Kampung halaman saya berada di Vietnam Tengah. Ketika saya masih kecil, seluruh wilayah itu mengalami kesulitan ekonomi , dan permen merupakan barang mewah bagi anak-anak saat itu. Oleh karena itu, setiap kali ibu saya mengajak saya ke pasar di kota, makanan favorit saya adalah kelapa kering yang disajikan dengan kerupuk beras.
Para penjual sangat terampil; setiap irisan kelapa putih bersih dipotong menjadi bentuk segitiga dan disusun berlapis-lapis dalam stoples kaca berisi air. Kelapa putih itu terendam dalam air, dan cahaya dari stoples kaca membuat irisan kelapa tampak lebih cerah dan putih, menarik perhatian pelanggan. Diajak ke pasar oleh ibuku dan bisa makan sepotong kelapa kering dengan kerupuk beras—manis, renyah, kaya rasa, dan harum—selalu menjadi hadiah yang luar biasa bagiku.
Kelapa kering iris disajikan dengan lumpia panggang.
Di desa saya, selama musim panas, beberapa anak akan meminta ibu mereka untuk membeli kelapa kering atau memetik kelapa kering dari kebun mereka, mengirisnya, memasukkannya ke dalam baskom aluminium berisi air, lalu mencari tempat teduh di pinggir jalan untuk menjualnya. Anak-anak lain akan berkumpul untuk menonton, sambil ngiler, lalu berlari pulang untuk meminta uang kepada orang tua mereka untuk membeli kelapa kering.
Masa kecil berlalu, ekonomi membaik, anak-anak bisa menikmati makanan yang lebih enak dan eksotis, dan camilan kelapa kering dan lumpia bakar perlahan menghilang dari kampung halaman saya. Dan sudah lama sekali sejak terakhir kali saya makan hidangan ini, hingga hari ini…
Merendam kelapa kering dalam mangkuk berisi air, aku memperhatikan kelapa itu berkilauan di dalam air, dan kenangan masa lalu pun kembali terlintas. Sekarang gigiku sudah lemah, aku hanya berani makan sepotong kecil, sisanya kubiarkan di dalam mangkuk. Ketika air di dalam mangkuk menjadi keruh, aku menggantinya, dan dengan begitu kelapa tetap segar, lezat, dan harum… Saat itulah aku kembali menikmati camilan jadul dari kampung halamanku ini.
Tautan sumber








Komentar (0)