Dari film-film yang mengulang formula yang sudah familiar hingga kebutuhan untuk memikat penonton dengan konten berkualitas, pertanyaannya adalah: Bagaimana sinema Vietnam dapat keluar dari "zona nyamannya" sambil tetap mempertahankan identitasnya?
Keinginan untuk berinovasi menghadapi hambatan praktis.
Faktanya, beberapa tahun terakhir telah menunjukkan bahwa perfilman Vietnam mengalami peningkatan signifikan dalam jumlah film yang dirilis di bioskop, bersamaan dengan rasa "keakraban" dalam banyak karya tersebut.
Tidak sulit untuk menemukan motif yang berulang: drama keluarga, komedi Tahun Baru Imlek, pembuatan ulang skrip asing, atau eksploitasi formula yang sebelumnya sukses. Hal ini sebagian membantu menjaga stabilitas pasar, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang batasan kreativitas dan kemampuan untuk membentuk identitas sinematik yang unik.

"Children in the Mist," yang disutradarai oleh Ha Le Diem, adalah film dokumenter Vietnam pertama yang masuk daftar 15 besar kategori Film Dokumenter Terbaik di Academy Awards ke-95 (2023).
Menurut sutradara Ha Le Diem, setiap proyek baru adalah perjalanan untuk memulai kembali, memaksa para pembuat film untuk terus belajar, terutama ketika ingin bereksperimen dengan pendekatan yang berbeda. Mendekati komunitas baru, latar baru, dan karakter baru membutuhkan riset mendalam; jika tidak, film tersebut akan mudah menjadi klise atau kurang autentik. Oleh karena itu, inovasi bukan hanya tentang mengubah format penceritaan, tetapi juga tentang mengumpulkan pengetahuan dan pengalaman untuk menemukan bahasa sinematik yang tepat.
Dari perspektif para pembuat film muda, keinginan untuk bereksperimen selalu berjalan seiring dengan kendala praktis. Sebuah proyek baru sering kali melibatkan risiko finansial, saluran distribusi yang terbatas, dan tekanan untuk menjangkau khalayak yang lebih luas. Hal ini memaksa banyak sutradara untuk dengan cermat mempertimbangkan aspirasi kreatif mereka terhadap kelayakan film tersebut. Bereksperimen dengan struktur penceritaan, ritme visual, atau desain suara dapat menciptakan perbedaan, tetapi tanpa koneksi emosional, karya tersebut dengan mudah menjadi asing bagi publik.
Menurut sutradara Ha Le Diem, untuk berinovasi tanpa mengasingkan penonton, sangat penting untuk mempertahankan "inti" cerita. Pembuat film dapat bereksperimen dengan bentuk, tetapi emosi harus tetap tulus dan mudah dipahami. Penonton mungkin tidak terbiasa dengan gaya penceritaan baru, tetapi mereka tetap dapat berempati jika cerita tersebut menyentuh pengalaman manusia. Ini dianggap sebagai keseimbangan penting antara kreativitas dan daya terima.
Namun, inovasi bukan hanya upaya individu. Lingkungan pembuatan film juga memainkan peran penting. Menurut Ha Le Diem, sumber daya pendukung seperti dana pengembangan, lokakarya, dan program pendampingan akan membantu para pembuat film bereksperimen dalam "zona nyaman" mereka. Selain itu, sistem distribusi yang beragam, mulai dari festival film dan ruang pemutaran independen hingga platform daring, akan membuka peluang bagi proyek-proyek unik untuk menemukan audiens yang tepat.
Oleh karena itu, keinginan untuk menemukan bahasa sinematik baru melampaui teknik atau genre, mencakup kerinduan untuk menciptakan ciri khas pribadi. Bagi banyak sutradara muda, setiap film adalah dialog dengan penonton, sebuah perjalanan untuk membentuk gaya unik mereka. Seiring dengan meluasnya jangkauan sinema Vietnam ke pasar yang lebih luas, kebutuhan akan suara-suara individual menjadi semakin penting untuk menghindari keseragaman dan menciptakan identitas yang abadi.
Apa yang bisa Anda lakukan untuk keluar dari "zona nyaman" Anda?
Meskipun keinginan untuk berinovasi seringkali berasal dari para profesional itu sendiri, tekanan pasar adalah faktor yang menyebabkan banyak produsen memilih jalan yang sudah familiar.
Dari perspektif praktis, film adalah produk budaya sekaligus proyek investasi, di mana pendapatan menjadi kriteria penting. Seiring meningkatnya biaya produksi, memilih opsi "aman" menjadi dapat dimengerti untuk meminimalkan risiko finansial.

