Pada pagi hari tanggal 26 Desember, Kementerian Keuangan mengadakan konferensi dialog dengan wajib pajak mengenai kebijakan dan prosedur pajak dan bea cukai. Selain topik-topik yang sudah umum dibahas tentang reformasi administrasi, poin penting yang dibahas adalah integrasi resmi AI dan Big Data ke dalam manajemen risiko, pemantauan pengembalian pajak, dan dukungan wajib pajak oleh sektor perpajakan.
Menurut Kementerian, alat analisis big data digunakan untuk menilai tingkat risiko permohonan pengembalian pajak, menggantikan pemeriksaan manual sebelumnya atau yang sangat bergantung pada pengalaman staf. Sistem ini menganalisis riwayat deklarasi, arus kas, frekuensi pengembalian dana, dan anomali untuk mengklasifikasikan permohonan berdasarkan tingkat risiko, sehingga memutuskan apakah akan diperiksa terlebih dahulu atau dikembalikan terlebih dahulu.

Wakil Menteri Cao Anh Tuan: Kebijakan pajak dan prosedur administrasi selalu menjadi perhatian utama bagi wajib pajak. Foto: MOF.
Penerapan AI sedang diimplementasikan dalam konteks meningkatnya volume catatan pajak. Sejak implementasi faktur elektronik secara serentak pada tahun 2022, sistem perpajakan telah menerima dan memproses lebih dari 20 miliar faktur. Besarnya volume data membuat metode manajemen tradisional tidak sesuai, terutama untuk pengembalian pajak pertambahan nilai dan pajak penghasilan pribadi.
Perubahan penting lainnya adalah sistem pengembalian pajak penghasilan pribadi otomatis, yang berlaku mulai April 2025. Alih-alih mengirimkan dokumen kertas atau menunggu pemrosesan manual, data pendapatan, pengurangan, dan penyelesaian akan secara otomatis dicocokkan oleh sistem. AI membantu dalam menyaring kasus yang memerlukan verifikasi, mengurangi waktu pemrosesan untuk aplikasi yang memenuhi syarat.
Inisiatif ini semakin diperkuat mulai 1 Juli, dengan penggunaan nomor identifikasi pribadi (PIN) sebagai pengganti nomor identifikasi pajak individu (ITN). Menghubungkan data populasi membantu otoritas pajak menstandarisasi informasi wajib pajak, mengurangi kode duplikat dan informasi yang salah, serta meminimalkan risiko penipuan dalam pengembalian pajak.
Menurut Wakil Menteri Cao Anh Tuan, kebijakan pajak dan prosedur administrasi selalu menjadi perhatian utama bagi wajib pajak. Pengenalan teknologi baru ke dalam manajemen tidak bertujuan untuk memperketat peraturan secara mekanis, melainkan untuk memproses dokumen lebih cepat, lebih akurat, dan mengurangi kontak langsung antara warga negara dan otoritas pajak.
Selain manajemen internal, AI juga digunakan untuk mendukung wajib pajak melalui chatbot dan saluran dukungan otomatis. Wajib pajak dapat mencari tahu kewajiban mereka, mengajukan pertanyaan tentang kebijakan dan prosedur tanpa harus mengunjungi kantor pajak secara langsung, sehingga mengurangi tekanan pada kedua belah pihak.
Pada konferensi tersebut, banyak bisnis menyatakan bahwa reformasi digital di sektor pajak dan bea cukai telah membantu mempersingkat waktu pemrosesan, mengurangi biaya kepatuhan, dan meningkatkan transparansi. Pemrosesan pengembalian pajak yang lebih cepat membantu bisnis meningkatkan arus kas, terutama di pasar yang bergejolak.
Di sektor kepabeanan, AI juga mulai diterapkan dalam analisis risiko dan dukungan bisnis melalui sistem chatbot. Hingga pertengahan Desember 2025, lebih dari 145.000 catatan telah disinkronkan dari Portal Jendela Tunggal Nasional ke Portal Layanan Publik Nasional, memungkinkan pemantauan status pemrosesan secara real-time.
Penerapan AI dan big data merupakan bagian dari proses modernisasi manajemen pajak dan bea cukai, yang bertujuan untuk mengurangi prosedur, menurunkan biaya, dan meningkatkan kepatuhan. Dalam konteks anggaran yang masih perlu memastikan pengeluaran rutin dan investasi pembangunan, manajemen risiko menggunakan teknologi dianggap sebagai solusi yang layak untuk mendukung wajib pajak dan membatasi kerugian pendapatan.
Konferensi dialog tahun ini menandai perubahan dalam cara menerima umpan balik. Selain dialog tatap muka, otoritas pajak membuka saluran tanya jawab daring selama konferensi, dengan jawaban yang tersedia untuk umum di portal elektronik. Pendekatan ini memungkinkan lebih banyak wajib pajak untuk mengakses informasi tanpa harus hadir secara fisik di konferensi.
Dalam periode mendatang, Kementerian Keuangan menyatakan akan terus meningkatkan kerangka hukum, memperluas penerapan teknologi digital dalam pengelolaan pajak dan bea cukai, serta menempatkan wajib pajak sebagai pusat perhatian. Fokusnya adalah memproses dokumen lebih cepat, lebih transparan, dan meminimalkan perantara.
Sumber: https://nongnghiepmoitruong.vn/co-quan-thue-dung-ai-giam-sat-hoan-thue-phan-loai-rui-ro-ho-so-d791435.html








Komentar (0)