Apa yang terjadi di Bali hanyalah sebagian dari krisis sampah di Indonesia. Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengatakan Indonesia menghasilkan 56,6 juta ton sampah setiap tahunnya. Negara Asia Tenggara ini memiliki 550 tempat pembuangan sampah, yang diperkirakan akan mencapai kapasitas maksimum pada tahun 2030 jika tidak ada perbaikan yang dilakukan.
Menurut Bapak Hanif, tingkat pengelolaan sampah di Indonesia diproyeksikan mencapai hampir 25% pada tahun 2025, yang berarti tiga perempat sampah tetap tidak diolah dan sering dibuang di tempat pembuangan sampah terbuka, sungai, atau dibakar, sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan.
Untuk mengatasi masalah ini, Presiden Prabowo Subianto menyatakan pengelolaan sampah sebagai prioritas nasional. Pemimpin Indonesia tersebut menekankan bahwa sampah harus dikendalikan dalam jangka waktu 2-3 tahun. Sebagai bagian dari upaya ini, pemerintah Indonesia berencana meluncurkan lima proyek pembangkit listrik tenaga sampah di kota Denpasar, Bekasi, Bogor, Bandung, dan Yogyakarta. Saat ini, Indonesia memiliki dua pembangkit listrik tenaga sampah di kota Surabaya dan Solo.
“Program ini bertujuan untuk mengurangi sampah di tempat pembuangan akhir sekitar 33.000 ton per hari pada tahun 2029, setara dengan 22,5% dari total sampah nasional. Dalam jangka panjang, diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat, mendorong perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah, dan memperkuat peran daerah dalam mendukung transisi menuju ekonomi sirkular dan pembangunan berkelanjutan,” kata Muhammad Qodari, mantan Kepala Staf Presiden Indonesia.
Namun, menurut para ahli, proyek-proyek yang disebutkan di atas dianggap tidak cukup untuk menyelesaikan masalah sampah di Indonesia, dan negara ini perlu menerapkan solusi yang layak dan disesuaikan dengan setiap daerah, seperti Jakarta, yang memiliki populasi besar dan banyak masalah pengelolaan sampah. Diketahui bahwa sejak 10 Mei, pemerintah Jakarta telah mewajibkan warga untuk memilah sampah dan berencana membangun pabrik untuk menghasilkan bahan bakar dari sampah.
Selama ini, sampah Jakarta diangkut ke Bantargebang, tempat pembuangan sampah seluas 110 hektar di Kota Bekasi dan merupakan tempat pembuangan sampah terbesar di Indonesia. Setiap hari, tempat ini menerima 7.400-8.000 ton sampah Jakarta, yang diproyeksikan akan menghasilkan 3,2 juta ton pada tahun 2024. Namun, menyusul tanah longsor di Bantargebang pada 8 Maret yang menewaskan tujuh orang, pemerintah Indonesia ingin Bantargebang berhenti menerima sampah campuran sebelum mulai menerima sampah yang dipilah (bahan yang dapat didaur ulang, dapat didaur ulang, dan dapat terurai secara hayati) mulai 1 Agustus.
Masalah sampah di Jakarta juga terlihat jelas di Sungai Ciliwung, yang mengalir melalui pusat kota Jakarta. Sejak lama, sungai ini tersumbat oleh sampah rumah tangga, sampah plastik, dan polutan lainnya, yang menyebabkan seringnya terjadi banjir.
TRI VAN (Menurut CNA)
Sumber: https://baocantho.com.vn/indonesia-vat-lon-voi-cuoc-khung-hoang-rac-thai-a206229.html









Komentar (0)