara laki-laki saya benar-benar memahami keinginan ayah kami. Beliau mengatakan kepada kami bahwa meskipun kami menjadi lebih sukses dan membeli tanah untuk membangun rumah baru, kami harus, dengan segala cara, mempertahankan rumah ini. Di sinilah cinta dan darahnya bersemayam, intisari dari 35 tahun hubungannya dengan keluarga kami.”
Daya tarik rumah ini tidak hanya terletak pada jumlah artefaknya, tetapi juga pada kisah yang diceritakannya. Meskipun ia meninggal pada tahun 2024, rumah ini tetap terbuka untuk pengunjung dari seluruh dunia. Mulai dari wisatawan domestik hingga tamu internasional dari jauh seperti Amerika Serikat, setiap orang yang berkunjung takjub dengan kreativitas yang luar biasa. Nguyen Minh Tuan, seorang wisatawan dari Hanoi, tidak dapat menyembunyikan kekagumannya: "Saya merasa seperti tersesat dalam arus sejarah. Benda-benda yang tampaknya dibuang telah disusun dengan cara yang sangat artistik. Setiap sudut menceritakan kisah tentang budaya keramik Vietnam."



Dari gerbang hingga ke rumah, ribuan piring antik dan vas porselen terpasang.
Bagi Ibu Le Thi Lan Anh, seorang turis dari Amerika Serikat, perpaduan arsitektur modern dan artefak kuno merupakan pengalaman yang "berani dan canggih". Ibu Nga, wanita pekerja keras di masa lalu, kini merasa bangga bahwa warisan suaminya dihargai oleh semua orang. Setiap hari, ia tinggal di rumah untuk menyambut tamu, menceritakan perjalanan berburu barang antik suaminya, dan dengan teliti membersihkan setiap barang agar tetap berkilau di bawah sinar matahari musim panas.
Rumah Piring di komune Vinh An bukan hanya struktur arsitektur yang unik, tetapi juga bukti kecintaan murni terhadap warisan budaya. Ini adalah pesan dari masa lalu, bahwa bahkan di tengah kesulitan kehidupan sehari-hari dan kenyataan pahit dalam memenuhi kebutuhan hidup, jiwa manusia selalu memiliki momen refleksi tenang yang didedikasikan untuk keindahan dan nilai-nilai budaya yang perlu dihargai dan dilestarikan untuk generasi mendatang.
Ngoc Thang
Sumber: https://baophutho.vn/ngoi-nha-bao-tang-and-hanh-trinh-giu-hon-di-san-254963.htm








Komentar (0)