![]() |
Gabriel Palmero dan enam pemain Malaysia lainnya sedang menunggu putusan. |
Di Kuala Lumpur, perhatian tertuju pada keputusan CAS terkait Gabriel Palmero, Facundo Garces, Rodrigo Holgado, Imanol Machuca, Joao Figueiredo, Jon Irazabal, dan Hector Hevel.
September lalu, FIFA menjatuhkan sanksi larangan bermain selama 12 bulan kepada kelompok pemain ini karena menggunakan dokumen yang tidak valid selama proses pendaftaran untuk bermain di tim nasional Malaysia.
Menurut pengacara olahraga Nik Erman Nik Roseli, CAS akan mempertimbangkan semua argumen yang disampaikan oleh tim hukum Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM) selama persidangan.
Ia menyatakan: "Saya percaya ada alasan untuk mengurangi hukuman karena para pemain tidak terlibat langsung dalam pemalsuan tersebut. Namun, ada juga alasan untuk mempertahankan hukuman atau bahkan meningkatkannya. Para pemain sebenarnya tidak peduli dengan proses pengajuan berkas dan ditemukan telah memberikan pernyataan yang kontradiktif selama proses banding dengan FIFA."
![]() |
Asosiasi Sepak Bola Malaysia sedang menunggu keputusan dari CAS. |
Pada Januari lalu, CAS mengizinkan penangguhan sementara hukuman tersebut, memungkinkan para pemain untuk terus berkompetisi sambil menunggu putusan. Namun, pengacara tersebut menekankan bahwa penangguhan tersebut tidak mencerminkan kemungkinan memenangkan kasus. Menurutnya, ini hanyalah tindakan untuk mempertahankan status quo, memberikan dasar awal untuk mempertimbangkan banding, dan bukan kesimpulan atas pokok perkara.
Nik Erman mencatat bahwa titik balik terjadi ketika FAM mengakui telah mengubah dokumen selama sidang dengan FIFA. Ia memuji kejujuran mereka tetapi menyarankan bahwa keputusan tersebut mungkin tidak sepenuhnya mempertimbangkan konsekuensi hukumnya.
Ia mengajukan serangkaian pertanyaan: Siapa yang melakukan pengeditan, bagaimana proses pencatatan datanya, dan siapa atau departemen mana yang bertanggung jawab? Menurutnya, sepak bola Malaysia perlu mengklarifikasi poin-poin ini sebelum mengambil pelajaran apa pun.
Namun, Nik Erman menegaskan bahwa kontroversi saat ini bukan berarti program naturalisasi harus dihentikan. Yang terpenting adalah memperketat tata kelola dan memastikan transparansi dalam proses untuk menghindari pengulangan kesalahan di masa mendatang.
Sumber: https://znews.vn/7-cau-thu-malaysia-kho-trang-an-post1630313.html








Komentar (0)