Secara tradisional, makan bersama keluarga adalah benang merah yang menghubungkan antar generasi, tempat untuk mewariskan etiket dan kasih sayang. Tetapi melihat realitas sosial saat ini, saya benar-benar sedih dengan sebuah paradoks: Kita hidup di dunia di mana segala sesuatu saling terhubung, namun kita secara bertahap kehilangan hubungan dengan orang-orang terdekat yang kita cintai. Setiap kali waktu makan tiba, anggota keluarga duduk bersama di meja, tetapi setiap orang asyik dengan dunianya sendiri melalui layar ponsel mereka. Seolah-olah ada tembok yang dibangun di semua sisi, memisahkan anggota keluarga dan membuat waktu makan menjadi sunyi dan terburu-buru, seperti sekadar formalitas untuk memuaskan rasa lapar, atau sekadar duduk di meja karena kewajiban.
![]() |
Makan bersama keluarga adalah benang merah yang menghubungkan antar generasi, tempat di mana tata krama dan kasih sayang diwariskan. (Gambar ilustrasi: thanhnien.vn) |
Kita bisa menghabiskan berjam-jam membalas pesan dari orang asing, menelepon teman, namun kita sangat hemat dalam berucap kepada orang yang melahirkan kita. Tawa dan candaan riang digantikan oleh suara notifikasi pesan, dan kehangatan momen kebersamaan dipadamkan oleh dinginnya kaca. Belum lagi, makanan hangat digantikan oleh kotak bekal praktis atau makanan yang diantar ke rumah, yang kehilangan cita rasa tradisional dari setiap hidangan, rasa unik dari tangan terampil anggota keluarga.
Terlebih lagi, beberapa siswa bahkan tidak ingin makan bersama keluarga mereka karena duduk di meja makan berarti dikritik dan dimarahi oleh orang tua mereka tentang hasil akademik yang tidak memuaskan, kesalahan yang telah mereka buat, dan perbandingan terus-menerus dengan anak-anak lain di meja makan. Orang tua seringkali tetap diam, tidak pernah berbicara atau mendengarkan anak-anak mereka. Apakah makan malam benar-benar diisi dengan sesendok sup manis dan gurih, atau digantikan oleh air mata yang mengalir di pipi anak-anak? Apakah makan malam keluarga benar-benar ada dalam situasi ini? Apakah itu makan malam hangat bersama orang-orang terkasih, ataukah itu sumber ketakutan dan kesepian di rumah mereka sendiri dan di meja mereka sendiri?
Tradisi-tradisi indah bangsa kita ini perlahan memudar dalam pusaran masyarakat modern, tetapi mengapa? Pertama, ada ketidakhadiran para ayah yang selalu sibuk bekerja, bepergian jauh dari rumah, atau bahkan pergi ke luar negeri, sehingga sulit bagi mereka untuk dekat dengan keluarga. Para ibu kewalahan dengan pekerjaan di kantor, khawatir tentang memenuhi kebutuhan hidup dan mengabaikan perasaan anak-anak mereka, bahkan tidak pernah berbicara dengan mereka, mudah tersinggung dan tidak mendengarkan anak-anak mereka, secara bertahap menciptakan jarak yang sangat besar yang sulit untuk dijembatani kembali ke keadaan semula. Di sisi lain, para siswa terjebak dalam persaingan nilai, tekanan belajar, dan ketidakpedulian dari keluarga mereka, mengubah waktu makan menjadi pertempuran, ketakutan besar dan sumber rasa jijik bagi siswa seperti saya yang berada di masa perkembangan.
Selain itu, perkembangan teknologi yang pesat telah menyebabkan kecenderungan orang untuk hidup lebih terisolasi, lebih menyukai komunikasi virtual daripada dialog tatap muka. Lebih jauh lagi, banyak orang keliru percaya bahwa sekadar menyediakan kenyamanan materi saja sudah cukup, melupakan bahwa koneksi emosional adalah fondasi kebahagiaan sejati.
Makan bukan hanya tentang menyediakan energi biologis; tetapi juga merupakan "stasiun pengisian ulang" spiritual. Ini adalah waktu ketika anggota keluarga berkumpul setelah seharian beraktivitas, berbagi cerita suka dan duka, mengungkapkan keluhan, menyelesaikan konflik, dan mengalami momen-momen terbahagia dalam hidup. Pada saat yang sama, makan adalah tempat untuk pengembangan karakter. Mulai dari cara mengatur sumpit, menawarkan makanan, dan berbagi dengan adik-adik… Ini adalah waktu ketika kita belajar pelajaran tentang bakti kepada orang tua, perhatian, dan kepedulian selama makan. Makanan hangat dapat membantu mengurangi kecemasan dan depresi pada remaja – sebuah masalah yang semakin meningkat di era digital.
