
Sebuah toko emas di Shenzhen. Foto: GETTYIMAGES
Sebuah rantai industri bernilai miliaran dolar.
Menurut data dari platform data bisnis Qichacha, yang dikutip oleh South China Morning Post pada 17 Mei, jumlah bisnis yang terdaftar untuk beroperasi di sektor daur ulang emas di Tiongkok diproyeksikan meningkat sebesar 78,74% pada tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai 740 bisnis – peningkatan tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Yang perlu diperhatikan, hanya dalam lima bulan pertama tahun 2026, tambahan 488 bisnis baru telah memasuki pasar. Angka ini menunjukkan bahwa industri daur ulang emas memasuki periode pertumbuhan eksplosif yang belum pernah terjadi sebelumnya, bertepatan dengan kenaikan pesat harga emas global.
Berbeda dengan demam emas sebelumnya yang terutama berfokus pada penimbunan, gelombang saat ini lebih pragmatis. Seiring dengan terus naiknya harga emas, banyak warga Tiongkok mulai menjual perhiasan emas lama mereka, simpanan emas jangka panjang, atau menukarkannya dengan batangan emas dan produk investasi lainnya dengan likuiditas yang lebih tinggi. Tren ini telah menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi industri daur ulang emas untuk berkembang dengan sangat pesat.
Menurut Asosiasi Emas China (CGA), permintaan investasi emas terus melonjak pada kuartal pertama tahun 2026. Konsumsi emas batangan dan koin emas saja meningkat sebesar 46,4%, melebihi 202 ton. Sebaliknya, permintaan perhiasan emas menurun lebih dari 37% karena harga emas yang terlalu tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa emas di China secara bertahap bergeser dari aset konsumsi menjadi aset keuangan.
Perkembangan pesat industri daur ulang emas di Tiongkok mengubah struktur tradisional pasar emas domestik. Jika sebelumnya pengumpulan emas lama terutama dilakukan oleh toko-toko emas kecil dan independen, sektor ini kini telah berkembang pesat menjadi rantai industri berskala besar, memanfaatkan teknologi modern dan terintegrasi erat dengan sistem keuangan digital.
Model operasional industri ini relatif jelas: Perusahaan membeli batangan emas, perhiasan emas lama, atau produk yang mengandung logam mulia, kemudian memurnikan, mendaur ulang, dan menjualnya kembali di pasar sebagai bahan baku atau produk baru. Namun, yang membedakannya saat ini adalah pesatnya perkembangan teknologi dan finansialisasi sektor ini. Di Shenzhen, khususnya di distrik Shuibei, pusat produksi dan perdagangan perhiasan terbesar di Tiongkok, daur ulang emas berkembang pesat. Banyak bisnis telah menerapkan sistem penetapan harga emas secara real-time, yang terhubung langsung dengan harga emas internasional. Masyarakat dapat memverifikasi kualitas emas, menentukan nilainya, dan menerima pembayaran elektronik melalui aplikasi seperti Alipay atau WeChat Pay hanya dalam beberapa menit.
Media Tiongkok baru-baru ini melaporkan fenomena orang-orang yang mengantre untuk menjual emas di pusat perbelanjaan besar di Shanghai dan Shenzhen. Beberapa tempat bahkan telah menyaksikan munculnya "ATM emas" otomatis yang mampu mengidentifikasi kemurnian emas, menimbangnya, dan mencairkan pembayaran secara instan. Gambaran ini menunjukkan bahwa daur ulang emas secara bertahap menjadi aktivitas keuangan yang populer dalam kehidupan perkotaan Tiongkok. Para ahli ekonomi Tiongkok percaya bahwa perkembangan pesat industri daur ulang emas berasal dari tiga faktor utama. Pertama, harga emas telah naik terlalu tajam dalam waktu singkat, menjadikan emas yang ditimbun oleh masyarakat sebagai sumber keuntungan yang menarik. Kedua, permintaan konsumen telah melemah di tengah perlambatan ekonomi, memaksa banyak rumah tangga untuk menggunakan emas sebagai aset cadangan. Ketiga, perkembangan teknologi digital telah membuat transaksi emas lebih transparan dan nyaman.
Menurut Bloomberg, Shenzhen dianggap sebagai "ibu kota daur ulang emas" berkat ekosistem industrinya yang lengkap. Shanghai terus memainkan peran sentral dalam perdagangan emas batangan berkat Bursa Emas Shanghai. Para analis percaya bahwa kombinasi kedua pusat ini membantu Tiongkok membentuk rantai nilai emas yang semakin kompetitif di tingkat global.
