Di mana halaman-halaman lama tak pernah tertutup
Di Jalan Yersin, yang dikenal sebagai "jalan mode " yang ramai di distrik Thu Dau Mot, hanya sedikit orang yang memperhatikan papan nama kecil dan sederhana yang diletakkan di trotoar. Sekitar 50 meter menyusuri gang buntu, terbentang sebuah ruang yang sama sekali berbeda: toko buku bekas milik Ibu Nguyen Thi Kim Nga, yang terletak tenang di ujung gang tersebut.
Tanpa papan nama yang mencolok atau etalase toko yang megah, toko buku kecil ini bagaikan nada tenang dalam simfoni perkotaan. Namun begitu masuk ke dalam, seseorang akan langsung terhanyut ke dalam dunia halaman-halaman usang, di mana ribuan buku lama tersusun rapi di rak-rak kayu, menunggu para pencinta buku sejati untuk menemukannya.

Ibu Nga telah menghabiskan 30 tahun dikelilingi oleh buku-buku yang sarat akan sejarah.
Perjalanan Nga selama lebih dari 30 tahun yang didedikasikan untuk buku dimulai dengan sebuah kebetulan yang sangat sederhana. Sekitar tahun 1994, ketika ia masih muda dan belum menikah, ia membuka toko kue kecil dan toko serba ada di Jalan Yersin, tempat yang lalu lintasnya lebih sedikit dan jauh lebih tenang daripada sekarang. Di depan toko Nga tinggal sepasang suami istri yang mencari nafkah dengan menjual buku bekas. Pada hari-hari hujan, mereka sering mampir ke tokonya untuk berteduh. Sebagai pecinta buku sejak kecil, Nga dengan antusias meminjam dan membaca setiap buku dari mereka, mulai dari buku komik dan novel hingga buku referensi.
Kemudian suatu hari, pasangan itu memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan mereka dan kembali ke kampung halaman untuk memulai bisnis. Ibu Nga membeli kembali semua buku bekas yang tersisa, sebagai cara untuk melanjutkan jalan yang belum selesai dalam menyebarkan pengetahuan. Dia mengimpor lebih banyak buku, mengkategorikannya berdasarkan subjek, membeli rak, dan menata ulang ruangan. Dari situlah, toko buku bekas "Ibu Nga" resmi lahir. "Saat itu, orang-orang sangat menyukai membaca. Seorang siswa akan menemukan buku komik yang sudah tidak terbit atau buku referensi langka dan wajah mereka akan berseri-seri gembira. Melihat betapa pelanggan menyukai buku, saya jatuh cinta dengan bisnis penjualan buku bekas," kenang Ibu Nga.
Kenangan akan era yang telah berlalu bagi banyak generasi.
Seiring waktu berlalu, jalanan berubah, dan banyak toko buku tua tutup satu demi satu. Hanya toko buku milik Ibu Nga yang bertahan, tetap menjadi saksi bisu budaya membaca di daerah Thu Duc. Meskipun tidak lagi memiliki suasana ramai seperti dulu, rak-raknya masih penuh, dan buku-buku tersebut dipelihara dengan cermat seperti pada awalnya.
Pada awal tahun 2024, sebuah kemunduran besar menimpa Ibu Nga. Sebuah kecelakaan lalu lintas sangat memengaruhi kesehatannya, dan lahan tempat toko bukunya berada direncanakan untuk dihancurkan. Kerabat membantu memindahkan semua buku kembali ke rumah, beberapa ratus meter dari lokasi lama. Pada saat itu, Ibu Nga mempertimbangkan untuk berhenti dari profesinya. Tetapi kecintaannya pada buku, bersama dengan keyakinannya pada nilai pengetahuan yang abadi, membantunya bangkit kembali. Toko buku bekas itu dibuka kembali di rumahnya, yang terletak di dalam sebuah gang, dengan jumlah pelanggan yang lebih sedikit, tetapi tetap mempertahankan semangat aslinya.
Ruang toko buku saat ini hanya sekitar 25 meter persegi , tetapi tertata dengan jelas: mulai dari buku teks, buku referensi, komik, novel, sains populer hingga musik , lukisan, kerajinan tangan, dan banyak lagi. Yang menarik, toko ini masih menyimpan banyak surat kabar dan publikasi lama yang pernah terkait dengan masa kecil generasi yang lahir di tahun 70-an, 80-an, dan 90-an. Pembaca dari berbagai usia dan profesi datang ke toko buku ini. Beberapa datang untuk mencari buku untuk belajar dan penelitian; yang lain mencari buku yang membangkitkan kenangan masa kecil; dan beberapa membeli buku untuk disumbangkan kepada anak-anak di daerah terpencil.
Di era digital, di mana buku elektronik, perangkat pintar, dan berbagai bentuk hiburan daring berkuasa, keberadaan toko buku bekas seperti milik Ibu Nga sangat langka dan berharga. Setelah berkecimpung dalam bisnis ini selama tiga puluh tahun, kekayaan terbesarnya adalah dukungan dari keluarganya. Meskipun putranya memiliki pekerjaan yang stabil, ia masih rutin membantu ibunya mengatur dan merapikan rak-rak buku.
Di tengah kota yang berkembang pesat, toko buku tua di gang kecil itu dengan tenang membuka pintunya setiap pagi, menunggu para pencinta buku untuk menemukannya. Tanpa gembar-gembor atau kemewahan, toko buku ini diam-diam melestarikan keindahan budaya, sebuah bukti abadi akan nilai pengetahuan yang tak lekang oleh waktu.
Meskipun menjual buku bekas, Ibu Nguyen Thi Kim Nga sangat menekankan asal usul buku dan sama sekali menolak menerima salinan bajakan. "Saya telah berbicara dengan banyak penulis dan memahami nilai setiap tetes keringat yang mereka curahkan ke dalam karya intelektual mereka. Itu adalah kekayaan intelektual dan masalah hak intelektual," kata Ibu Nga.
SUASANA HATI
Sumber: https://www.sggp.org.vn/30-nam-giu-lua-tinh-yeu-sach-post837809.html






Komentar (0)