
*Petualangan Ikan Mas Merah* karya Pham Hong Diep (Penerbit Tri Thuc, 2026) merupakan kasus yang patut diperhatikan karena tidak hanya menceritakan petualangan seekor ikan tetapi juga berupaya membangun pandangan dunia akuatik secara keseluruhan, di mana air bukan hanya sekadar latar tetapi menjadi bentuk pemikiran, wacana tentang eksistensi, simbiosis, dan adaptasi.
Dalam kata pengantar, kritikus Bui Viet Thang menyebut buku ini sebagai "sebuah wacana tentang air." Menurut saya, ini hampir merupakan kunci paling berguna untuk memahami keseluruhan karya seni ini.
Dalam * The Adventures of the Pink Carp *, air menjadi struktur dinamis dari jaring kehidupan. Setiap makhluk hidup harus belajar mengalir, mengubah arah, dan melarikan diri seperti air.
Dari Kolam Buaya hingga kanal terapung, dari sawah hingga daerah air payau, dari hutan bakau hingga transformasi naga yang berputar-putar di akhir karya, seluruh perjalanan Ikan Mas Merah pada dasarnya adalah perjalanan untuk mempelajari esensi eksistensi yang cair.
Sementara peradaban pertanian klasik sering menggunakan "tanah" sebagai simbol stabilitas (pemukiman), buku ini mengambil "air" sebagai model eksistensi—sebuah model di mana hidup identik dengan pergerakan, adaptasi, penentuan posisi diri, dan restrukturisasi diri yang konstan.
Mungkin itulah sebabnya realitas dalam karya ini tidak memiliki batasan yang tetap. Individu yang hidup selalu mengatur diri mereka untuk "bergerak". Bahkan kedewasaan di sini tidak berbentuk tangga yang menanjak lebih tinggi, melainkan seperti aliran yang secara bertahap meluas. Red Carp tumbuh dewasa dengan berenang melalui berbagai lapisan air kehidupan.
Dengan kata lain, saat ikan mas merah bergerak di ruang perairan, ia juga belajar memahami hukum bertahan hidup melalui perubahan di dalam air. Gaya penulisan Pham Hong Diep ini cukup modern.
Bukan suatu kebetulan bahwa Bui Viet Thang menghubungkan karya tersebut dengan konsep "hidro-humaniora," sebuah pendekatan penelitian yang memandang air tidak hanya sebagai entitas fisik tetapi juga sebagai wacana yang membentuk identitas.
Dalam *The Adventures of the Red Carp* , air membawa kenangan akan kehidupan bersama, kenangan budaya, dan juga kegelisahan dari hubungan yang semakin bertentangan antara manusia dan alam.
Oleh karena itu, meskipun buku ini tentu saja ditulis untuk anak-anak, buku ini juga ditulis untuk orang dewasa, terutama mereka yang hidup di era perubahan iklim, intrusi air asin, polusi, dan semakin besarnya kesenjangan antara umat manusia dan biosfernya sendiri.
Salah satu isu yang sering diangkat saat ini adalah bahwa sastra anak sering kali memaksakan perspektif orang dewasa; artinya, anak-anak hanyalah penerima kebenaran, bukan benar-benar mengalami kehidupan melalui mata mereka sendiri yang polos dan jujur.
Petualangan Ikan Mas Merah secara sadar menyimpang dari gaya penulisan tersebut. Realitas dalam cerita sebagian besar dilihat dari "sudut pandang dalam" spesies akuatik tersebut. Ketakutan, intuisi, firasat, pengalaman bertahan hidup, perubahan lingkungan perairan... semuanya dirasakan dari dalam komunitas itu sendiri.
Dengan kata lain, nilai karya ini terletak bukan pada antropomorfisasi ikan, tetapi pada memaksa manusia untuk meninggalkan posisi sentral mereka yang arogan. Artinya, alih-alih memaksa makhluk air untuk "berperilaku manusiawi," buku ini berupaya menempatkan manusia pada posisi di mana mereka harus "berperilaku manusiawi" dalam perspektif mereka.
Ini merupakan evaluasi ulang yang krusial terhadap literatur ekologi kontemporer: manusia bukan lagi subjek tertinggi yang mengamati alam dari kejauhan, tetapi hanyalah satu organisme dalam jaringan kehidupan yang saling terhubung dan luas.
