Banyak dari ruang hijau ini adalah taman sementara yang dibuat dari lahan terbengkalai atau proyek yang sudah lama tertunda. Hanya dengan sedikit pembersihan dan pembukaan, area yang sebelumnya terabaikan ini langsung dipenuhi orang. Hal ini semakin menunjukkan bahwa keputusan kepemimpinan Kota Ho Chi Minh untuk menggunakan lahan kosong sebagai taman sementara adalah langkah populer yang menjawab kebutuhan masyarakat. Hanya sebidang kecil lahan yang dikembalikan kepada masyarakat sudah cukup untuk menciptakan lebih banyak ruang hidup, berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup dan lanskap perkotaan.
Namun jika kita hanya berhenti pada taman sementara, solusi tersebut akan tetap bersifat jangka pendek.
Harus diakui secara jujur bahwa Kota Ho Chi Minh bukannya kekurangan perencanaan ruang hijau, melainkan kekurangan implementasi yang tegas. Urbanisasi yang cepat dan peningkatan populasi yang tajam telah mengakibatkan rendahnya ruang hijau per kapita. Tingginya biaya lahan berarti bahwa ruang publik, terutama taman, seringkali menyusut atau lambat berkembang. Oleh karena itu, kekurangan ruang hijau bukan lagi sekadar masalah perencanaan, tetapi telah menjadi masalah kualitas hidup bagi jutaan penduduk.
Dari perspektif manajemen, kota ini memiliki arah yang jelas. Resolusi Kongres Pertama Komite Partai Kota Ho Chi Minh, periode 2025-2030, menetapkan persyaratan untuk meningkatkan luas ruang hijau dan taman, mengidentifikasinya sebagai komponen penting pembangunan perkotaan. Bersamaan dengan itu, program pengembangan taman dan ruang hijau publik untuk periode 2020-2030 bertujuan untuk meningkatkan luas ruang hijau publik menjadi minimal 1 m2/orang, sementara saat ini hanya mencapai sekitar 0,57 m2/orang. Angka-angka ini menunjukkan tekad, tetapi juga menyoroti kesenjangan yang signifikan antara realitas dan kebutuhan.
Patut dicatat bahwa penyesuaian terbaru oleh Kota Ho Chi Minh bergerak ke arah mengembalikan ruang kepada masyarakat. Penghentian proyek kompleks Nha Rong Khanh Hoi untuk memberi jalan bagi taman, atau pengubahan lahan di Jalan Ly Thai To 1 menjadi ruang hijau, merupakan langkah penting. Lebih lanjut, penyesuaian pada proyek Orkestra Simfoni menunjukkan pergeseran pola pikir, yang memprioritaskan ruang publik dan manfaat jangka panjang bagi warga. Keputusan-keputusan ini tidak hanya menyelesaikan masalah perencanaan kota tetapi juga secara langsung meningkatkan lingkungan hidup perkotaan.
Proyek-proyek yang terhenti selama bertahun-tahun tidak hanya membuang sumber daya, tetapi juga melewatkan kesempatan untuk menciptakan ruang hijau yang seharusnya sudah dapat digunakan oleh masyarakat sejak lama. Masalahnya bukan terletak pada kurangnya perencanaan, tetapi pada kecepatan dan ketegasan pelaksanaannya, yang membutuhkan tindakan yang lebih cepat dan lebih tegas untuk mengembalikan ruang-ruang ini kepada masyarakat.
Sudah saatnya pendekatan yang berbeda untuk perencanaan kota, pendekatan yang benar-benar menempatkan manusia sebagai pusatnya. Taman tidak lagi dapat dianggap sebagai "tambahan," tetapi harus menjadi infrastruktur penting, setara dengan transportasi atau utilitas. Setiap kawasan permukiman harus memiliki ruang hijau, dan lahan publik harus diprioritaskan untuk masyarakat.
Sekretaris Jenderal dan Presiden To Lam, saat mempersembahkan dupa di situs bersejarah Kuil Hung pada tanggal 26 April, menyatakan bahwa semua kebijakan dan pedoman harus diarahkan untuk kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat.
Kota yang layak huni tidak hanya diukur dari ketinggian bangunannya, tetapi juga dari ruang hijau yang disediakannya bagi warganya setiap hari. Kota Ho Chi Minh telah mengambil langkah-langkah yang tepat, dan langkah-langkah ini perlu diimplementasikan lebih kuat dan dalam skala yang lebih luas agar dapat mewujudkan potensinya sebagai metropolis modern yang layak huni.
Menurut Vu Phuong (TNO)
Sumber: https://baogialai.com.vn/can-lam-nhung-khong-gian-xanh-post585867.html






Komentar (0)