Vietnam telah mempertahankan eksistensinya bukan hanya melalui darah dan pengorbanan leluhurnya dalam peperangan, tetapi juga melalui rasa kebersamaan yang kuat, cinta terhadap tanah air dan rakyatnya, dari halaman-halaman sejarahnya yang penuh gejolak hingga kontribusi diam-diam di masa damai.
Namun di era baru ini, di mana informasi menyebar lebih cepat daripada pikiran, di mana seseorang dapat terhubung dengan dunia lebih mudah daripada mengobrol dengan tetangganya, pendidikan patriotik tidak dapat terus mengikuti jalan lama yang sama. Pendidikan patriotik membutuhkan pola pikir yang berbeda: lebih tajam, lebih terbuka, lebih berorientasi pada tindakan, dan lebih dekat dengan kehidupan nyata.
Saat ini, mayoritas generasi muda lahir di masa damai, tumbuh di lingkungan yang terintegrasi, memiliki akses awal ke teknologi, berbicara bahasa Inggris lebih baik daripada bahasa Vietnam, dan terkadang lebih memahami perang dunia daripada pertempuran bersejarah leluhur mereka. Ini bukanlah hilangnya akar budaya, seperti yang sering diperingatkan oleh sebagian orang yang bernostalgia.
Itulah konsekuensi tak terhindarkan dari zaman ini. Dan dalam konteks inilah pendidikan patriotik perlu diperbarui agar tidak hilang dari benak generasi muda di tengah hiruk pikuk media sosial, beragam pilihan pribadi, dan kebiasaan hidup digital.
Salah satu keterbatasan yang perlu diakui dengan pikiran terbuka adalah bahwa kegiatan pendidikan patriotik di sekolah saat ini masih sangat condong ke bentuk-bentuk simbolis seperti upacara pengibaran bendera, pembuatan koran dinding selama hari libur, dan kompetisi melukis sejarah, tetapi jarang menciptakan peluang bagi siswa untuk benar-benar "menyentuh" dan mengalami kewarganegaraan. Kegiatan-kegiatan ini tidak salah; sebaliknya, kegiatan-kegiatan ini diperlukan.
Namun, jika pendidikan berhenti sampai di situ, pendidikan akan mudah kehilangan kedalamannya. Kita tidak dapat mengharapkan siswa untuk sepenuhnya memahami nilai kemerdekaan nasional melalui ujian tertulis tentang tanggal 2 September jika mereka belum pernah memiliki kesempatan untuk bersuara membela komunitas mereka, menghadapi konflik sosial yang nyata, atau mengembangkan keterampilan berpikir kritis dalam menghadapi beragam sudut pandang. Oleh karena itu, pendidikan patriotik seharusnya tidak lagi dirancang sebagai proses "penyampaian informasi," tetapi lebih sebagai proses "membangun kompetensi kewarganegaraan."
Patriotisme di abad ke-21 tidak dapat dipisahkan dari tiga elemen: berpikir kritis, perilaku bertanggung jawab, dan kemampuan untuk berintegrasi. Seorang anak muda yang patriotik bukan hanya seseorang yang tahu cara menyanyikan lagu kebangsaan, tetapi juga seseorang yang tahu cara menolak kecurangan akademis, berperilaku sopan di dunia maya, menahan diri dari menyebarkan berita palsu, dan sadar akan pentingnya menjaga citra negara saat berada di luar negeri. Patriotisme bukan lagi sekadar emosi, tetapi perlu dipupuk sebagai keterampilan untuk berkembang di dunia yang penuh godaan, persaingan, dan nilai-nilai yang bertentangan.
Pelajaran kewarganegaraan tentang patriotisme mungkin tidak dimulai dengan cita-cita, tetapi dengan sebuah skenario: Jika Anda adalah seorang siswa yang membuat pernyataan tanpa berpikir di media sosial yang mendistorsi citra Vietnam, apa yang akan Anda lakukan? Kelas yang melampaui sekadar menjawab pertanyaan benar dan salah mengajak siswa untuk berdialog tentang batasan antara kebebasan berbicara dan ekspresi yang bertanggung jawab, antara ego individu dan identitas komunitas. Inilah cara patriotisme diteliti agar dipahami dengan benar dan dihayati secara otentik.
