Menurut Dr. Ngo Duc Phuong, Direktur Institut Pengobatan Tradisional , banyak orang menganggap buah naga (Hylocereus undatus) hanya sebagai buah yang menyegarkan dan pencahar. Namun, di banyak daerah pedesaan di masa lalu, tidak hanya buahnya tetapi juga bunga buah naga digunakan sebagai makanan dan obat tradisional.
Menurut Dr. Phuong, orang sering memetik bunga muda untuk dimasak dalam sup, ditumis dengan bawang putih, atau ditambahkan ke dalam sup panas. Di beberapa tempat, mereka juga mengeringkan bunga untuk membuat minuman yang membantu mengobati bronkitis, limfadenitis tuberkulosis, tuberkulosis paru, atau untuk meredakan mabuk.
Meskipun pengobatan tradisional ini diwariskan melalui cerita rakyat, para ahli menyarankan agar orang-orang tidak menganggapnya sebagai pengganti perawatan medis.

Dari perspektif nutrisi modern, buah naga dianggap sebagai buah yang kaya akan air, mengandung banyak serat larut, vitamin C, dan antioksidan seperti polifenol dan betalain, pigmen yang memberikan warna merah keunguan khas pada buah naga berdaging merah.
Secara khusus, biji-biji kecil di dalam buah mengandung jumlah minyak lemak tak jenuh yang relatif baik. Berkat komponen ini, buah naga sering dianggap sebagai buah yang cocok bagi mereka yang menginginkan camilan, untuk menambah serat, atau untuk membantu pencernaan.
"Banyak orang punya kebiasaan makan buah naga ketika mengalami panas dalam atau sembelit, dan ada dasar tertentu untuk itu. Buah naga kaya akan air dan serat, sehingga dapat membantu melancarkan buang air besar dan melunakkan feses," kata Dr. Phuong.
Menurutnya, dalam tradisi rakyat, buah naga sering dianggap sebagai buah "pendingin", yang membantu menenangkan tubuh saat cuaca panas. Namun, konsep "pendingin" tidak sama dengan kemampuannya untuk menyembuhkan penyakit.
"Jika sembelit berlanjut atau ada masalah pencernaan yang mendasarinya, orang-orang tetap perlu diperiksa dan diobati oleh spesialis," tegas pakar tersebut.
Dr. Phuong mencatat bahwa seseorang tidak boleh mengonsumsi terlalu banyak buah naga sekaligus, terutama varietas yang berdaging merah. Beberapa orang mungkin mengalami kembung atau diare ringan jika mengonsumsi terlalu banyak.
Selain itu, penderita diabetes juga perlu mengontrol asupan makanan mereka dengan tepat. Banyak orang keliru percaya bahwa buah naga tidak terlalu manis dan dapat dimakan bebas, tetapi buah ini tetap mengandung gula alami dan dapat memengaruhi kadar gula darah jika dikonsumsi secara berlebihan.
Sumber: https://vietnamnet.vn/hoa-qua-thanh-long-duoc-dung-lam-mon-an-vi-thuoc-2516640.html








Komentar (0)