Apakah ChatGPT menyebabkan nilai A meroket di universitas-universitas Amerika?
Penelitian baru di AS menunjukkan peningkatan tajam jumlah siswa yang menerima nilai A setelah diperkenalkannya ChatGPT, yang menimbulkan kekhawatiran bahwa AI menyebabkan "inflasi nilai".
Báo Khoa học và Đời sống•21/05/2026
Munculnya ChatGPT memicu perdebatan besar di pendidikan tinggi karena semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa AI mungkin berkontribusi pada nilai siswa yang luar biasa tinggi. Menurut sebuah studi baru di AS, jumlah mahasiswa yang meraih nilai A di universitas telah meningkat drastis sejak akhir tahun 2022, yaitu saat ChatGPT resmi diluncurkan dan dengan cepat menjadi alat pembelajaran yang populer di seluruh dunia. Igor Chirikov, penulis studi tersebut, mengatakan bahwa banyak siswa yang sebelumnya hanya menerima nilai C kini telah meningkat menjadi nilai A dengan memanfaatkan AI dalam tugas dan penelitian mereka.
Studi yang dilakukan berdasarkan data nilai dari tahun 2018–2025 di sebuah universitas besar di Texas dengan lebih dari 50.000 mahasiswa, menunjukkan peningkatan sekitar 30% pada mata pelajaran di mana AI secara efektif mendukung pembelajaran, seperti penulisan esai bahasa Inggris atau pemrograman. Sementara itu, mata pelajaran yang membutuhkan pengalaman langsung, seperti memahat, pekerjaan laboratorium, atau kerajinan tangan, hampir tidak menunjukkan perubahan signifikan dalam hasil pembelajaran setelah adopsi AI secara luas. Para ahli percaya bahwa generasi AI memperburuk masalah "inflasi nilai", terutama dalam tugas pekerjaan rumah di mana siswa dapat dengan mudah mengandalkan chatbot untuk menulis esai, menerjemahkan kode, atau meringkas dokumen hanya dalam beberapa menit. Banyak pengajar di AS telah mulai mengubah metode penilaian mereka dengan mewajibkan esai tulisan tangan, ujian lisan, atau evaluasi tatap muka untuk membatasi penyalahgunaan AI dalam pendidikan. Namun, banyak pakar pendidikan percaya bahwa larangan total terhadap AI tidak mungkin dilakukan di masa depan. Sebaliknya, universitas perlu mengembangkan model pembelajaran baru yang memungkinkan penggunaan AI secara transparan dan mengubah teknologi ini menjadi alat pendukung, bukan sebagai sarana kecurangan akademis.
Komentar (0)