![]() |
Qatar bermain imbang dengan Swiss untuk meraih poin pertama mereka di Piala Dunia. |
Selama hampir 100 tahun, Piala Dunia telah menjadi kompetisi eksklusif antara Eropa dan Amerika Selatan. Dari Uruguay pada tahun 1930 hingga Argentina pada tahun 2022, trofi emas tersebut tidak pernah meninggalkan kedua wilayah ini. Namun, awal Piala Dunia 2026 mulai menceritakan kisah yang berbeda.
Para raksasa itu tidak lagi mendominasi.
Setelah enam pertandingan pertama turnamen, belum ada perwakilan dari Eropa atau Amerika Selatan yang berhasil meraih kemenangan, meskipun mereka tampil di sebagian besar pertandingan melawan lawan dari wilayah lain.
Pertama, ada kasus Republik Ceko. Perwakilan Eropa ini bahkan sempat unggul melawan Korea Selatan, tetapi pada akhirnya tetap menderita kekalahan 1-2. Yang patut diperhatikan bukanlah skornya, tetapi bagaimana jalannya pertandingan.
Korea Selatan menguasai bola selama 61% waktu pertandingan, melepaskan 15 tembakan, dua kali lipat dari lawan mereka. Nilai expected goals (xG) tim Asia ini mencapai 2,4, sekitar tiga kali lebih tinggi daripada Republik Ceko. Ini bukanlah kemenangan karena keberuntungan, melainkan penampilan yang benar-benar dominan dari perwakilan Asia Timur.
Bosnia terus menyulitkan Eropa dengan hanya mampu meraih hasil imbang 1-1 melawan Kanada. Tim Balkan itu hanya memiliki 39% penguasaan bola dan hanya melepaskan 8 tembakan dibandingkan dengan 13 tembakan dari tim tuan rumah. Kanada juga menciptakan lebih banyak peluang berbahaya dengan xG 1,23 dibandingkan dengan 0,98 milik Bosnia.
Meskipun Republik Ceko dan Bosnia dianggap sebagai tim yang lebih lemah di Eropa, hasil Swiss melawan Qatar jauh lebih mengejutkan. Tim yang berada di peringkat ke-17 dalam peringkat FIFA ini mendominasi Qatar hampir sepanjang pertandingan, melepaskan 26 tembakan dan membukukan xG sebesar 3,24. Namun, penyelesaian akhir mereka yang buruk membuat mereka hanya berhasil mencetak satu gol sebelum kebobolan gol peny equalizer pada menit ke-94.
Qatar, yang kalah dalam ketiga pertandingan babak penyisihan grup di kandang sendiri pada Piala Dunia 2022, meraih poin pertama mereka di Piala Dunia dengan bermain imbang melawan salah satu tim paling konsisten di Eropa.
![]() |
Brasil tidak mampu mendominasi Maroko. |
Dunia datar semakin mempersempit kesenjangan setiap hari.
Sementara Eropa mengecewakan, Amerika Selatan pun tidak lebih baik. Paraguay memulai kampanye Piala Dunia mereka dengan kekalahan telak 1-4 melawan tuan rumah AS. Itu adalah pertandingan di mana tim Amerika Selatan hampir sepenuhnya kalah dalam hal kecepatan dan kekuatan lawan mereka.
Para penggemar Amerika Selatan kemudian menaruh harapan besar pada Brasil, tim paling sukses dalam sejarah Piala Dunia. Namun, Selecao juga gagal membawa kebahagiaan.
Melawan Maroko, Brasil bermain imbang 1-1 dalam pertandingan di mana mereka tidak menunjukkan tanda-tanda sebagai tim yang lebih unggul. Bahkan, jika dilihat dari statistik, tim Afrika tersebut adalah tim yang lebih baik. Maroko memiliki 14 tembakan ke gawang dibandingkan dengan 12 tembakan Brasil. xG (xentures per game) tim Afrika Utara adalah 1,52, jauh lebih tinggi daripada Selecao yang hanya 1,23. Oleh karena itu, hasil imbang tersebut secara akurat mencerminkan keseimbangan kekuatan di lapangan.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa sepak bola dunia memasuki fase yang jauh lebih seimbang daripada sebelumnya. Kesenjangan antara berbagai negara sepak bola tidak lagi sebesar beberapa dekade lalu.
![]() |
Brasil hanya mampu meraih hasil imbang melawan Maroko. |
Tim-tim Asia semakin banyak memiliki pemain yang bermain di Eropa. Perwakilan Afrika juga mendapat manfaat dari sistem pelatihan modern dan kumpulan pemain berkualitas yang berkompetisi di liga-liga top Eropa.
Bahkan kawasan CONCACAF pun menunjukkan kemajuan yang signifikan. AS dan Kanada bukan lagi sekadar tim yang berpartisipasi di Piala Dunia untuk mendapatkan pengalaman, tetapi kini mampu bersaing setara dengan tim-tim dari Eropa dan Amerika Selatan.
Perluasan Piala Dunia oleh FIFA menjadi 48 tim juga telah memberikan peluang bagi banyak negara sepak bola yang sedang berkembang untuk berkompetisi di level tertinggi. Asia memiliki 9 perwakilan di babak final, sementara Afrika menyumbangkan 10 tim. Ini adalah jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah.
Tentu saja, masih terlalu dini untuk mengatakan apakah Eropa dan Amerika Selatan telah kehilangan posisi dominannya. Para pesaing utama seperti Inggris, Prancis, Spanyol, Jerman, Argentina, dan Brasil masih memiliki tim yang sangat kuat dan sangat mampu melaju jauh.
Namun, pertandingan pembuka mengirimkan pesan yang jelas: sepak bola dunia bukan lagi panggung eksklusif dari dua benua tradisional. Tim-tim yang dulunya dianggap "tim underdog" kini mampu mengendalikan permainan, menciptakan lebih banyak peluang, dan bahkan mengalahkan lawan-lawan ternama.
Piala Dunia 2026 baru saja dimulai. Tetapi jika apa yang terjadi di minggu pertama terus berlanjut, turnamen di Amerika Utara ini bisa jadi merupakan Piala Dunia yang menyaksikan pergeseran kekuatan paling dramatis dalam sejarah sepak bola dunia.
Sumber: https://znews.vn/world-cup-2026-mo-ra-mot-trat-tu-moi-post1659536.html

































































