![]() |
| Perpustakaan komunitas di Mangrove Sinchon dirancang berdasarkan model hunian bersama (co-living) di Seoul. (Sumber: MGRV) |
Enock Kim, 29 tahun, seorang pekerja kantoran jarak jauh di bidang manajemen produk, pernah mengalami kesepian yang mendalam karena hidup sendiri di kota besar. Tinggal sendirian di apartemen kecilnya, ada hari-hari di mana ia hampir tidak berbicara dengan siapa pun. Sejak pindah ke Mangrove Sinchon, sebuah ruang hunian bersama di Seoul, Kim memiliki ruang pribadinya sendiri sambil tetap memiliki kesempatan untuk bertemu orang-orang di area umum atau berpartisipasi dalam kegiatan komunitas.
Revolusi perumahan
Menurut The Korea Times , karena meningkatnya biaya hidup, terutama di kota-kota besar seperti Seoul, konsep "rumah" mengalami perubahan signifikan. Bagi kaum muda lajang, rumah bukan hanya tempat beristirahat setelah bekerja atau sekolah, tetapi juga harus aman, nyaman, dan mampu membina hubungan sosial.
Pergeseran ini merevolusi perumahan dan mendorong perkembangan model hunian bersama (co-living). Dalam model ini, penghuni, selain ruang hidup independen mereka sendiri, dapat memanfaatkan fasilitas seperti dapur umum, perpustakaan, ruang belajar, bioskop, pusat kebugaran, dan area bersama.
Daya tarik model hunian bersama (co-living) terletak pada kenyataan bahwa penghuni dapat menjaga privasi mereka sekaligus memperkuat hubungan sosial mereka. Misalnya, di Mangrove Sinchon, kegiatan seperti makan bersama , pemutaran film, jogging, dan lokakarya diadakan secara rutin, menciptakan peluang interaksi antar penghuni, dan yang terpenting, semua kegiatan ini bersifat sukarela. Ini adalah perbedaan utama dari model sewa tradisional, di mana penghuni tinggal terpisah di ruang mandiri, menyepakati kontrak sewa dan menikmati fasilitas dasar.
Korea Times mencatat bahwa popularitas hunian bersama (co-living) di Seoul terkait dengan fluktuasi pasar perumahan Korea Selatan. Selama bertahun-tahun, "jeonse" adalah model sewa populer di mana penyewa menyetorkan sejumlah besar uang kepada pemilik rumah untuk mendapatkan pengurangan atau penghapusan biaya sewa bulanan, sementara pemilik rumah mendapatkan modal tanpa bunga. Namun, model ini sekarang berada di bawah tekanan karena risiko keuangan dan kasus penipuan deposit mengikis kepercayaan penyewa.
Bagi kaum muda, terutama mahasiswa atau mereka yang baru memulai karier, menyiapkan uang muka yang besar bukanlah hal mudah. Bahkan jika mereka memiliki cukup uang untuk uang muka, mereka tetap harus mempertimbangkan risiko kehilangan keamanan finansial di pasar kerja yang tidak stabil.
![]() |
| Dapur bersama di sebuah ruang hunian bersama di Seoul. (Sumber: MGRV) |
Dalam konteks ini, sewa bulanan telah menjadi pilihan yang lebih populer. Menurut data dari Mahkamah Agung Korea, dari sekitar 250.000 kontrak sewa yang ditandatangani di Seoul pada kuartal pertama tahun 2026, sewa bulanan mencapai 70,5%, sebuah rekor tertinggi. Hal ini menunjukkan pergeseran yang jelas dalam keputusan sewa penduduk perkotaan, terutama kaum muda.
Seiring dengan itu, jumlah rumah tangga yang dihuni satu orang di Korea Selatan terus meningkat pesat, mencapai 8,05 juta pada tahun 2024, atau 36,1%. Seiring bertambahnya jumlah orang yang hidup sendiri, kebutuhan perumahan meluas melampaui sekadar memiliki tempat tinggal; penyewa juga memperhatikan keamanan, pengelolaan layanan, transportasi yang nyaman, dan konektivitas komunitas.