Untuk menjaga agar api di dapur tetap menyala, dibutuhkan upaya dari semua pihak dan kerja sama semua orang. Dari perspektif keluarga, orang tua harus proaktif menunjukkan perhatian, dorongan, dan dukungan kepada anak-anak mereka, meluangkan waktu untuk berbagi dan mendengarkan mereka, serta menumbuhkan gaya hidup baru – tanpa ponsel di meja makan. Dari perspektif kita masing-masing, alih-alih menenggelamkan diri dalam permainan atau media sosial, mari kita bantu Ibu dengan sayuran, Ayah dengan piring, dan membersihkan setelah makan. Ingat, makan bersama orang-orang terkasih adalah kebahagiaan yang tak terukur. Oleh karena itu, kita perlu menghargai, melestarikan, dan membangunnya agar ikatan keluarga dan makanan hangat dan nyaman tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari.
"Meskipun kita tahu seratus tahun itu terbatas, mengapa kita tidak menjalani hidup sepenuhnya?" Waktu memang tak terbatas, tetapi kehidupan manusia terbatas. Dan makan bersama keluarga mengajarkan kita pelajaran paling berharga tentang keterbatasan. Ketika kita masih pelajar, kita sering berasumsi bahwa meja makan akan selalu ada, bahwa orang tua kita akan selalu menunggu, dan bahwa "tidak hadir" beberapa kali makan adalah hal yang normal. Tetapi kenyataannya, jumlah waktu kita bisa duduk bersama seluruh keluarga mungkin semakin berkurang setiap tahunnya. Menyadari hal ini, pelajaran pertama mungkin adalah penghargaan. Penghargaan bukanlah sekadar kata-kata kosong, tetapi pemahaman bahwa setiap butir beras, setiap hidangan, adalah hasil keringat ayah dan kasih sayang ibu kita. Pelajaran terpenting dalam tindakan bukanlah tentang memasak pesta mewah tanpa kehadiran spiritual, tetapi tentang kehadiran yang penuh kesadaran.
Di zaman di mana kita duduk di sini tetapi pikiran kita berada di tempat lain, setiap siswa perlu belajar bagaimana "melepaskan diri untuk terhubung." Terkadang, pelajaran terbesar tidak ditemukan dalam buku teks, tetapi dalam ajaran dan pengalaman sehari-hari yang dibagikan dengan orang dewasa di meja makan. Lihatlah mangkuk nasi ibumu untuk melihat bagaimana ia memberikan potongan terbaik untukmu; tatap mata ayahmu untuk melihat kekhawatiran dan kelelahan. Dari situ, kita belajar penghargaan, empati, dan pengampunan.
Sebagai generasi penerus negara kita, kita tidak boleh membiarkan modernisasi mengikis nilai-nilai tradisional. Kita perlu memahami bahwa melestarikan makan bersama keluarga berarti melestarikan identitas kita, melestarikan "akar" kita, sehingga ketika kita melangkah ke dunia yang lebih luas, kita tidak akan lupa siapa diri kita.
Kebahagiaan sejati sebuah keluarga terletak pada santapan yang penuh sukacita, lelucon sang ayah, perhatian sang ibu yang menawarkan sepotong daging, atau dukungan, perlindungan, dan dorongan dari orang-orang terkasih. Tidak perlu pesta mewah; yang dibutuhkan hanyalah kehadiran semua wajah yang terkasih.
Sebagai seorang anak muda, saya memilih untuk menghargai setiap momen yang dihabiskan di meja makan, karena di sanalah jiwa saya tetap hangat dan saya tidak merasa tersesat di dunia sehari-hari. "Quynh Anh, turun dan makan!" – panggilan sederhana, tetapi mungkin hal paling sakral yang pernah saya dengar! Sekarang saatnya bagi saya untuk menikmati makan bersama keluarga, bagaimana dengan Anda?
Sumber: https://www.qdnd.vn/van-hoa/doi-song/dung-de-bua-com-gia-dinh-chi-con-trong-ky-uc-1034080







Komentar (0)