
Kerbau nomor 17 disembelih di Festival Adu Kerbau Hai Luu pada tahun 2025. (Foto: Duc Thinh)
Bagi kerbau-kerbau yang berpartisipasi dalam festival ini, perjalanan tidak hanya terbatas pada pertarungan itu sendiri. Sebelumnya, ada proses seleksi dan pelatihan untuk mempersiapkan mereka menghadapi kompetisi. Begitu berada di dalam arena, mereka diprovokasi, dipaksa menghadapi konfrontasi langsung hidup dan mati dengan lawan mereka, menahan benturan keras, cedera, dan tekanan luar biasa di tengah kerumunan puluhan ribu orang.
Setelah pertandingan, terlepas dari menang atau kalah, hasilnya tetap hampir tidak berubah: kerbau-kerbau itu disembelih dan dikonsumsi tepat di luar arena. Bagi sebagian pengunjung, daging kerbau petarung ini bahkan dianggap sebagai simbol keberuntungan atau "kemakmuran" setelah festival.
Selama bertahun-tahun, sifat kekerasan dari festival adu kerbau telah memicu perdebatan yang cukup besar. Namun, baru pada tahun 2025 sebuah insiden di festival adu kerbau tradisional di komune Hai Luu ( provinsi Phu Tho ) menarik perhatian publik yang signifikan (festival adu kerbau Hai Luu di provinsi Phu Tho pada tahun 2026, yang diadakan pada tanggal 16 dan 17 bulan pertama kalender lunar, adalah salah satu festival adu kerbau tertua di Vietnam, yang melambangkan semangat bela diri masyarakat Vietnam kuno).
Selama babak kualifikasi, kerbau nomor 17, setelah kalah, mengalami kepanikan dan kehilangan kendali. Ketika tindakan pengendalian terbukti tidak efektif, hewan itu segera ditangani di arena. Gambar kerbau yang roboh setelah tersengat listrik, kemudian dengan cepat dibawa pergi untuk disembelih, menimbulkan kej震惊 dan memicu banyak kontroversi.
Sebagian orang percaya bahwa ini adalah insiden yang tidak disengaja. Namun, banyak orang lain berpendapat bahwa peristiwa tersebut mencerminkan konsekuensi dari suatu aktivitas yang menempatkan hewan dalam lingkungan yang tegang, penuh kekerasan, dan berisiko tinggi, yang tidak mencerminkan sifat alami spesies tersebut.
Ibu Thuy Duong, perwakilan dari Animals Asia, menyatakan: “Dalam festival adu kerbau, setiap kerbau disebut dengan sebuah nomor. Tetapi di balik nomor itu terdapat makhluk hidup, yang mampu merasakan sakit, stres, dan takut. Yang penting adalah mereka tidak berpartisipasi secara sukarela dan tidak memiliki kesempatan untuk memilih hasil yang berbeda.”
“Tidak semua yang disebut tradisi perlu dilestarikan. Masyarakat yang beradab tidak diukur dari jumlah ritual lama yang dipertahankan, tetapi dari keberanian untuk menghilangkan praktik-praktik yang berbahaya dan ketinggalan zaman, agar dapat bergerak menuju nilai-nilai yang lebih progresif dan manusiawi. Cara kita memperlakukan kehidupan yang rentan juga paling jelas mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan komunitas kita,” tegas Ibu Duong, dan berharap pemerintah dapat menemukan solusi yang lebih sehat.
Di tengah beragam pendapat yang ada mengenai mempertahankan atau memodifikasi festival ini, satu fakta tetap ada: kerbau-kerbau itu masih memasuki arena dengan kedok festival dan meninggalkannya dalam keadaan mati.
Oleh karena itu, kisah ini melampaui sekadar festival tradisional, dan mengangkat pertanyaan yang lebih besar tentang bagaimana masyarakat dapat menyeimbangkan pelestarian budaya dengan kebutuhan untuk memastikan keselamatan dan perlakuan manusiawi terhadap hewan dalam konteks saat ini.
Sumber: https://baophapluat.vn/bi-kich-so-phan-con-trau-tai-le-choi-trau.html






Komentar (0)