
Berbicara pada konferensi pers pada 3 Juni, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan jumlah kasus Ebola di Republik Demokratik Kongo telah meningkat menjadi 344 kasus yang dikonfirmasi, sementara jumlah kematian mencapai 60.
Menurut kepala WHO, wabah tersebut telah berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama sebelum terdeteksi dan langkah-langkah respons komprehensif diterapkan. Hal ini membuat pengendalian penyakit menjadi sulit sejak awal.
Menurut Tedros Adhanom Ghebreyesus, wabah Ebola memiliki "keunggulan sebagai pelopor", yang berarti virus tersebut telah menyebar di dalam masyarakat sebelum otoritas kesehatan dapat sepenuhnya menerapkan pengawasan, pelacakan kontak, dan pengobatan.
Namun, Tedros Adhanom Ghebreyesus juga menekankan bahwa di bawah kepemimpinan Pemerintah Republik Demokratik Kongo, upaya penanggulangan secara bertahap mampu mengimbangi laju penyebaran penyakit.
Kepala WHO menegaskan bahwa organisasi tersebut bekerja sama erat dengan Kementerian Kesehatan Republik Demokratik Kongo dan mitra internasional untuk memperkuat pengawasan epidemiologi, deteksi dini kasus, pelacakan kontak, dan memperluas kegiatan pengobatan.
Ebola adalah salah satu penyakit menular paling berbahaya di dunia, dengan tingkat kematian yang dapat mencapai 50% atau lebih tinggi dalam beberapa wabah. Virus ini ditularkan melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau jaringan orang yang terinfeksi, serta melalui permukaan dan benda yang terkontaminasi.
Gejala awal seringkali meliputi demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, dan sakit tenggorokan. Seiring perkembangan penyakit, penderita dapat mengalami muntah, diare, ruam, gangguan fungsi hati dan ginjal, dan bahkan pendarahan internal dan eksternal.
Republik Demokratik Kongo merupakan salah satu negara yang sering menghadapi wabah Ebola selama beberapa dekade terakhir. Infrastruktur perawatan kesehatan yang terbatas, medan yang sulit, dan ketidakstabilan keamanan di beberapa daerah telah menciptakan hambatan signifikan bagi upaya pengendalian penyakit.
Menurut WHO, selain merawat pasien Ebola, otoritas kesehatan juga harus fokus pada peningkatan kesadaran publik, memerangi informasi yang salah, dan mendorong masyarakat untuk bekerja sama dengan petugas kesehatan dalam pelacakan kontak.
Para ahli kesehatan percaya bahwa pengendalian epidemi Ebola sangat bergantung pada kemampuan untuk mendeteksi kasus sejak dini dan mengisolasi sumber infeksi. Kemajuan dalam penelitian vaksin dan pengobatan dalam beberapa tahun terakhir telah secara signifikan meningkatkan kemampuan untuk menanggapi wabah, membantu mengurangi angka kematian dibandingkan dengan masa lalu.
Namun, WHO memperingatkan bahwa risiko wabah yang meluas tetap ada jika langkah-langkah pengendalian tidak ditegakkan secara ketat. Organisasi tersebut terus menyerukan kepada komunitas internasional untuk menyediakan sumber daya keuangan, personel, dan pasokan medis ke Republik Demokratik Kongo untuk mencegah wabah yang meluas.
(sintetis)
Sumber: https://hanoimoi.vn/chdc-congo-da-ghi-nhan-344-ca-mac-ebola-60-truong-hop-tu-vong-1157197.html









Komentar (0)