Sejak awal, Chép Hồng ditempatkan dalam latar yang sama sekali tidak seperti dongeng. Meskipun Kolam Chéo sangat luas, tempat itu tetap menjadi tempat di mana ikan-ikan berebut makanan, di mana ikan-ikan besar memangsa ikan-ikan kecil.
Penulis tidak hanya menyajikan protagonis dengan jalan lurus yang dipenuhi bunga, sebuah kerajaan yang benar-benar seperti mimpi, tetapi juga menempatkannya dalam situasi yang menantang, sesuai dengan semangat "api menguji emas, kesulitan menguji kekuatan."
Inilah yang memberikan karya ini nuansa kontemporer. Buku ini tidak meninabobokan anak-anak ke dalam dunia yang sepenuhnya aman dan baik. Sebaliknya, kehidupan akuatik di sini beroperasi dengan mekanisme yang cukup dekat dengan semangat lembut Darwinisme: untuk bertahan hidup, seseorang harus tahu cara mengatur diri sendiri; untuk berkembang, seseorang harus belajar membaca sinyal lingkungan, dan harus tahu cara bergerak, bersekutu, dan berubah.
Bertahan hidup bukan hanya naluri, tetapi juga sebuah keterampilan. Hati yang penuh semangat dibutuhkan, tetapi kepala yang tenang sangat penting untuk tetap waspada dan berhati-hati dalam setiap pilihan, setiap langkah. Hidup adalah sebuah seni, atau lebih tepatnya, seni hidup berdampingan.
Ini adalah pelajaran berharga yang secara bertahap dipelajari Chép Hồng setelah banyak melakukan perjalanan. Pelajaran-pelajaran ini menyentuh filosofi bertahan hidup di era tersebut. Namun, karya ini tidak mengubah filosofi tersebut menjadi dogma yang kaku.
Pengetahuan dalam Petualangan Ikan Mas Merah sebagian besar diperoleh melalui pengalaman. Setiap perairan yang dilalui Ikan Mas Merah sesuai dengan pelajaran hidup yang berbeda.
Kolam Buaya adalah ruang persaingan bertahan hidup yang primitif; saluran-saluran terapung mengajarkan ikan cara beradaptasi dengan arus yang berfluktuasi; air payau membuka pengalaman hidup dalam percampuran air asin dan air tawar; dan hutan bakau adalah sekolah tempat berlindung kolektif. Di dalam struktur yang penuh petualangan inilah Ikan Mas Merah tidak "diajari" dengan cara yang dipaksakan, tetapi belajar melalui interaksinya dengan kehidupan.
Namun, jelas dari hal ini bahwa karya tersebut belum sepenuhnya menghilangkan "sudut pandang orang dewasa." Subjek orang dewasa masih hadir sebagai kesadaran pengorganisasian yang halus di balik petualangan Chép Hồng.
Banyak bagian masih memiliki nada yang agak bersifat penutup; banyak pelajaran disampaikan dengan agak formal; dan terkadang, tokoh-tokoh senior seperti Paman Lele dan Paman Barracuda masih lebih menyerupai "mentor" sosiologis daripada makhluk alam.
Namun, mungkin ini bukanlah kekurangan dari karya tersebut. Karena, seperti yang telah disebutkan, *Petualangan Ikan Mas Merah Muda* tidak hanya bertujuan sebagai sastra anak-anak semata. Karya ini juga bercita-cita menjadi bentuk "fabel filosofis," di mana kisah petualangan digunakan untuk menyampaikan refleksi, pertanyaan, dan dialog tentang komunitas, ekologi, dan pembangunan masa depan.
Tokoh-tokoh seperti Paman Lele dan Paman Barracuda tidak hanya berperan sebagai pemandu, tetapi juga berfungsi sebagai penyimpan kenangan sungai, tempat pengalaman bertahan hidup diwariskan dari generasi ke generasi.
Oleh karena itu, dunia perairan dalam karya ini tidak hanya berfungsi sebagai panggung khayalan bagi anak-anak, tetapi beroperasi sebagai sebuah komunitas dengan fondasi, sejarah, ingatan, dan aturan eksistensinya sendiri.
Seluruh dunia perairan dalam karya ini pada dasarnya merupakan mikrokosmos masyarakat: terdapat persaingan, aliansi, migrasi, transmisi pengalaman, pertempuran hidup dan mati, serta pelarian massal dari ancaman pembersihan dan pemusnahan. Ketika manusia muncul, seluruh tatanan alam ini langsung terguncang.
