Kota kelahiranku sangat berbeda dari masa lalu; tidak lagi sepenuhnya sunyi. Masih ada suara mobil di jalan, orang-orang berbicara, musik keras, dan pengeras suara yang menyiarkan secara teratur. Tetapi anehnya, di tengah semua suara itu, ada saat-saat hening, cukup untuk suara lain menyelinap masuk—lembut, namun mendalam. Malam di pedesaan sering dimulai dengan suara itu.
![]() |
| Pemandangan pedesaan yang damai - Foto: Internet |
Saat sinar matahari terakhir menyinari rumpun bambu, saat ladang akhirnya menghela napas lega setelah seharian bekerja keras, suara burung yang memanggil bebek tiba-tiba bergema dari suatu tempat—dari semak di tepi parit, atau dari puncak bambu tua yang bergoyang lembut tertiup angin. Suaranya tidak berisik, tetapi cukup untuk membangkitkan ritme yang unik, ritme pedesaan, ritme hal-hal yang lambat dan akrab. Tidak panjang, tidak luas jangkauannya, hanya beberapa ketukan pendek, melankolis, agak monoton. Tetapi justru kemonotonan inilah yang menarik perhatian. Suara itu tidak menenggelamkan suara lain, juga tidak berusaha menonjol. Suara itu hanya tetap ada di sana, secara teratur, sebagai bagian dari sore hari di pedesaan yang akan terasa hampa tanpa kehadirannya.
Saat masih kecil, saya tidak terlalu memperhatikan perasaan ini. Suara burung yang memanggil bebek hanyalah bagian dari kehidupan yang biasa, terdengar begitu sering sehingga menjadi normal. Tetapi semakin dewasa saya, semakin jauh saya bepergian, dan semakin lama saya hidup di lingkungan kota yang berisik, perasaan itu semakin jelas setiap kali saya secara tak terduga menjumpainya lagi.
Ini bukan lagi sekadar suara, tetapi seperti sebuah "saklar" kecil, yang diaktifkannya memicu serangkaian kenangan. Ia meresap ke dalam ingatan setiap orang, membangkitkan negeri dongeng dari kisah anak laki-laki yang memanggil bebek; ia membangkitkan kerinduan yang mendalam akan orang-orang terkasih yang jauh, dan membangkitkan rasa rindu yang mendalam akan teman-teman…
Mungkin, yang membuatnya tetap abadi bukanlah karena keindahannya, tetapi karena kenyataan. Nyata seperti datangnya sore hari setiap hari, nyata seperti kenangan yang diam-diam bersemayam di dalam diri setiap orang. Hanya satu suara yang bergema, dan semua perasaan lama seolah kembali, perlahan, tetapi cukup untuk membuat hati seseorang sedih di sore hari yang biasa. Dan mungkin, setiap orang memiliki suara untuk dikenang. Bagiku, itu adalah suara burung yang memanggil bebek, suara kecil tetapi cukup kuat untuk menyimpan seluruh ranah kasih sayang.
Duong Linh
Sumber: https://baoquangtri.vn/van-hoa/202604/chieu-que-nghe-tieng-chim-goi-ve-mien-ky-uc-fef07ca/







Komentar (0)