Vietnam.vn - Nền tảng quảng bá Việt Nam

Di tengah hari yang gerimis

Ada kalanya kota hanya diguyur gerimis ringan, tidak cukup untuk membasahi pakaian, tetapi cukup untuk membuat suasana hati muram. Pada suatu sore seperti itu, saya bertemu kembali dengan sahabat terbaik saya setelah beberapa tahun ia pergi. Kami bertemu lagi, dengan perasaan bahagia dan sedih, dan menemukan sebuah kafe yang familiar di mana musiknya cukup keras sehingga tidak mengganggu percakapan pribadi kami.

Báo Sài Gòn Giải phóngBáo Sài Gòn Giải phóng07/09/2025

Khang – sahabat yang selalu saya kagumi karena optimisme dan kekuatannya – berbeda hari itu. Suaranya berat saat ia menceritakan kesulitan dalam pekerjaannya, hidupnya, dan hubungan yang retak. Khang berbicara panjang lebar, seperti tong penuh kesedihan yang dikosongkan tanpa kepura-puraan. Ia berbicara tentang pengkhianatan seorang teman, tekanan dari keluarganya, dan kegagalan berturut-turut dari sebuah proyek yang telah ia curahkan segenap hati dan jiwanya. Tidak ada air mata yang mengalir, tetapi suaranya tercekat oleh emosi.

Pada saat itu, saya bisa saja memilih untuk berempati dengan Khang dan berkata, "Benar, mengapa hidup begitu tidak adil! Kasihan kamu!", dan kemudian kami berdua akan terperangkap dalam pesimisme. Tapi saya tidak melakukannya. Saya hanya menatapnya, pada mata Khang yang memerah dan bibirnya yang terkatup rapat, untuk memahami rasa sakitnya, bukan untuk ikut menderita bersamanya. Saya tidak membiarkan diri saya dikuasai oleh energi negatif itu, tetapi menjaga jarak yang cukup untuk mengamati dan merasakan.

Setelah beberapa saat, cerita Khang mereda. Pandangannya melayang ke luar jendela, tempat hujan terus turun dengan deras. Ruangan itu tiba-tiba menjadi sunyi, hanya alunan musik lembut yang tersisa. Aku tahu ini adalah saat di mana sesuatu dibutuhkan. Tapi bukan nasihat atau penghiburan. Aku dengan lembut berkata, "Aku mengerti betapa sulitnya perasaan itu. Tapi ingat ketika aku gagal ujian masuk universitas? Semua orang mengira aku sudah tamat. Tapi kemudian aku menemukan jalan lain. Kamu sama, kamu hanya berada di persimpangan yang sulit, bukan jalan buntu."

Khang mendongak, lalu tersenyum tipis. Itu adalah senyum lega, seolah-olah beban berat telah terangkat.

Pada saat itu, saya tiba-tiba menyadari. Berbicara untuk pendengar bukanlah tentang mengatakan apa yang Anda ketahui atau ingin katakan. Ini tentang kehalusan, karena seni komunikasi, pada akhirnya, adalah sebuah jembatan. Jembatan yang membantu Anda menyeberang untuk memahami orang lain, tetapi tidak terjebak dalam emosi mereka. Anda dapat merasakan penderitaan orang lain, tetapi Anda tidak perlu merasakannya bersama mereka. Anda dapat memahami kegagalan mereka, tetapi Anda tidak perlu menyerah bersama mereka. Seperti seorang dokter, mereka memahami penderitaan pasien, tetapi mereka tidak membiarkan emosi tersebut mengendalikan proses diagnosis. Mereka mempertahankan ketenangan dan rasionalitas mereka untuk menyusun rencana perawatan.

Dan saya menyadari bahwa ketika kita berbicara untuk pendengar, itu bukan hanya tentang memilih kata-kata, menyesuaikan volume, atau kecepatan. Itu adalah perjalanan kecerdasan emosional secara keseluruhan. Ini tentang berempati tanpa mengidentifikasi, mendengarkan tanpa menghakimi, dan memberi tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Ini tentang belajar menuangkan air secukupnya ke dalam cangkir orang lain—tidak meluap, tidak kosong—sehingga mereka dapat dengan nyaman mengambilnya dan meminumnya sampai habis.

Itulah makna sebenarnya dari sebuah percakapan. Ini bukan sekadar pertunjukan untuk kita berdua saja, melainkan pengalaman yang bermakna bagi kita berdua.

Sumber: https://www.sggp.org.vn/giua-ngay-mua-lat-phat-post811929.html


Komentar (0)

Silakan tinggalkan komentar untuk berbagi perasaan Anda!

Dalam topik yang sama

Dalam kategori yang sama

Dari penulis yang sama

Warisan

Angka

Bisnis

Berita Terkini

Sistem Politik

Lokal

Produk

Happy Vietnam
"Perhiasan kerang – keindahan dari laut"

"Perhiasan kerang – keindahan dari laut"

Negara di hatiku

Negara di hatiku

5

5