Di pagi hari di komune Lam Thuong, kabut tipis menyelimuti lereng gunung, dan suara gemericik aliran sungai berpadu dengan irama damai kehidupan desa. Dalam suasana ini, rumah-rumah panggung suku Tay tampak sederhana namun hangat. Tidak mewah atau mencolok, justru pesona pedesaan inilah yang menciptakan rasa keintiman dan ketenangan, menarik banyak wisatawan untuk memilih tempat ini sebagai tujuan mereka.

Sebagian besar homestay di sini mempertahankan arsitektur tradisionalnya: atap jerami, lantai kayu, dan tangga kayu yang menuju ke ruang keluarga bersama. Di dalam, barang-barang yang familiar masih ada, mulai dari perapian dan alat tenun hingga meja dan kursi sederhana. Setiap detail tidak hanya berfungsi untuk kehidupan sehari-hari tetapi juga merupakan bagian dari kenangan, menceritakan kisah kehidupan, pekerjaan, dan adat istiadat masyarakat Tay dari generasi ke generasi.
Ibu Hoang Thi Nay, pemilik Dung Phieu Homestay di desa Nam Chan, berbagi: "Wisatawan datang tidak hanya untuk bersantai tetapi juga untuk belajar dan merasakan kehidupan masyarakat setempat. Oleh karena itu, mulai dari makanan hingga keramahan, semua adat dan tradisi dilestarikan sebagaimana adanya."
Itulah yang menciptakan pengalaman yang benar-benar unik. Wisatawan bukan hanya tamu; mereka menjadi bagian dari keluarga, memasak bersama tuan rumah, memetik sayuran, menenun, atau berkumpul di sekitar perapian untuk mendengarkan cerita. Hal-hal yang tampaknya sederhana ini menjadi daya tarik utama, karena menawarkan pengalaman otentik yang tidak semua jenis pariwisata dapat berikan.



Dalam beberapa tahun terakhir, komune Lam Thuong secara proaktif mengembangkan pariwisata berbasis komunitas, dengan fokus pada budaya. Dari beberapa model awal, komune ini sekarang memiliki lebih dari 10 homestay, bersama dengan banyak kelompok seni pertunjukan tradisional, yang menarik puluhan ribu pengunjung setiap tahunnya. Angka ini tidak hanya mencerminkan daya tarik destinasi tersebut tetapi juga menunjukkan arah yang tepat dalam menghubungkan pengembangan pariwisata dengan pelestarian identitas budaya kelompok etnis Tay.

Menurut Bapak Au Van Tinh, Ketua Komite Front Persatuan Nasional Vietnam di komune Lam Thuong, prinsip utama di Lam Thuong adalah mengembangkan pariwisata tanpa kehilangan warisan budayanya. Warga setempat didorong untuk melestarikan rumah panggung tradisional, adat istiadat, dan kehidupan sehari-hari mereka. Keaslian inilah yang menciptakan keunikan dan nilai berkelanjutan dari pariwisata lokal.
Setelah meninggalkan Lam Thuong dan tiba di wilayah Muong Lo – yang dianggap sebagai tempat lahirnya budaya etnis Thai – pengunjung akan memasuki ruang budaya dengan karakter yang lebih hidup dan kaya. Sementara wilayah Tay dicirikan oleh kesederhanaan dan ketenangan, di sini, budaya diekspresikan melalui warna-warna cerah, dekorasi, kostum, dan kehidupan sehari-hari.

Setiap homestay bagaikan "museum hidup"—tempat di mana budaya tidak dipajang dalam etalase kaca, tetapi hadir dalam kehidupan sehari-hari. Kain brokat yang semarak, pakaian tradisional, cara tamu disambut, dan kegiatan komunitas semuanya mencerminkan ciri khas budaya etnis Thailand.
Di Muong Lo, kuliner merupakan bagian tak terpisahkan dari pengalaman wisata. Santapan berupa nasi ketan Tu Le, pa pinh top (hidangan lokal), daging asap, atau sup rebung tidak hanya menarik karena rasanya, tetapi juga mewujudkan pengetahuan tradisional, praktik produksi, dan cara berinteraksi dengan alam dari masyarakat setempat.


Menurut Bapak La Minh Tien, seorang pejabat dari Dinas Kebudayaan dan Urusan Sosial Kelurahan Trung Tam, homestay saat ini bukan hanya tempat menginap, tetapi juga ruang di mana wisatawan dapat sepenuhnya merasakan budaya, mulai dari kuliner dan gaya hidup hingga komunikasi. Setiap detail, sekecil apa pun, berkontribusi pada pengalaman yang lengkap.
Patut dicatat bahwa banyak pemilik homestay telah menjadi "pendongeng" sejati. Mereka tidak hanya melayani tamu tetapi juga secara proaktif memperkenalkan makna dari setiap pola, adat istiadat, dan hidangan. Ketulusan, kesederhanaan, dan pemahaman mendalam mereka tentang budaya telah membuat setiap cerita menjadi lebih hidup dan mendalam.

Tidak hanya terbatas pada beberapa lokasi, model homestay yang terkait dengan budaya lokal semakin banyak ditiru di Lao Cai. Jenis akomodasi ini tidak hanya menciptakan mata pencaharian bagi masyarakat tetapi juga berkontribusi pada pelestarian dan pewarisan nilai-nilai tradisional yang berisiko punah.


Menurut Ibu Dinh Thi Huyen, Direktur Pusat Kerja Sama Pembangunan Barat Laut, sangat menggembirakan bahwa masyarakat semakin menyadari peran budaya dalam pengembangan pariwisata. Tidak lagi menjadikan pariwisata sebagai tren sesaat, banyak homestay secara proaktif melestarikan identitas unik mereka, menganggapnya sebagai elemen inti untuk pembangunan jangka panjang.
Pada kenyataannya, ketika budaya ditempatkan di pusat, pariwisata tidak hanya berkembang tetapi juga menjadi berkelanjutan. Wisatawan datang tidak hanya untuk bersantai tetapi juga untuk belajar, terhubung, dan mendapatkan pengalaman. Dan nilai-nilai lokal yang sederhana namun unik inilah yang menciptakan daya tarik unik dari dataran tinggi.

Dari rumah panggung sederhana hingga ruang-ruang yang semarak, setiap homestay menceritakan kisah budaya dengan caranya sendiri yang unik. Di sana, budaya tidak terbatas, tetapi hadir dalam setiap hidangan, setiap rutinitas harian, setiap kata, dan setiap tawa.
Penginapan rumahan (homestay), yang dulunya hanya tempat menginap, kini telah menjadi gudang kenangan, tempat untuk menghubungkan orang-orang, dan tempat untuk menyebarkan nilai-nilai tradisional. Kisah-kisah sederhana, tenang namun abadi ini berkontribusi pada vitalitas pariwisata dataran tinggi saat ini dan di masa depan.
Sumber: https://baolaocai.vn/homestay-ke-chuyen-van-hoa-post898212.html






Komentar (0)