Sejak lama, ketan lima warna dikenal sebagai hidangan khas dan makanan tradisional yang disajikan saat festival dan hari raya oleh kelompok etnis Muong (komune Tan Phu, distrik Tan Son, provinsi Phu Tho). Ketan lima warna melambangkan yin dan yang serta lima elemen, mewakili solidaritas komunitas etnis Muong khususnya dan komunitas etnis pada umumnya.

Seri foto karya penulis Nguyen Thi Thuy Hang yang berjudul "Nasi Ketan Lima Warna" akan memberikan pemahaman yang lebih jelas tentang proses pembuatan nasi ketan lima warna yang teliti, mulai dari memilih beras ketan hingga memasak daun, menumbuk daun dan akar untuk mengekstrak air berwarna yang dicampur dengan beras. Proses memasak harus tepat untuk memastikan sepanci nasi ketan dengan warna yang kaya, dan warnanya tidak tercampur. Nasi ketan yang matang membutuhkan keterampilan tangan orang yang menyendok, meratakan, dan mencampur lapisan nasi berwarna untuk menciptakan
hidangan nasi ketan lima warna yang menarik secara visual dan lezat dengan aroma khas pegunungan dan hutan. Seri foto ini dikirimkan oleh penulis ke Kontes Foto dan Video Happy Vietnam, yang diselenggarakan oleh
Kementerian Informasi dan Komunikasi .

Bahan-bahan untuk membuat ketan ungu, biru, dan merah berasal dari perendaman beras dalam tiga jenis daun dari tanaman Com Nap; warna kuning berasal dari bunga kering tanaman hutan; dan warna putih dibuat dari beras biasa, menghasilkan lima warna yang indah.


Untuk memastikan warna yang indah, para pengumpul daun harus menghindari pencampuran tanaman dengan warna berbeda. Selanjutnya, ada proses yang teliti yaitu memasak dan menumbuk daun dan akar untuk mengekstrak cairan berwarna, yang kemudian dicampur ke dalam beras ketan untuk menciptakan warna yang diinginkan. Beras ketan, setelah direndam dalam air, dicampur dengan berbagai warna dan dibiarkan direndam semalaman agar warnanya meresap ke setiap butir. Ketelitian hidangan nasi ketan lima warna ini juga terletak pada kenyataan bahwa tanaman dan daun dengan warna berbeda harus dimasak dalam panci terpisah untuk mencegah pencampuran warna.

Proses pembuatan nasi ketan lima warna juga membutuhkan kepekaan rasa yang tinggi dari juru masak untuk memastikan nasi dimasak dalam waktu yang tepat, matang sempurna, dan memiliki warna yang sesuai.

Proses mengukus nasi ketan juga sama telitinya, karena juru masak harus dengan hati-hati menempatkan setiap lapisan nasi berwarna ke dalam pengukus. Nasi yang diwarnai dengan warna-warna kuat yang mudah luntur ke warna lain, seperti kuning, merah, dan ungu, biasanya diletakkan di bagian bawah pengukus, dipisahkan oleh daun pisang, dan lapisan atasnya harus berupa nasi ketan putih asli. Nasi putih diletakkan di atas untuk mencegahnya terwarnai oleh warna lain.


Masyarakat Muong percaya bahwa lima warna ketan melambangkan filosofi lima elemen, yin dan yang, serta harmoni manusia. Merah melambangkan Api, putih melambangkan Logam, biru melambangkan Air, kuning melambangkan Bumi, dan ungu melambangkan Kayu. Pada saat yang sama, hal itu juga mengekspresikan solidaritas masyarakat Muong khususnya dan kelompok etnis di wilayah Barat Laut pada umumnya. Warna-warna ketan juga mencerminkan aspirasi masyarakat Muong untuk kehidupan yang harmonis dengan langit dan bumi, reuni keluarga, kohesi komunitas, dan keberuntungan. Mungkin itulah sebabnya ketan lima warna sering disajikan untuk festival, hari raya, dan jamuan makan untuk menyambut tamu kehormatan. Ketan lima warna sering hadir di altar selama Tahun Baru Imlek atau pada hari bulan purnama di bulan pertama, kelima, dan kedelapan kalender lunar untuk memuja leluhur, sebagai penegasan bakti kepada orang tua yang mengingat akar leluhur mereka.
Vietnam.vn
Komentar (0)