• Dengan segenap hati dan rasa syukur yang tak terbatas kepada para Ibu Vietnam yang heroik.
  • Memberikan penghormatan kepada para Ibu Vietnam yang heroik, mereka yang telah berkontribusi pada revolusi.
  • Memberikan penghormatan kepada para ibu Vietnam yang heroik serta para prajurit yang terluka dan sakit.

Darah tertumpah, tetapi semangat kami tetap teguh.

Di rumah kecilnya di dusun Phu Thanh (komune Luong The Tran), Ibu Le Thi Tuy, seorang Ibu Pahlawan Vietnam, sering duduk diam, menatap tangannya yang dipenuhi bekas luka. Di usianya yang sudah lanjut, ingatannya tentang hal-hal sehari-hari tidak lagi tajam, tetapi pemukulan yang diterimanya, dan terutama kisah sepuluh paku yang menusuk ujung jarinya akibat penyiksaan yang dilakukan musuh bertahun-tahun lalu, tetap sejelas seolah-olah terjadi kemarin.

Ibu Tùy bergabung dengan gerakan perlawanan di usia yang sangat muda, usia terindah bagi seorang wanita. Perang merenggut semua yang dimilikinya: suami dan anak-anaknya dikorbankan satu demi satu. Rasa sakit kehilangan itu tidak menghancurkannya, tetapi sebaliknya, itu memicu kebenciannya, mengubah wanita lembut ini menjadi seorang prajurit penghubung yang teguh. Dia menerima setiap tugas, mengibarkan bendera revolusi, melakukan pekerjaan mobilisasi massa, propaganda..., tanpa mempedulikan bahaya yang mengintai.

Selama masa penahanannya, musuh menggunakan segala cara brutal untuk menyiksa ibuku. Tindakan paling biadab adalah memaksanya memukul paku menembus kesepuluh ujung jarinya. Setiap pukulan palu menimbulkan rasa sakit yang menyiksa, dan darah mengalir deras, membasahi tangannya.

Para anggota serikat pemuda dan kaum muda mendengarkan ajaran Ibu Pahlawan Tentara Vietnam, Le Thi Tuy: "Jika kita mengkhianati rekan-rekan kita, kita akan hidup, tetapi hati nurani kita akan mati."

Suara ibuku bergetar saat ia bercerita, "Setiap hari mereka memaksaku untuk memukul kancing kesepuluh ujung jariku. Itu sangat menyakitkan, tetapi aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku harus mengertakkan gigi dan menahannya, aku tidak bisa membiarkan mereka meremehkanku."

Sepanjang hari-hari penyiksaan fisik itu, ibuku tidak meneteskan air mata sekalipun. Ia tidak menangis karena takut atau kesakitan; ia menahan air mata itu sebagai bukti keteguhan hatinya yang tak tergoyahkan dalam menghadapi musuh.

Ketika ditanya mengapa ia bisa begitu berani, ibuku tersenyum lembut dan berkata, "Menjadi seorang revolusioner berarti menerima pengorbanan. Jika aku mengkhianati rekan-rekan seperjuangan, aku akan hidup, tetapi hati nuraniku akan mati."