Ayahku adalah seorang pekerja mekanik. Masa mudanya terjalin dengan proyek-proyek pembangkit listrik tenaga air besar, dari Song Da yang megah hingga Yaly yang tangguh. Orang-orang mengatakan bahwa siapa pun yang telah ditempa di lokasi konstruksi tersebut memiliki ketahanan luar biasa dan kemauan baja. Ayahku tidak terkecuali! Tangannya yang kapalan dapat dengan terampil mengoperasikan semua jenis mesin, dari ekskavator dan buldoser hingga roller raksasa. Mesin-mesin ini meraung di bawah terik matahari, melintasi lereng merah berdebu, seperti sahabat setia ayahku. Di rumah kecil kami, ia jarang berbicara tentang hari-hari yang berat itu. Tetapi setiap kali seseorang bertanya tentang hal itu, matanya berbinar bangga, cahaya kenangan yang telah menjadi bagian dari hidupnya.
Setiap tahun, ayah saya diberi seragam kerja baru. Tetapi seragam kerja biru itu usang dari tahun ke tahun, menjadi compang-camping dan robek seiring waktu. Awalnya, seragam itu kokoh dan seperti baru, tetapi seiring waktu menjadi lunak, pudar, dan basah kuyup oleh keringat kerja. Di beberapa tempat, bahu kemeja terlihat lebih tipis, bukti dari hari-hari ketika ayah saya membungkuk di bawah terik matahari. Saya ingat pernah bertanya dengan penasaran, "Mengapa Ayah tidak memakai seragam baru yang lebih bagus?" Ayah saya hanya tersenyum ramah dan berkata, "Yang ini sangat awet; selama tidak robek, Ayah bisa memakainya." Mengingat kembali pernyataan sederhana itu sekarang, saya sepenuhnya memahami filosofi hidup ayah saya: kesederhanaan, ketahanan, dan ketidakpedulian terhadap hal-hal yang dangkal.
Masa kecilku dipenuhi dengan aroma oli yang familiar dan suara mesin. Di sore hari setelah sekolah, aku sering berlari ke jalan untuk menyapa ayahku. Ia akan memarkir sepeda motor tuanya di beranda, melepas helmnya yang sudah usang, dan dengan hati-hati menggantung kemeja birunya di rak di belakang pintu dapur. Aku tidak ingat semua pelukannya atau hal-hal yang ia katakan, tetapi aku ingat aroma kemejanya dengan sangat jelas. Aroma khas keringat, oli mesin, dan kerja keras seharian. Aroma itu tertanam dalam ingatanku, menjadi aroma kedamaian, pelukan yang melindungi.
Aku ingat ketika aku berusia enam tahun, ayahku membawakan hadiah istimewa: sebuah gerobak dorong kecil, yang ia las sendiri dari besi bekas di bengkel. Gerobak dorong itu tidak dicat mewah, rodanya sedikit bengkok, dan pegangannya kasar. Tapi bagiku saat itu, itu adalah harta yang tak ternilai harganya. Dengan bangga aku mengendarainya berkeliling halaman, menyusuri setiap lorong, membawa boneka dan buku-bukuku, memamerkannya kepada semua anak lain di lingkungan sekitar. Setiap kali ia punya waktu luang, ayahku akan duduk tenang mengawasi kami bermain, matanya bersinar dengan kegembiraan yang sederhana dan hangat. Mungkin, kebahagiaan terbesarnya saat itu hanyalah melihat anak-anaknya bahagia dan damai.
Kemudian, ketika saya belajar mengendarai sepeda, ayah saya selalu berdiri di belakang saya, memegang sepeda agar tetap stabil. "Kayuh saja, aku akan memegangnya," suaranya masih hangat dan tenang. Saya tidak tahu kapan dia melepaskan pegangannya, membiarkan saya mengambil langkah pertama saya sendiri. Baru ketika saya berbalik dan melihatnya berdiri di kejauhan, tersenyum dan memperhatikan saya, saya menangis tersedu-sedu. Bukan karena saya takut jatuh, tetapi karena untuk pertama kalinya, saya benar-benar merasakan kepercayaan dan stabilitas yang telah diberikan ayah saya kepada saya, dengan cara yang diam-diam.