Oleh karena itu, properti co-living seringkali berlokasi di dekat universitas, area komersial, atau pusat transportasi, yang menargetkan mahasiswa, lulusan baru, dan para lajang. Kelompok ini memiliki permintaan tinggi akan akomodasi yang fleksibel tetapi tidak ingin berurusan dengan masalah yang muncul dari menyewa rumah pribadi, mulai dari pemeliharaan dan keamanan hingga kontrak dan pengelolaan utilitas.
Biaya sewa bulanan di ruang hunian bersama (co-living) tidak murah, biasanya berkisar antara 1 juta hingga 1,5 juta Won (sekitar $665-$996 USD). Namun, bagi sebagian penyewa, harga ini dapat diterima karena sudah termasuk layanan manajemen, fasilitas bersama, kontrak yang fleksibel, lokasi yang strategis, dan kegiatan komunitas. Dengan kata lain, mereka tidak hanya membayar untuk ruang itu sendiri, tetapi juga untuk paket layanan yang lebih lengkap dan lingkungan tempat tinggal yang lebih baik.
Keamanan juga merupakan faktor penting. Korea Times melaporkan bahwa perempuan saat ini составляет 68% dari penghuni Mangrove Sinchon. Sistem kata sandi yang diperbarui secara berkala, peringatan aplikasi, dan layanan manajemen terpusat membantu penghuni, terutama perempuan yang tinggal sendirian, mengurangi kecemasan mereka.
Tren perkotaan
![]() |
| Warga Mangrove Sinchon berpartisipasi dalam acara makan bersama komunitas. (Sumber: MGRV) |
Konsep hunian bersama (co-living) di Seoul tidak hanya populer di kalangan warga Korea, tetapi juga menarik mahasiswa internasional, pekerja lepas digital, dan penghuni jangka pendek untuk belajar, bekerja, atau keperluan pribadi. Di Mangrove Sinchon, penghuni asing mencapai 37% dari total penyewa.
Bagi warga asing, hambatan terbesar saat menyewa di Korea Selatan adalah bahasa, prosedur, dan uang jaminan. Kontrak tradisional seringkali dalam bahasa Korea dan membutuhkan uang jaminan yang besar, berpotensi melebihi 10 juta Won (sekitar $7.000 USD). Sementara itu, asrama universitas seringkali memiliki ruang terbatas, dan Gosiwon, kamar-kamar kecil dan murah yang sering digunakan oleh calon peserta ujian, terlalu sempit untuk tinggal dalam jangka panjang.
Dalam konteks ini, co-living menjadi alternatif yang masuk akal. Model ini menawarkan kontrak yang jelas, ketentuan yang fleksibel, dukungan berbahasa Inggris, memungkinkan pemesanan online sebelum kedatangan, dan memungkinkan melihat kamar melalui teknologi realitas virtual. Bagi mahasiswa internasional, co-living juga memfasilitasi integrasi budaya melalui kegiatan komunitas bersama.
Dari perspektif pasar, konsep co-living di Korea Selatan masih dalam tahap pengembangan, tetapi skala ekspansinya meningkat pesat. Hingga November 2025, Seoul memiliki 47 fasilitas co-living dengan total 8.491 unit, yang dioperasikan oleh operator swasta seperti Mangrove by MGRV, Episode by SK D&D, dan Homes Company.
Pengembangan model ini juga telah menarik investor internasional, termasuk Canada Pension Plan Investment Board (Kanada) dan GIC Singapura. Hal ini menunjukkan bahwa co-living bukan hanya tren gaya hidup bagi kaum muda, tetapi juga dipandang sebagai segmen real estat dengan potensi jangka panjang.
Dari kisah Seoul, kita dapat melihat bahwa perumahan di kota-kota besar secara bertahap mengalami redefinisi. Kaum muda tidak hanya membutuhkan sebuah kamar, tetapi juga lingkungan tempat tinggal yang aman, fleksibel, dengan layanan dan konektivitas yang memadai.
Oleh karena itu, co-living bukan sekadar model sewa baru, melainkan solusi pasar terhadap perubahan struktur keluarga, gaya hidup perkotaan, dan kebutuhan sosial.
Sumber: https://baoquocte.vn/han-quoc-ro-trao-luu-song-chung-kieu-moi-396257.html











Komentar (0)