Oh, betapa aku merindukan ladang setelah panen!
Burung pipit bergerombol menukik turun untuk memungut butir-butir beras yang jatuh.
Aroma jerami yang baru dipanen tercium, bercampur dengan cahaya matahari keemasan.
Baunya sangat menyengat seperti keringat asin.
Di suatu tempat di dekat sini, aku mendengar seseorang tertawa terbahak-bahak?
Ribuan layang-layang melayang tinggi dihembus angin.
Seribu layang-layang membawa mimpi indah.
Seperti permen yang berkilauan, warnanya membangkitkan kenangan.
Oh, aku sangat merindukan asap menyengat dari sawah, sampai-sampai membuat mataku perih!
Aroma samar ikan gabus bakar yang dimasak di atas jerami tercium di udara.
Anggur beras yang kuat dan harum itu terlalu kuat untuk diminum.
Airnya berkilauan dengan aroma rumah yang begitu harum.
Suara langkah kaki berhamburan di ladang yang sepi.
Kodok berbunyi keras di malam yang hujan.
Angin timur laut bertiup, mewarnai bunga-bunga liar menjadi kuning.
Ikan yang melimpah di tepi sungai menggerakkan bulan sabit di langit larut malam.
Tanah berguncang menyambut angin sepoi-sepoi perayaan Tet.
Ladang-ladang hijau itu kini diselimuti warna baru.
Sawah-sawah itu tampak halus dan ramping seperti pinggang seorang gadis muda.
Aroma lembut nasi ketan sangat memikat.
Tanah mencintai penduduknya, sehingga ia berupaya untuk tumbuh dan berkembang.
Dia meniupkan jiwanya ke dalam bumi siang dan malam.
Aroma bumi memenuhi udara dengan limpahan cinta.
Keringat meresap diam-diam ke dalam tanah, mengubahnya menjadi puisi.
BENIH MISTIS
Sumber






Komentar (0)