Selain itu, model pendidikan kewarganegaraan modern Singapura merupakan studi kasus yang berharga. Program Pendidikan Nasional memperkenalkan siswa dari sekolah dasar hingga universitas pada topik-topik seperti sejarah, keamanan, dan kebijakan publik melalui kegiatan praktis: simulasi pemilihan umum, konsultasi masyarakat, dan pengembangan kota pintar.
Setiap aktivitas berakar pada identitasnya sendiri dan berorientasi pada dunia. Vietnam tentu dapat belajar dari hal ini, tetapi yang terpenting adalah mengadaptasinya ke dalam konteks budayanya sendiri – di mana tradisi "minum air, mengingat sumbernya" dan semangat kebersamaan masih tertanam kuat di setiap keluarga dan desa.
Namun, akan menjadi suatu kekurangan jika pendidikan patriotik hanya terbatas pada sekolah. Pada kenyataannya, cinta tanah air tidak harus diungkapkan melalui pernyataan-pernyataan besar atau cita-cita luhur. Cinta tanah air hadir dalam pilihan-pilihan kecil namun abadi dalam kehidupan sehari-hari. Seorang sopir bus yang terus-menerus mengembalikan uang kembalian, seorang staf administrasi yang menolak berkompromi dengan kesalahan, seorang ibu yang mengajari anaknya untuk tidak membuang sampah sembarangan – semuanya adalah ekspresi patriotisme yang diam-diam.
Dalam masyarakat modern, di mana orang mudah terbawa arus kehidupan yang serba cepat, justru perilaku-perilaku yang tampaknya biasa inilah yang membentuk fondasi untuk membangun bangsa yang layak huni – di mana disiplin, ketertiban, dan moralitas menjadi identitas nasional, bukan sekadar slogan.
Patriotisme juga tercermin dalam perilaku beradab di tempat umum: mengetahui cara mengantre, menjaga ketertiban di bioskop, meminta maaf setelah terjadi tabrakan… Seorang patriot tidak harus memasang bendera di avatar mereka, tetapi lebih memahami bahwa mereka mewakili komunitas dalam setiap tindakan. Seorang seniman yang menanggapi dengan hormat ketika budaya Vietnam disalahartikan, seorang mahasiswa yang belajar di luar negeri yang menjalani kehidupan yang berbudi luhur di asramanya, seorang ilmuwan yang memilih untuk melakukan penelitian untuk memecahkan masalah bagi negaranya sendiri – semuanya adalah warga negara yang mencintai negaranya dengan cara yang mendalam dan abadi.
Di era di mana AI dapat menulis esai patriotik dengan lancar, yang benar-benar membuat perbedaan adalah apakah para pelajar berani bertindak berdasarkan rasa cinta itu. Oleh karena itu, pendidikan patriotik di era baru perlu menciptakan situasi kehidupan nyata di mana para pelajar memiliki kesempatan untuk hidup sebagai warga negara sejati: untuk memberikan kritik yang membangun, untuk membuat kesalahan dan menerima koreksi, untuk didengarkan, dan untuk diberi tanggung jawab.
Patriotisme, jika dipupuk dengan benar, tidak hanya akan menciptakan generasi yang mencintai negaranya, tetapi juga mencintai kebenaran, moralitas, dan kemanusiaan, karena nilai-nilai ini tidak saling bertentangan. Seorang anak muda yang mencintai negaranya tidak akan terpaku pada masa lalu, tetapi akan tahu bagaimana membangun masa depan. Suatu bangsa tidak hanya tumbuh melalui kemenangan, tetapi juga matang melalui kebaikan rakyatnya, yang diam-diam dan gigih melakukan hal yang benar di banyak momen yang tidak disadari.
Jadi, pada akhirnya, patriotisme terletak pada bagaimana seseorang menjalani setiap hari di tengah pilihan-pilihan yang dapat membahayakan masyarakat, namun tetap memilih untuk hidup dengan integritas. Itulah bentuk patriotisme yang paling sederhana, namun paling abadi.
Sumber: https://giaoducthoidai.vn/giao-duc-long-yeu-nuoc-trong-ky-nguyen-moi-post746665.html






Komentar (0)