Sutradara Luong Dinh Dung
Menurut sutradara Luong Dinh Dung, penggunaan formula yang sudah familiar secara terus-menerus membuat penonton merasa bahwa banyak film hanya mengulang satu sama lain, sehingga menghambat perjalanan sinema Vietnam ke pasar internasional. Namun, pilihan ini tetap dipertahankan karena reaksi penonton yang sangat mudah diprediksi dan potensi untuk mengembalikan investasi. Genre yang familiar, cerita yang mudah dipahami, atau pembuatan ulang karya-karya sukses seringkali memberikan tingkat kepastian tertentu bagi investor.
Oleh karena itu, pendapatan merupakan faktor penting yang memengaruhi keputusan produksi. Meskipun kreativitas tidak sepenuhnya bergantung pada keuntungan, produser sering memprioritaskan opsi berisiko rendah ketika melakukan investasi besar. Hal ini mengarah pada dilema yang sudah familiar: industri film membutuhkan inovasi untuk berkembang, tetapi setiap proyek eksperimental membawa risiko kegagalan. Dalam konteks ini, menyeimbangkan seni dan komersial menjadi masalah yang sulit.

MSc. Hoang Da Vu
Menurut Ibu Hoang Da Vu (Wakil Direktur Institut Teater dan Film, Universitas Teater dan Film Nasional Vietnam), perfilman Vietnam saat ini tidak kekurangan sumber daya material, tetapi kurang memiliki visi strategis dan ekosistem yang sinkron. Banyak proyek menerima investasi besar dalam teknologi, tetapi kualitas skrip dan kreativitasnya masih belum sebanding. Di satu sisi terdapat genre film komersial yang aman, yang sering mengulang motif; di sisi lain terdapat film eksperimental yang memenangkan penghargaan internasional tetapi kesulitan menjangkau khalayak luas. Polarisasi ini menunjukkan kesenjangan dalam hubungan antara kreativitas dan pasar.
Oleh karena itu, peran penonton menjadi sangat penting. Preferensi penonton secara langsung memengaruhi keputusan produksi, mulai dari genre dan penceritaan hingga skala investasi. Ketika penonton memprioritaskan konten yang familiar, produser cenderung terus mengeksploitasi formula yang telah terbukti berhasil. Sebaliknya, jika publik bersedia menerima eksperimen, pasar akan terbuka untuk proyek-proyek yang berbeda.
Selain itu, sistem kritik film juga berperan dalam membentuk kepekaan estetika. Menurut Ibu Hoang Da Vu, suara profesional saat ini belum cukup kuat, sementara ulasan subjektif di media sosial memiliki pengaruh yang signifikan. Hal ini menyebabkan banyak film didominasi oleh sensasi media daripada nilai artistik. Sistem kritik profesional tidak hanya akan membantu penonton memahami karya secara lebih mendalam, tetapi juga menciptakan forum untuk debat dan mendorong kreativitas.
Dari perspektif yang lebih luas, pertanyaannya adalah apakah penonton benar-benar siap untuk menerima sesuatu yang baru. Mengubah kebiasaan menonton membutuhkan waktu dan keragaman dalam penawaran. Dengan lebih banyak film eksperimental, penonton secara bertahap akan terbiasa dengan bahasa sinematik yang berbeda. Sebaliknya, jika pasar hanya mengulang formula yang sudah ada, kebutuhan akan inovasi kemungkinan besar tidak akan berkembang.
Oleh karena itu, agar sinema Vietnam dapat keluar dari "zona nyamannya," dibutuhkan partisipasi seluruh ekosistem: para pembuat film yang berani bereksperimen, produser yang menerima risiko yang terukur, sistem distribusi yang beragam, kritikus profesional, dan penonton yang lebih berpikiran terbuka.
Sumber: https://phunuvietnam.vn/dien-anh-viet-can-lam-gi-de-thoat-khoi-vung-an-toan-238260411161301649.htm









Komentar (0)