Seng adalah mikronutrien penting, tetapi tubuh hanya membutuhkan sedikit sekali setiap hari. Meskipun demikian, kekurangan seng dapat memengaruhi berbagai fungsi penting seperti kekebalan tubuh, pertumbuhan, rasa, dan penyembuhan luka. Banyak tanda dari kondisi ini bersifat samar dan mudah diabaikan.
![]() |
Luka yang lambat sembuh merupakan salah satu gejala kekurangan seng. Foto: Shutterstock . |
Tanda-tanda kekurangan seng pada orang dewasa
Menurut Healthline , orang yang kekurangan seng cenderung lebih rentan terhadap pilek atau infeksi daripada orang normal, dan waktu pemulihan mereka juga lebih lama.
Alasannya adalah karena seng berperan dalam perkembangan dan fungsi sel imun, membantu tubuh mengidentifikasi dan menghancurkan patogen. Ketika mikronutrien ini kekurangan, pertahanan alami tubuh akan melemah secara signifikan.
Selain itu, luka kecil pun membutuhkan waktu lama untuk sembuh. Seng memainkan peran penting dalam sintesis kolagen, regenerasi jaringan, dan pembelahan sel.
Gejala khas lainnya adalah penurunan indra perasa dan penciuman, menurut WebMD . Banyak orang mendapati makanan terasa hambar, mereka kesulitan merasakan aroma, atau makanan tidak lagi terasa seenak sebelumnya. Hal ini terjadi karena seng berperan dalam fungsi reseptor rasa. Ketika kemampuan untuk merasakan rasa dan penciuman menurun, pasien juga cenderung kehilangan nafsu makan, sehingga memperburuk kekurangan nutrisi.
Pada pria, kekurangan seng kronis juga dapat menurunkan kadar testosteron, memengaruhi kualitas sperma dan fungsi reproduksi. Sementara itu, wanita hamil yang tidak mendapatkan cukup seng berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi, dan perkembangan janin juga dapat terpengaruh.
Tanda-tanda kekurangan seng pada anak-anak
Meskipun kekurangan seng pada orang dewasa terutama melemahkan sistem kekebalan tubuh dan memengaruhi metabolisme, konsekuensinya seringkali lebih terasa pada anak-anak karena periode pertumbuhan fisik yang pesat ini. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF), kekurangan seng merupakan salah satu faktor penyebab pertumbuhan terhambat, perawakan pendek, dan peningkatan risiko infeksi pada anak kecil.
Salah satu tanda paling awal yang diperhatikan orang tua adalah kurangnya nafsu makan pada anak. Anak-anak mungkin makan sangat sedikit, menahan makanan di mulut mereka untuk waktu yang lama, menolak banyak hidangan, atau sekadar kehilangan minat pada waktu makan. Ini bukan hanya konsekuensi dari kekurangan seng tetapi juga menyebabkan penurunan lebih lanjut dalam asupan seng, menciptakan lingkaran setan nafsu makan yang buruk dan kekurangan mikronutrien.
Anak-anak dengan kekurangan seng juga lebih rentan terhadap penyakit ringan. Penyakit seperti pilek, pneumonia, atau diare mungkin terjadi lebih sering karena sistem kekebalan tubuh yang kurang efektif. Secara khusus, diare dan kekurangan seng memiliki hubungan dua arah: diare menyebabkan tubuh kehilangan banyak seng, sementara kekurangan seng memperlambat pemulihan lapisan usus, sehingga memperpanjang penyakit.
Oleh karena itu, baik WHO maupun UNICEF merekomendasikan suplementasi seng sesuai petunjuk dalam pengobatan diare akut pada anak untuk memperpendek durasi penyakit dan mengurangi risiko kekambuhan.
Selain itu, anak-anak dengan kekurangan seng mungkin mengalami pertambahan berat badan yang lambat, pertumbuhan terhambat, rambut tipis dan rapuh, kulit kering, atau lesi inflamasi di sekitar mulut, anus, dan anggota tubuh. Pada anak yang lebih besar dan remaja, kekurangan seng yang terus-menerus juga dapat memengaruhi pubertas dan perkembangan seksual.
Jika orang tua melihat anak mereka menunjukkan banyak gejala di atas, mereka harus membawa anak tersebut ke fasilitas medis untuk pemeriksaan dan penilaian status gizinya.
Sumber: https://znews.vn/dau-hieu-co-the-dang-thieu-kem-tram-trong-post1665893.html







