Menurut koresponden Kantor Berita Vietnam di Paris, ketika wabah Ebola muncul kembali di Republik Demokratik Kongo dan mulai menyebar ke Uganda, para ilmuwan internasional memasuki perlombaan mendesak untuk mengembangkan vaksin melawan strain Bundibugyo – varian virus Ebola yang langka tetapi sangat berbahaya. Namun, tidak seperti wabah sebelumnya, kali ini dunia hampir memasuki pertempuran tanpa "perisai" pencegahan yang efektif dan siap tersedia.
Sejak wabah diumumkan pada pertengahan Mei, jumlah korban meninggal telah melebihi 220 orang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terus mengadakan pertemuan darurat dengan para ahli internasional karena penyakit ini menyebar lebih cepat daripada kemampuan tenaga kesehatan setempat untuk mengendalikannya.
Yang mengkhawatirkan, saat ini belum ada vaksin yang berlisensi untuk digunakan atau bahkan sedang menjalani uji klinis untuk mencegah strain Bundibugyo.
Dalam wabah Ebola sebelumnya di Afrika, dunia telah mencapai kemajuan signifikan berkat vaksin melawan strain Ebola Zaïre – varian yang menyebabkan epidemi dahsyat di Afrika Barat pada tahun 2014-2015.
Kampanye vaksinasi pada saat itu secara signifikan mengurangi jumlah infeksi dan kematian. Namun, vaksin yang ada diformulasikan untuk melindungi terhadap strain virus yang berbeda, sementara Bundibugyo jauh lebih sedikit dipelajari karena jarang menyebabkan wabah besar di masa lalu.
Para peneliti kini dihadapkan pada dua pilihan sulit. Yang pertama adalah mencoba mengadaptasi teknologi vaksin yang sudah ada untuk melawan strain Bundibugyo. Ini dianggap sebagai solusi yang lebih cepat karena dapat memanfaatkan infrastruktur ilmiah dan teknologi yang sudah ada untuk produksi.
Beberapa kelompok penelitian sedang menjajaki cara untuk mengganti protein permukaan vaksin Ebola lama dengan glikoprotein spesifik untuk Bundibugyo guna mengaktifkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan virus baru tersebut.
Pada prinsipnya, pendekatan ini mirip dengan vaksin COVID-19 yang menggunakan protein lonjakan (spike protein) untuk "melatih" sistem kekebalan tubuh agar mengenali virus. Namun, meskipun idenya cukup menjanjikan, memproduksi vaksin kelas klinis masih membutuhkan waktu berbulan-bulan, belum lagi tahapan pengujian keamanan dan kemanjuran pada hewan dan manusia.
Pendekatan lain adalah menggunakan teknologi mRNA – fondasi yang merevolusi vaksin selama pandemi COVID-19. Teknologi ini memiliki keunggulan pengembangan yang cepat dan adaptasi yang mudah terhadap varian virus baru.
Beberapa proyek kolaborasi antara universitas-universitas Eropa dan perusahaan bioteknologi besar telah diluncurkan untuk meneliti vaksin mRNA melawan Bundibugyo. Namun, para ahli mengakui bahwa masih ada jalan panjang yang harus ditempuh dari laboratorium hingga implementasi praktis.
Meskipun vaksin spesifik belum tersedia, beberapa ilmuwan sedang mempertimbangkan solusi "sementara": menggunakan vaksin Ebola yang sudah ada untuk menciptakan perlindungan silang. Gagasan ini didasarkan pada hipotesis bahwa sistem kekebalan yang diaktifkan oleh vaksin Ebola Zaïre mungkin sebagian mengenali dan melindungi terhadap strain Bundibugyo.
Beberapa uji coba pada hewan telah menghasilkan hasil yang terbatas, tetapi mengingat keadaan darurat saat ini, para peneliti ingin memanfaatkan wabah ini untuk menilai efektivitasnya pada manusia.
Selain itu, banyak kelompok ilmiah mengejar tujuan yang jauh lebih ambisius: mengembangkan vaksin "universal" yang dapat melindungi terhadap semua strain virus Ebola, dan bahkan filovirus berbahaya lainnya seperti Marburg.
Beberapa penelitian terbaru telah mencoba menggabungkan glikoprotein dari berbagai strain Ebola dalam satu vaksin dan telah mengamati respons imun positif pada hewan laboratorium. Namun, belum ada yang dapat memastikan apakah vaksin ini benar-benar akan melindungi manusia dari wabah di masa mendatang.
Wabah Ebola ini juga menyoroti realitas yang sudah familiar dalam dunia kedokteran global: penyakit yang terutama muncul di negara-negara miskin seringkali tidak menerima investasi penelitian yang memadai sampai terjadi krisis.
Strain Bundibugyo dulunya dianggap relatif langka dan bukan prioritas utama bagi perusahaan farmasi. Oleh karena itu, ketika wabah terjadi, dunia hampir harus memulai dari awal.
Sementara itu, waktu adalah faktor yang paling krusial. Para ahli memperingatkan bahwa bahkan dalam skenario yang paling menguntungkan sekalipun, sulit untuk mendapatkan persetujuan vaksin untuk penggunaan luas dalam waktu kurang dari satu tahun.
Ini berarti bahwa langkah-langkah tradisional seperti mengisolasi kasus, pelacakan kontak, dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan tetap menjadi garis pertahanan utama pada fase saat ini.
Oleh karena itu, upaya memerangi Ebola Bundibugyo bukan hanya tantangan ilmiah, tetapi juga ujian kesiapan dunia menghadapi pandemi di masa depan. Setelah COVID-19, banyak yang berharap bahwa umat manusia telah memasuki era respons cepat terhadap virus-virus baru.
Namun, pengalaman di Kongo menunjukkan bahwa ketika patogen yang kurang diperhatikan muncul, kesenjangan dalam vaksin dan penelitian masih dapat membuat dunia berada dalam posisi reaktif, seperti sebelumnya.
Sumber: https://www.vietnamplus.vn/cuoc-chay-dua-day-kho-khan-de-phat-trien-vaccine-doi-pho-voi-dich-ebola-post1112811.vnp









Komentar (0)