“Di bawah permukaan danau, ikan dan semua kehidupan air terguncang oleh ‘gempa bumi’ yang disebut umat manusia.” Manusia modern menjadi penyebabnya, menimbulkan trauma parah pada ekosistem alam yang kaya dan harmonis. Di balik petualangan Ikan Mas Merah terdapat rasa ketidaknyamanan ekologis yang halus namun jelas.
Ruang perairan dalam karya ini bersifat inklusif sekaligus berbahaya; setiap tempat berlindung dapat menjadi tidak stabil karena deformasi bumi dan ilusi kekuatan manusia untuk menaklukkan/mengubah.
Namun, jika hanya berfokus pada tema bertahan hidup, buku ini bisa dengan mudah menjadi membosankan dan dingin. Yang membuat *Petualangan Ikan Mas Merah* tetap terasa lembut seperti dongeng adalah semangat simbiosis yang mengalir di sepanjang karya tersebut.
Ikan mas merah tumbuh dewasa bukan melalui kekuatan individu yang sendirian, tetapi melalui rasa resonansi dan kerja sama tim (seperti sarang burung dengan "jerami kering yang terikat erat, tampak rapuh pada pandangan pertama tetapi sangat kuat"), saling mendukung, terutama dalam mengangkat individu yang lebih lemah, sehingga mereka melangkah jauh bersama-sama, dan tidak ada yang tertinggal.
Pada tingkat yang lebih luas, ini juga merupakan filosofi hidup komunal, sebuah konsep khas Asia Timur tentang "harmoni dengan alam": diri tidak memisahkan diri dari kolektif; ia tidak merebut kekuasaan, tetapi berharmoni dengan lingkungannya.
Menariknya, sementara studi kontemporer seperti "hidrofisiologi" mulai memandang air sebagai konstruksi identitas dan pemikiran, peradaban pertanian padi Vietnam telah hidup dengan model tersebut sejak tahap yang sangat awal.
Dalam arti tertentu, petualangan Chép Hồng merupakan titik temu antara pemikiran ekologis modern dan "alam bawah sadar kolektif" dari "arketipe" air. Karya ini secara halus mengisyaratkan sebuah "epik air" tentang peradaban pertanian padi di Vietnam.
Seluruh latar karya seni ini—danau Cá Chéo, sawah, kanal, daerah air payau, hutan bakau—sangat membangkitkan struktur peradaban aluvial dan peradaban sungai.
Ikan mas merah tidak hanya berenang di air ("dari sawah yang tenang hingga sungai-sungai besar dan kemudian ke samudra luas"); ia berenang dalam ingatan budaya Vietnam - sebuah budaya yang oleh peneliti Tran Dinh Huou disamakan dengan "budaya air": fleksibel, mudah beradaptasi, dan responsif.
Dalam pengertian itu, perjalanan Ikan Mas Merah adalah petualangan akuatik, dan sekaligus metafora yang cukup khas untuk kecerdasan bertahan hidup masyarakat Vietnam: tidak menghadapi semua perubahan secara langsung, tetapi belajar mengalir melewatinya seperti air. Adaptasi dalam karya ini tidak memiliki konotasi kompromi, tetapi merupakan kapasitas budaya yang ditempa oleh sejarah panjang kehidupan sungai.
Oleh karena itu, buku ini bukan lagi perjalanan seorang individu, melainkan menjadi narasi seluruh komunitas makhluk hidup yang "melintasi berbagai alam," beradaptasi dan menyerap, siap untuk hidup berdampingan dan terlibat dalam dialog dengan "dunia yang sama sekali berbeda yang belum pernah dikenal sebelumnya."
Jika "melewati gerbang naga" adalah simbol klasik dari aspirasi untuk berubah menjadi naga, dari legenda pendakian pribadi, maka "mimpi melewati tanggul" dalam *Petualangan Ikan Mas Merah* membawa metafora dengan semangat pembebasan dan relevansi. "Melewati tanggul" di sini tidak berhenti pada mengatasi batas geografis.
Hal ini juga mewakili "lompatan maju" modern bagi peradaban pertanian padi: melepaskan diri dari tempat berlindung yang aman, meninggalkan batasan desa yang familiar, melampaui kerangka acuan dan kepercayaan lama… untuk siap menghadapi samudra luas dan gelombang yang bergejolak, untuk memahami diri sendiri dan orang lain, serta untuk menemukan kemungkinan dan cakrawala baru.
