Bapak Sayasone Phokham, Anggota Komite Tetap Komite Partai Kota, Wakil Ketua Komite Pemerintah Ibu Kota Vientiane, Laos: Pada tahun 2030, Vientiane akan menjadi kota yang hijau, terhubung, dan inklusif.

Pada tahun 2030, populasi Vientiane diproyeksikan mencapai 1,3 juta jiwa. Kota ini bertujuan untuk menghubungkan sembilan distrik/kota melalui infrastruktur transportasi terpadu, mengurangi emisi karbon sebesar 30%, dan meningkatkan ruang hijau hingga 45% dari wilayah perkotaan. Namun, Vientiane menghadapi berbagai tantangan seperti urbanisasi yang cepat, infrastruktur transportasi yang tidak memadai, risiko banjir, proliferasi kawasan permukiman spontan, dan penurunan ruang hijau. Untuk mengatasi masalah ini, kota ini sedang mengembangkan strategi berdasarkan lima pilar: konektivitas hijau, transportasi inklusif, ketahanan terhadap perubahan iklim, layanan publik yang adil, dan tata kelola perkotaan yang cerdas.
Antara tahun 2026 dan 2030, Vientiane akan menerapkan jaringan BRT (Bus Rapid Transit), membangun jalan layang hijau, memperluas transportasi umum, dan mengembangkan ekosistem kendaraan listrik. Secara bersamaan, kota ini akan fokus pada perluasan ruang hijau, restorasi lahan basah, penanaman 50.000 pohon, dan pengembangan solusi pengendalian banjir berbasis alam. Strategi ini juga menekankan kesetaraan sosial, memastikan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, mengembangkan perumahan hijau yang terjangkau, dan mempromosikan partisipasi masyarakat dalam perencanaan kota dan pemantauan lingkungan. Total anggaran untuk implementasi diperkirakan sebesar US$450 juta, dengan dukungan dari berbagai organisasi internasional seperti Bank Dunia, ADB, UNDP, JICA, dan Uni Eropa.
Dr. Bernadia Irawati Tjandrandewi, Sekretaris Jenderal Uni Kota dan Pemerintah Daerah Asia-Pasifik (UCLG ASPAC): Hanya melalui upaya kolektif kita dapat memastikan masa depan yang layak huni.

- Urbanisasi yang pesat menyebabkan kesulitan bagi banyak kota. Hampir 1,7 juta orang telah meninggalkan Delta Mekong dalam dekade terakhir, sebagian karena tekanan iklim yang memengaruhi mata pencaharian mereka. Ini bukanlah tantangan konseptual, melainkan realitas yang dihadapi pemerintah daerah setiap hari.
Di UCLG ASPAC, Proyek Urban-Act menghubungkan kota-kota dengan sumber pendanaan internasional, mengimplementasikan program peningkatan kapasitas, dan membangun platform pembelajaran antar-kota di kawasan ini. Hal ini juga berkontribusi untuk meningkatkan ketahanan kota terhadap dampak perubahan iklim. Lebih lanjut, melalui Proyek Urban-Act di bawah UCLG ASPAC, kami menghubungkan kota-kota dengan peluang pendanaan internasional, mengimplementasikan program pelatihan peningkatan kapasitas yang terfokus, dan mempromosikan platform pembelajaran antar-kota yang sistematis. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat kapasitas tata kelola perkotaan tetapi juga meningkatkan kemampuan adaptasi kota terhadap dampak perubahan iklim yang semakin meningkat.
Entah kita menyebutnya "solidaritas besar," atau sekadar pepatah "seikat sumpit lebih sulit patah daripada satu sumpit," pesannya tetap jelas: setiap kota kita kuat, tetapi upaya kolektif kitalah yang dapat memastikan masa depan yang layak huni dan "bermartabat" bagi generasi mendatang di wilayah Mekong.
KHANH NAM (ringkasan)
Sumber: https://baocantho.com.vn/ket-noi-do-thi-thuc-day-phat-trien-xanh-toan-dien-a205309.html









Komentar (0)