Setelah meninggalkan lokasi konstruksi, ayah saya dipindahkan ke Stasiun Traktor di dekat rumah kami. Ia mengendarai mesin pemadat jalan, tanpa lelah mengubah jalan-jalan pedesaan yang kasar dan berbatu menjadi jalan beraspal yang halus dan baru. Penduduk setempat dengan penuh kasih memanggilnya "Pak Pemadat Jalan," karena ia adalah operator yang sangat terampil. Ia tidak pernah membual tentang hal itu, tetapi saya selalu merasakan kebanggaan yang tak terlukiskan. Bagi saya, ia adalah pekerja terbaik, paling rajin, dan paling dapat diandalkan.
Selama bertahun-tahun saya belajar jauh dari rumah, setiap kali saya kembali ke kampung halaman, hal pertama yang saya cari adalah kemeja biru ayah saya, yang tergantung rapi di tempat biasanya. Kemeja itu sudah pudar, dengan beberapa jahitan yang terurai, tetapi masih memberi saya perasaan hangat yang aneh, seolah-olah tangan ayah saya selalu ada di samping saya. Suatu kali, ketika hujan dan saya tidak punya waktu untuk membawa mantel, ayah saya menggeledah lemari dan mengeluarkan kemeja biru tua itu, menyuruh saya memakainya sementara. Kemeja itu longgar, kainnya kasar, tetapi ketika saya memakainya, saya merasa diselimuti oleh langit yang damai dan melindungi.
Sekarang, Ayah sudah pensiun. Setiap pagi, dia masih bangun pagi-pagi, menyirami tanaman, memperbaiki kipas angin listrik tua, dan membersihkan peralatannya yang berkarat. Kemeja biru itu tidak lagi menemaninya ke lokasi konstruksi, tetapi masih dipajang dengan bangga di lemari. Ibu bilang dia menyimpannya sebagai kenang-kenangan. Dan bagiku, setiap kali aku membuka lemari dan melihat kemeja itu, seolah-olah film gerak lambat tentang Ayah terbentang di depan mataku, jelas dan nyata hingga detail terkecil.
Orang sering membandingkan kasih sayang seorang ayah dengan gunung atau samudra yang luas. Tetapi bagi saya, kasih sayang seorang ayah hadir dalam setiap jahitan, setiap noda minyak di kemejanya, setiap sore ia dengan tenang menjemput saya dari sekolah, setiap kali ia menerobos hujan untuk memperbaiki atap yang bocor. Kasih sayang seorang ayah tidak berisik atau mencolok. Ia tenang dan halus, namun abadi dan teguh, seperti kemeja biru usang yang tidak pernah robek.
Ada beberapa malam setelah bekerja, di tengah keramaian yang terburu-buru, ketika tiba-tiba saya melihat seorang pekerja mengenakan kemeja biru yang persis seperti kemeja ayah saya bertahun-tahun yang lalu, dan hati saya terasa sakit karena kerinduan yang mendalam. Saya ingin berlari ke arahnya, berteriak "Ayah!" dengan keras, meskipun saya tahu itu bukan dia. Kemeja biru itu akan selamanya tetap menjadi gambaran sakral dalam pikiran saya, sesuatu yang tak tergantikan oleh apa pun.
Dan kemeja biru itu, akan selamanya menjadi pernyataan cinta yang tak pernah terucapkan…
Halo, para pemirsa setia! Musim ke-4, bertema "Ayah," resmi diluncurkan pada 27 Desember 2024, melalui empat platform media dan infrastruktur digital Radio dan Televisi serta Surat Kabar Binh Phuoc (BPTV), yang berjanji untuk menyampaikan kepada publik nilai-nilai indah dan suci dari kasih sayang seorang ayah. |
Sumber: https://baobinhphuoc.com.vn/news/19/170918/chiec-ao-xanh-cua-ba






Komentar (0)