Ini adalah gambar yang sangat simbolis. Gambar ini mengubah ikan mas merah dari ikan yang polos dan riang dalam dongeng menjadi simbol sebuah bangsa yang belajar untuk menjelajah dunia di era baru, sambil tetap membawa kenangan peradaban sungainya dan prinsip-prinsip kehidupan komunal.
Yang perlu diperhatikan, mimpi "menyeberangi tanggul" tidak tiba-tiba muncul di akhir karya sebagai slogan yang tergesa-gesa, subjektif, dan idealis. Sejak awal, struktur petualangan Chép Hồng diatur sesuai dengan tren perluasan ruang hidup secara bertahap: dari danau kecil ke kanal terbuka, dari perairan yang familiar ke badan air lainnya.
Oleh karena itu, "menembus bendungan" pada dasarnya adalah hasil yang tak terhindarkan dari sejarah panjang pengalaman bertahan hidup yang terakumulasi dan keinginan yang dipersiapkan secara diam-diam untuk menciptakan jalan baru, memungkinkan kekuatan internal menjadi daya dorong untuk terobosan.
Hidup itu rapuh, namun tak terbatas. Pham Hong Diep tidak terlalu bersemangat dalam menganjurkan "melampaui batas" secara berlebihan. Ini berarti tidak mengorbankan kesempatan untuk menikmati apa yang familiar dan dekat dengan kita saat ini demi hal baru dan kemewahan. Kita harus hidup dengan murah hati, tetapi kita juga perlu hidup secara mendalam dan bijaksana.
Setelah melakukan perjalanan melintasi lautan, Chép Hồng merenung: "Ternyata danau tempat saya tinggal masih menyimpan begitu banyak hal menarik yang belum ditemukan ." Pernyataan sederhana ini mengandung keyakinan yang mendalam: bepergian tidak bertentangan dengan menetap; ekspansi tidak meniadakan pendalaman; pembebasan tidak berarti memutuskan identitas diri; bertemu dengan samudra tidak berarti merasa rendah diri.
Di balik Chép Hồng, muncul tipe penulis yang cukup unik: bukan penulis yang meromantisasi alam, melainkan subjek dengan pola pikir konstruktif dan manajerial.
Oleh karena itu, bahkan ketika menulis fabel, Pham Hong Diep tetap memandang kehidupan sebagai ruang dinamis yang saling berdampingan: di mana semua makhluk hidup harus belajar menyeimbangkan persaingan dan kerja sama, perkembangan dan pelestarian, keinginan untuk melangkah jauh dan kebutuhan untuk mempertahankan akar mereka.
Rasanya seolah Pham Hong Diep tidak menulis tentang air sebagai objek deskriptif, melainkan menulis dengan pola pikir yang sama seperti air: lembut namun tangguh, tersebar namun saling terhubung.
Oleh karena itu, fabel di sini lembut dan memiliki struktur yang kokoh. Petualangan Ikan Mas Merah mencerminkan mekanisme kehidupan ekonomi, sosial, pasar, dan bahkan pasca-industri saat ini.
Mungkin aspek paling berharga dari perjalanan Ikan Mas Merah bukanlah terletak pada mimpinya untuk berubah menjadi naga, tetapi dalam mempelajari kearifan air: mengetahui cara beradaptasi tanpa kehilangan esensinya; mengetahui cara mengubah arah sambil tetap setia pada dirinya sendiri.
Di zaman ketika kita semakin terasing dari alam, yang perlu dilakukan sastra bukanlah menceritakan kisah-kisah indah, tetapi membantu orang mempelajari kembali kemampuan untuk mendengarkan suara-suara sunyi, mengungkap "rahasia air," menghargai "berkah bumi," dan semua makhluk hidup yang hadir bersama kita di "panggung kosmik" ini.
Mungkin nilai terdalam dari *The Adventures of the Pink Carp* terletak pada hal ini: buku ini tidak mengajarkan anak-anak bagaimana menaklukkan dunia, tetapi mengajarkan orang-orang bagaimana hidup harmonis dengan dunia.
Sumber: https://baovanhoa.vn/xuat-ban/cuoc-phieu-du-cua-chep-hong-va-ban-the-luu-dong-cua-nuoc-231737.html








Komentar (0)