Mengalami kesulitan dalam "mengalihkan kepemilikan" kartu SIM.
Menurut peraturan banyak operator jaringan seluler, untuk menyelesaikan prosedur pengalihan kepemilikan, baik pelanggan terdaftar maupun pengguna saat ini harus hadir di loket transaksi. Ini hampir merupakan persyaratan yang mustahil untuk dipenuhi dalam banyak kasus.
Menemukan orang yang namanya tertera di nomor telepon puluhan tahun lalu untuk meminta mereka pergi ke pusat layanan adalah hal yang mustahil. Paradoks ini membuat banyak pengguna sayangnya menghadapi risiko harus meninggalkan nomor telepon yang telah mereka gunakan untuk waktu yang lama untuk bisnis dan komunikasi.

Banyak pengguna perlu menggunakan layanan transfer SIM online karena mereka tidak dapat menghubungi pemilik sebelumnya (Screenshot).
Ibu Tran Thuy Linh (28 tahun, pemilik bisnis online) adalah salah satu contoh kasus tipikal. Ia mengatakan bahwa ia membeli kartu SIM sudah lama dari seorang penjual, sehingga ketika peraturan tentang standardisasi informasi mulai berlaku, ia benar-benar terjebak karena kartu SIM tersebut tidak terdaftar atas namanya.
"Penyedia jaringan mengharuskan baik pemilik kartu SIM maupun saya hadir di toko untuk menyelesaikan prosedur. Ini tidak mungkin karena saya sama sekali tidak tahu siapa pemilik kartu SIM tersebut. Saya bekerja di bidang penjualan online, dan nomor telepon ini sangat penting untuk menghubungi mitra dan mendaftar layanan perbankan, tetapi kemungkinan besar saya harus membuangnya dan membeli kartu SIM baru," ungkap Ibu Linh.
Kasus Ibu Linh bukanlah kasus yang unik. Banyak pengguna lain berada dalam situasi serupa. Ketika mereka mencari solusi di grup media sosial, mereka dengan cepat menerima banyak tawaran untuk membantu mereka mentransfer informasi pelanggan mereka dengan mudah.
Menurut laporan wartawan, iklan layanan transfer kepemilikan kartu SIM ilegal sering muncul di media sosial, dengan janji-janji seperti "tidak perlu pemilik sebelumnya," "tidak perlu pergi ke toko," dan "selesai dalam 15 menit."
Harga untuk layanan "jalur belakang" ini berkisar antara sekitar 300.000 VND untuk pelanggan prabayar dan 700.000 VND untuk pelanggan pascabayar. Untuk menciptakan kesan yang kredibel, para pelaku sering menggunakan foto profil dengan mengenakan seragam penyedia jaringan.
Pengguna menstandarkan langganan mereka di titik transaksi VNPT (Foto: Doan Thuy).
Potensi penipuan
Ini adalah kerentanan berbahaya yang tidak hanya mengancam hak milik pengguna tetapi juga menimbulkan risiko penipuan dan penyalahgunaan aset di ruang digital.
Pakar keamanan siber Ngo Minh Hieu memperingatkan masyarakat untuk sama sekali tidak memberikan informasi pribadi, foto kartu identitas, foto potret, atau informasi rekening bank kepada orang asing di media sosial.
Menurut para ahli, tindakan ini membawa banyak risiko penipuan dan kebocoran data pribadi.
Menanggapi situasi ini, operator jaringan utama telah mengeluarkan peringatan dan menegaskan pengetatan prosedur operasional mereka untuk mencegah aktivitas penipuan sejak awal.
Orang-orang dapat memverifikasi informasi pelanggan mereka di aplikasi seluler (Foto: Viettel ).
Perwakilan dari MobiFone menegaskan bahwa proses saat ini untuk mengubah informasi pelanggan dikontrol dengan sangat ketat dan membutuhkan bukti nyata dari pengguna.
"Proses perubahan nama pemilik terdaftar memerlukan bukti dan keterangan penggunaan, dan hanya pengguna itu sendiri yang dapat memberikan informasi yang cukup. Selain itu, MobiFone telah mengeluarkan peringatan kepada saluran distribusinya mengenai larangan keras melanggar peraturan tentang perubahan nama pemilik terdaftar, yang dapat menyebabkan konsekuensi serius seperti penipuan dan penggelapan aset," kata seorang perwakilan MobiFone.
Layanan periklanan online seringkali memanfaatkan keengganan masyarakat untuk mengunjungi toko fisik. Namun, praktik ini secara serius melanggar peraturan penyedia layanan dan hukum.
Sejalan dengan hal itu, VNPT (VinaPhone) juga mengklarifikasi bahwa semua prosedur untuk memverifikasi ulang informasi pelanggan, sebagaimana dipersyaratkan oleh peraturan, harus dilakukan langsung oleh orang yang menggunakan kartu SIM, dengan tunduk pada batasan teknis yang ketat.
Untuk menjamin keamanan, masyarakat sangat disarankan untuk tidak menggunakan layanan perantara daring yang tidak terverifikasi untuk mengubah informasi pelanggan mereka.
Selain melakukan verifikasi melalui aplikasi seluler, masyarakat juga dapat langsung pergi ke gerai operator jaringan seluler (Foto: The Anh).
Standardisasi informasi harus dilakukan melalui saluran resmi seperti aplikasi penyedia jaringan (My Viettel, My VNPT, My MobiFone) atau langsung di titik transaksi resmi.
Operator jaringan seluler seperti Viettel, VNPT, dan MobiFone telah mendirikan puluhan ribu titik layanan di seluruh negeri, termasuk pada hari libur, untuk memastikan bahwa semua pelanggan dapat menstandarisasi data mereka dengan aman dan benar.
Mempercayai layanan "ilegal" ini tidak hanya menyebabkan orang kehilangan uang secara tidak perlu, tetapi juga berisiko kebocoran informasi pribadi, yang mengakibatkan konsekuensi hukum yang tidak dapat diprediksi di kemudian hari.
Menurut Surat Kabar Dan Tri
Sumber: https://baoangiang.com.vn/canh-giac-dich-vu-sang-ten-sim-tren-mang-a486662.html








Komentar (0)