
Cangkir teh di dalam ruangan
Selama bertahun-tahun, saya terbiasa bangun sekitar pukul 3 pagi. Saat semuanya masih sunyi, saya menyeduh secangkir teh, menyeruputnya perlahan, dan mulai belajar sebelum memulai latihan meditasi saya pukul 4 pagi. Teh itu memiliki rasa sedikit pahit di ujung lidah saya, kemudian perlahan melunak di tenggorokan saya, membantu pikiran saya menjadi waspada. Dalam kesunyian pagi hari, secangkir kecil teh itu seperti jeda, memungkinkan praktisi untuk merenung sebelum memulai hari yang baru.

Teh pagi
Ketika saya pergi ke India untuk belajar di Universitas Hindu Banaras, saya tetap membawa teh. Universitas tersebut terletak di Varanasi, salah satu kota tertua di India, di tepi Sungai Gangga yang suci. Di negara asing dengan iklim dan ritme kehidupan yang berbeda, teko kecil itu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari saya.
Musim dingin di sini sangat dingin, dengan suhu kadang-kadang turun di bawah 10 derajat Celcius. Dalam cuaca sedingin itu, meninggalkan tempat tidurku yang hangat pukul tiga pagi tidak selalu mudah. Tapi aku tetap mempertahankan kebiasaan menyeduh secangkir teh panas. Di kamarku yang kecil, uap teh perlahan naik di malam musim dingin yang tenang. Secangkir teh di tanganku menghangatkan tubuhku dan mengingatkanku untuk tetap menjalankan gaya hidup disiplin seorang biksu.

Obrolan Teh
Ada kalanya di sore hari, kami – sesama biarawan yang belajar jauh dari rumah – duduk bersama sambil menikmati secangkir teh. Dari cangkir teh itu, percakapan perlahan-lahan terungkap: tentang studi, tentang kehidupan biara, tentang kehidupan di negeri asing. Pertemuan minum teh sederhana ini tidak berisik, tetapi sering kali membuat pendengar merenung dalam keheningan.

Teko kecil itu berfungsi sebagai momen refleksi tenang bagi praktisi sebelum memulai hari baru.
Di tengah studi saya di luar negeri, saya masih mempertahankan kebiasaan menyeduh secangkir teh setiap pagi. Dalam uap hangat teh di pagi hari, saya merasakan lebih jelas kebangkitan hari baru – dan entah bagaimana, cita rasa rumah diam-diam menemani saya dalam perjalanan belajar saya.
(Karya yang diikutsertakan dalam kontes "Kesan tentang Kopi dan Teh Vietnam" tahun 2026, bagian dari program "Merayakan Kopi dan Teh Vietnam" ke-4 yang diselenggarakan oleh Surat Kabar Nguoi Lao Dong).


Sumber: https://nld.com.vn/am-tra-luc-3-gio-sang-196260316081402884.htm






Komentar (0)