Menurut para pengamat, jika cadangan emas China terus bertambah, ditambah dengan perkembangan ekosistem perdagangan dan daur ulang domestiknya, Beijing secara bertahap dapat meningkatkan perannya dalam membentuk pasar emas Asia-Pasifik. Namun, di samping peluang tersebut, industri daur ulang emas China juga menghadapi risiko yang cukup besar. Beberapa ahli memperingatkan bahwa masuknya bisnis baru dapat menyebabkan persaingan yang tidak terkendali, penipuan kualitas, atau spekulasi keuangan yang menyimpang. Lebih lanjut, jika harga emas berbalik tajam, banyak bisnis baru dapat menghadapi kesulitan likuiditas dan arus kas.
Alat pengamanan keuangan
Pesatnya perkembangan industri daur ulang emas di Tiongkok tidak terlepas dari pergeseran ekonomi dan politik global yang besar. Selama bertahun-tahun, emas semakin memiliki signifikansi strategis di luar nilai komersial konvensionalnya. Bagi banyak negara, terutama negara-negara ekonomi besar yang berupaya mengurangi ketergantungan mereka pada dolar AS, emas telah menjadi alat untuk keamanan finansial dalam lingkungan internasional yang tidak pasti.
Menyusul pecahnya konflik Rusia-Ukraina (Februari 2022) dan pemberlakuan berbagai sanksi keuangan terhadap Moskow oleh Barat, banyak negara mulai lebih memperhatikan diversifikasi cadangan devisa mereka. Tren ini sangat terlihat di negara-negara berkembang. Bank sentral di seluruh dunia terus meningkatkan pembelian emas mereka selama tiga tahun terakhir dengan laju yang jarang terlihat sejak krisis keuangan global 2008. Dalam tren ini, Tiongkok adalah salah satu negara yang paling menarik perhatian. Bank Rakyat Tiongkok (PBB) terus menambah cadangan emasnya selama berbulan-bulan, meskipun laju pembelian terkadang disesuaikan. Para analis percaya bahwa Beijing secara bertahap mengurangi ketergantungannya pada aset berdenominasi USD sambil memperkuat ketahanannya terhadap guncangan keuangan internasional.
Dari perspektif strategis, hal ini sangat signifikan. Dalam konteks persaingan AS-Tiongkok yang semakin sengit, peningkatan cadangan emas bukan hanya keputusan finansial, tetapi juga membawa implikasi geopolitik. Beberapa cendekiawan Tiongkok berpendapat bahwa emas menjadi "penyangga keamanan" bagi perekonomian yang berupaya mengurangi risiko dari sistem keuangan yang didominasi Barat. Sentimen ini telah sangat meresap dalam masyarakat Tiongkok. Seiring dengan peningkatan pembelian emas oleh pemerintah, masyarakat cenderung memandang emas sebagai aset yang lebih aman. Dengan harga emas yang terus mencapai titik tertinggi baru, aktivitas perdagangan dan daur ulang emas menjadi semakin dinamis. Dengan kata lain, booming industri daur ulang emas saat ini merupakan kombinasi dari faktor pasar dan psikologi strategis.
Namun, prospek pasar emas global dalam waktu dekat masih bergantung pada banyak variabel. Beberapa ahli dari World Gold Council (WGC) percaya bahwa tren kenaikan harga emas mungkin akan melambat jika ekonomi AS tetap stabil dan Federal Reserve (FED) terus mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari yang diperkirakan. Pasar emas sangat sensitif terhadap fluktuasi suku bunga dan kekuatan dolar AS. Meskipun demikian, tidak seperti siklus sebelumnya, lonjakan harga emas saat ini didukung oleh permintaan fisik yang sangat kuat dari Asia. Hal ini memberikan fondasi yang lebih stabil bagi pasar emas.
Bagi Tiongkok, perkembangan industri daur ulang emas juga menandakan ekonomi sirkular dan pemanfaatan sumber daya domestik. Dalam konteks persaingan yang semakin ketat untuk sumber daya strategis, pemulihan dan daur ulang logam mulia membantu mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor dan meningkatkan kemandirian industri. Lebih penting lagi, ledakan industri daur ulang emas mencerminkan pergeseran mendalam dalam psikologi sosial Tiongkok. Setelah bertahun-tahun pertumbuhan pesat yang didorong oleh sektor properti dan kredit, ekonomi Tiongkok memasuki fase penyesuaian jangka panjang. Dalam lingkungan ini, orang cenderung memprioritaskan pelestarian aset daripada spekulasi berisiko.
Oleh karena itu, di balik toko-toko emas antik yang ramai di Shenzhen atau Shanghai bukan hanya cerita tentang keuntungan. Ini juga merupakan manifestasi dari era ekonomi global yang lebih tidak pasti, di mana emas, logam tertua dalam peradaban manusia, sekali lagi menjadi simbol keamanan dan kekuasaan finansial.
Menurut Nhandan.vn
Sumber: https://baoangiang.com.vn/-con-sot-vang-o-dat-nuoc-ty-dan-a490374.html






