
Perjanjian tersebut akan ditandatangani di London selama pertemuan antara Perdana Menteri Polandia Donald Tusk dan mitranya dari Inggris, Keir Starmer. Menurut pemerintah Inggris, perjanjian tersebut akan membantu memperkuat keamanan perbatasan, memerangi kejahatan terorganisir, memperluas kerja sama pertahanan, dan mendorong koordinasi yang lebih erat dengan Uni Eropa (UE).
Selain itu, kedua negara akan bekerja sama untuk meningkatkan kemampuan industri dan teknologi guna mengembangkan senjata modern, termasuk amunisi canggih dan program produksi bersama untuk rudal anti-pesawat jarak menengah.
Kedua pemimpin tersebut juga diperkirakan akan membahas peningkatan risiko "serangan hibrida" di Eropa, termasuk serangan pembakaran di London Timur dan daerah lain di seluruh Eropa, serta spionase dan serangan siber.
Berbicara menjelang upacara penandatanganan, Perdana Menteri Inggris Starmer menyatakan bahwa tantangan keamanan saat ini mengharuskan kedua negara untuk membangun kemitraan yang lebih erat. Ia menekankan bahwa ini adalah langkah maju terbesar dalam hubungan pertahanan dan keamanan antara kedua negara dalam beberapa dekade, membantu kedua belah pihak untuk mengatasi ancaman modern.
Dari pihak Polandia, Perdana Menteri Donald Tusk menyebut penandatanganan perjanjian itu sebagai "momen bersejarah." Ia mengatakan bahwa, selain pertahanan, bagian penting dari perjanjian tersebut akan berfokus pada keamanan siber. Warsawa telah lama memperingatkan bahwa peran sentralnya dalam menyalurkan bantuan militer ke Ukraina telah menjadikan negara itu sebagai target spionase, serangan siber, dan kampanye disinformasi.
Perjanjian baru dengan Polandia dipandang sebagai bagian dari strategi Inggris yang lebih luas untuk memperkuat hubungan keamanan dengan sekutu-sekutu Eropa. London sebelumnya telah menandatangani perjanjian pertahanan serupa dengan Prancis dan Jerman. Sementara itu, Polandia juga telah menandatangani perjanjian pertahanan dengan Prancis pada tahun 2025 dan sedang mengupayakan perjanjian serupa dengan Jerman.
Para pengamat percaya bahwa tren negara-negara Eropa memperkuat aliansi pertahanan bilateral mencerminkan meningkatnya kekhawatiran tentang lingkungan keamanan regional, terutama karena pemerintahan Presiden AS Donald Trump berulang kali mendesak Eropa untuk memikul lebih banyak tanggung jawab atas keamanannya sendiri.
Menurut Reuters
Sumber: https://hanoimoi.vn/anh-va-ba-lan-ky-hiep-uoc-quoc-phong-va-an-ninh-moi-972297.html










Komentar (0)