Pelari sebaiknya mengenakan pakaian yang sesuai, menjaga tubuh tetap hangat, dan minum banyak air untuk meminimalkan dampak udara dingin pada sistem pernapasan mereka.
Berlari dalam suhu yang cukup dingin tidak membahayakan paru-paru individu yang sehat dan terkadang bahkan dapat meningkatkan performa olahraga. Namun, udara yang terlalu dingin dan kering dapat menyumbat saluran pernapasan karena otot-otot di sekitarnya berkontraksi dan lendir cenderung mengering dan mengental.
Menurut American Council on Exercise (ACE), saat berlari dalam cuaca dingin, sebagian besar masalah pernapasan berkaitan dengan sesak napas, terutama pada orang dengan kondisi paru-paru. Saat bernapas, hidung, mulut, dan tenggorokan menghangatkan udara yang masuk ke paru-paru, kemudian menaikkan suhunya hingga mendekati suhu tubuh. Terkadang, berlari menyebabkan udara masuk ke paru-paru terlalu cepat sebelum sempat menghangatkan diri, yang dapat menyebabkan bronkospasme.
Berikut beberapa tips untuk membantu melindungi sistem pernapasan Anda saat berlari di cuaca dingin.
Jaga agar hidung dan leher Anda tetap hangat.
Bahkan orang sehat pun dapat mengalami masalah pernapasan saat berolahraga di luar ruangan pada musim dingin. Mengenakan masker membantu melembabkan dan menghangatkan udara yang Anda hirup dibandingkan dengan bernapas langsung di udara terbuka. Udara yang mencapai kelembapan dan suhu yang tepat mengurangi sesak napas.
Membungkus leher dengan syal tipis, menutupi hidung, juga memberikan perlindungan. Saat jogging cepat, lepaskan masker Anda untuk menghindari kesulitan bernapas.
Bernapaslah melalui hidung.
Bernapas melalui hidung lebih baik daripada bernapas melalui mulut. Menggabungkan pernapasan hidung dengan menutupi wajah saat berada di luar ruangan akan mencegah sesak dada, sesak napas, dan bronkospasme yang disebabkan oleh pilek. Berlarilah dengan kecepatan konstan daripada berlari pendek-pendek untuk mengurangi jumlah udara dingin yang masuk ke paru-paru terlalu cepat, yang dapat menyebabkan sesak napas.
Awal
Otot yang tidak dihangatkan dan terpapar udara dingin dapat dengan mudah menyebabkan jaringan sendi meregang, membatasi gerakan, dan menyebabkan nyeri di penghujung hari. Pelari juga rentan terhadap kram dan kejang otot jika mereka melewatkan latihan peregangan.
Selain latihan peregangan, Anda bisa mencoba jogging di tempat di dalam ruangan selama beberapa menit. Kemudian, lakukan beberapa latihan pemanasan seperti mengangkat lutut dan menendang tumit ke bokong untuk menggerakkan tubuh Anda.
Kenakan pakaian yang sesuai.
Mengenakan beberapa lapis pakaian membantu menjaga tubuh tetap hangat dan mengurangi risiko radang dingin atau hipotermia. Bahan penyerap harus dikenakan sebagai lapisan terdalam, dengan lapisan tengah yang berfungsi sebagai isolasi dan jaket tipis sebagai lapisan terluar.
Pakaian yang terbuat dari kain lembut dan menyerap keringat seperti kaus dan celana panjang juga cocok untuk berlari di cuaca dingin. Pelari mungkin perlu melakukan beberapa percobaan untuk memilih pakaian yang tepat bagi mereka.
Anda sebaiknya mengenakan pakaian yang terbuat dari bahan yang menyerap keringat saat berlari. Foto: Freepik
Minumlah banyak air saat berlari.
Tubuh tetap berkeringat meskipun cuaca dingin, jadi menjaga hidrasi sangat penting untuk berlari dengan aman, terutama di udara kering. Menjaga hidrasi juga mengurangi risiko hipotermia dan sesak napas. Untuk menghindari dehidrasi, minumlah 220 ml air sekitar 20-30 menit sebelum berlari, dan 200-280 ml setiap 20 menit saat berlari.
Berlari di cuaca dingin aman jika Anda melindungi tubuh dan mempertahankan intensitas yang sesuai. Jika Anda lemah, sesak napas, atau cuacanya buruk, Anda sebaiknya berolahraga di treadmill di dalam ruangan.
Bao Bao (Menurut Livestrong )
| Pembaca dapat mengajukan pertanyaan tentang penyakit pernapasan di sini agar dijawab oleh dokter. |
Tautan sumber






Komentar (0)